Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MIND READER: HUSH
Suka
Favorit
Bagikan
8. CHAPTER 7: BUNGKAM
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

CHAPTER 7: BUNGKAM


INT. PERON BAWAH TANAH — MALAM

Lilin-lilin dinyalakan ulang di sekeliling spiral kapur. Arga duduk bersila di pusatnya. Baskara berlutut di belakangnya, satu tangan di bahu Arga. Di anak tangga paling bawah, Kirana berdiri dengan lengan terlipat. Ia menolak pergi.

KIRANA

Aku tetap di sini.

BASKARA

(tanpa menoleh)

Silakan. Tapi jangan bersuara selama hitungan.

BASKARA

(ke arah Kirana, datar)

Kamu tahu dinding kalian akan saling menyambung, bukan? Itu bukan hukuman. Itu cara kalian saling menopang.

Kirana tidak menjawab. Rahangnya mengeras.

BASKARA

(kepada Arga, tenang)

Tutup matamu. Tarik napas, empat hitungan. Tahan, tujuh. Lepas, delapan. Ikuti ketukanku.

Jari Baskara mengetuk bahu Arga: tiga, jeda, dua. Arga mengikuti napasnya. Dahi berkerut, rahang mengeras.

SOUND DESIGN: Bisikan-bisikan kota, yang selalu ada di kepalanya, mulai tersedot ke satu titik, seperti air yang diputar keluar dari bak mandi. Suara-suara itu mengecil, mengecil, berputar, lalu tidak ada.

Kamera bergerak dalam ke wajah Arga. Bola lampu berhenti berkedip. Semuanya tenang.

Arga membuka mata. Ia menangis, dan tersenyum.

ARGA

(terengah, takjub)

Sunyi. Benar-benar sunyi.

Kirana menatap dari tangga. Ia tidak tersenyum. Ia melihat sesuatu yang belum disadari Arga: air matanya jatuh, tapi wajahnya tidak berubah sedikit pun, seperti topeng yang basah.

CATATAN SUTRADARA: mulai dari adegan ini, voice-over Arga sengaja dihilangkan dan baru kembali di adegan terakhir.


EXT. JALAN RAYA KOTA — PAGI

Arga berjalan tegak menembus keramaian, tanpa menghitung ubin, tanpa menunduk. Orang-orang bersinggungan dengannya dari kiri dan kanan, dan tak satu pun bisikan menyentuh.

Kamera merekam dari sudut pandangnya: bibir-bibir orang bergerak, tapi tidak ada suara batin. Hanya dunia dengan suara luar yang datar.

Seorang ANAK KECIL menjatuhkan es krim ke aspal dan menangis. Ibunya membujuk. Arga berhenti dan menatap anak itu. Kamera menahan wajahnya.

Tidak ada iba. Tidak ada geli. Tidak ada apa-apa.

Di belakangnya, di seberang jalan, Kirana mengikuti dari jauh. Ia melihat semuanya.


INT. WARUNG MAKAN — SIANG

Arga duduk di sudut warung yang penuh pekerja kantoran. Nasi goreng datang. Ia menyuap. Rasa asin ada di lidahnya, tapi tidak ada "enak", tidak ada "tidak enak". Hanya informasi.

Di meja sebelah, sekelompok karyawan tertawa keras. Arga mengamati mulut mereka yang terbuka lebar. Ia tahu itu tawa. Ia tidak merasakannya.

Kirana duduk di meja paling jauh, tidak memesan apa pun, hanya mengawasi. Buku catatan kecilnya terbuka di depannya. Ia menulis sesuatu, lalu mencoretnya.


INT. GUDANG ARSIP BAWAH TANAH — SIANG

Dimas menghampiri Arga dengan canggung, tangan di saku.

DIMAS

Ga. Soal kemarin-kemarin... laporan itu. Gue udah beresin. Sori ya, gue sempat nyebelin.

ARGA

Oh.

DIMAS

(menunggu sesuatu, tidak dapat)

Lo marah?

ARGA

(setelah jeda panjang)

Aku tidak tahu.

Dimas menatapnya seperti menatap orang asing dengan wajah sahabatnya. Arga meletakkan tangan di dadanya, memeriksa, mencari sesuatu, dan tak menemukan apa-apa.


EXT. TAMAN KOTA — SORE

Baskara duduk di bangku taman dengan payung terlipat di pangkuan, menyebar remah roti untuk merpati. Arga duduk di sampingnya, tegak dan kaku. Ia tidak menoleh.

BASKARA

Bagaimana rasanya?

ARGA

Sunyi.

BASKARA

Dan?

ARGA

(datar)

Tidak ada yang lain. Aku tidak marah, tidak sedih, tidak apa-apa. Bapak bilang tidak ada harga yang harus dibayar.

Baskara terdiam. Remah roti di tangannya jatuh satu per satu. Arga mencoba mendengar isi kepala lelaki itu, tapi dindingnya sendiri menutup semuanya. Ia tidak bisa membaca apa pun dari wajah tua itu.

BASKARA

(tenang, terlalu tenang)

Yang kamu rasakan bukan harga, Nak. Itu tanda dindingnya berhasil. Semakin dalam, semakin aman. Besok kita perkuat.

Ia tersenyum lembut. Tapi tangannya mencengkeram gagang payung sampai gemetar. Arga tidak melihatnya. Kamera melihatnya.


INT. KAMAR KOS ARGA — MALAM

Arga duduk di tepi kasur, memandang tembok. Jam berdetak. Ia mencoba berpikir. Bibirnya bergerak.

ARGA

Aku lapar.

Ia menunggu rasa lapar itu datang. Tidak datang.

ARGA

Kirana.

Ia menunggu hangat yang dulu muncul setiap kali menyebut nama itu. Tidak datang.

Ia mengetukkan pola Hush sebaliknya, dua lalu tiga, mencoba merobohkan dindingnya sendiri. Tidak ada yang runtuh. Matanya melebar, bukan karena rasa takut, melainkan karena sadar bahwa ia seharusnya takut, dan tak bisa merasakannya.

EXT. REL STASIUN TUA — MALAM (HUJAN)

Arga duduk di atas rel, hujan membasahi bajunya, tak bergerak. Kirana berlari dari peron, terengah, dan berlutut di depannya.

KIRANA

Arga! Lihat aku. Arga!

Ia mengguncang bahunya. Tidak ada respons. Mata Arga kosong, seperti kaca. Kirana menelan ludah, lalu bicara pada dirinya sendiri, gemetar.

KIRANA

(berbisik)

Maafkan aku.

Ia menempelkan dahinya ke dahi Arga, satu tangan di dadanya, dan mengetuk pola terbalik: dua, jeda, tiga. Dinding di kepala Kirana sendiri bergetar. Hidungnya berdarah. Ia menggertakkan gigi menahan sakit.

SOUND DESIGN: Retak. Seperti kaca tebal yang pecah dari dalam.

Arga menarik napas dalam, seperti orang yang tenggelam lalu ditarik ke permukaan. Matanya membelalak. Ledakan suara membanjiri kepalanya, dua kali lebih keras dari sebelumnya, seluruh kota, seluruh dosa, seluruh ketakutan.

Dan di bawah semua itu, jelas dan dekat, suara berlapis itu tertawa.

SUARA GELAP (V.O.)

"...kami menemukanmu."

Arga menjerit. Kirana memeluknya, dan hujan menelan teriakan itu.

CUT TO BLACK.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)