Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
CHAPTER 6: BASKARA
INT. PERON BAWAH TANAH — SUBUH
BASKARA (50-an, rapi, kacamata bulat, wajah lelah tapi ramah) menuruni tangga satu per satu, dengan payung di satu tangan dan termos kecil di tangan lain. Cara berjalannya sabar, seperti orang yang sudah biasa menunggu.
BASKARA
Ketukan itu terdengar sampai ke atas, Kirana. Kamu masih menahan napas terlalu cepat. Tujuh hitungan, bukan enam.
KIRANA
(nyaris tak terdengar)
Pak.
Ini pertama kalinya Arga melihat emosi di wajah Kirana, dan yang muncul adalah campuran takut, marah, dan rindu.
KIRANA
Bapak bilang tidak akan mencariku lagi.
BASKARA
Aku berhenti mencari. Aku hanya menunggu di tempat yang pasti kamu datangi.
Baskara menoleh ke Arga dan tersenyum sopan.
BASKARA
Dan kamu pasti Arga. Kamu punya sesuatu yang dulu juga kupunya.
Arga menegang. Refleks, ia memfokuskan pendengarannya ke arah Baskara.
SOUND DESIGN: Bukan banjir kacau seperti orang lain. Kepala Baskara adalah paduan suara yang tertata, ratusan suara berlapis, bernyanyi bersama dengan nada yang sama, dan di bawahnya terdengar satu bisikan dingin yang bukan bagian dari paduan suara itu.
BASKARA (V.O., bisikan terpisah)
"...anak ini yang ketiga. Anak ini yang ketiga."
Arga mundur setengah langkah, wajahnya berubah. Baskara tidak menyadarinya, atau berpura-pura tidak.
Arga tidak paham maksud kata "ketiga". Ia menyimpannya.
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — SUBUH
Arga dan Baskara duduk di bangku besi. Kirana berdiri agak jauh, lengannya terlipat erat. Baskara meletakkan bungkusan kertas cokelat di ujung bangku yang dekat dengannya: roti isi cokelat yang masih hangat. "Kesukaanmu dulu," katanya. Kirana tidak menyentuhnya. Baskara menuang teh dari termos ke tutupnya dan menyodorkannya pada Arga.
BASKARA
Aku dulu mengajar di sebuah sekolah kecil untuk anak-anak seperti kalian, yang mendengar terlalu banyak. Aku mengajari mereka Hush. Sebagian selamat. Sebagian lagi...
Ia berhenti. Matanya menerawang ke rel kosong.
BASKARA
(pelan)
Sebagian lagi kehilangan diri mereka di balik dindingnya. Aku gagal memadamkan kebisingan itu, Nak. Aku hanya berhasil memindahkannya.
ARGA
Kenapa Bapak datang ke sini?
BASKARA
Untuk menawarkan sesuatu. Hush yang sempurna, tanpa harga yang dibayar Kirana. Aku sudah menemukan caranya.
KIRANA
(tajam)
Bohong.
BASKARAA
Kirana, hampir dua minggu dia tidur di sisimu. Kamu tahu dia tidak bisa selamanya begitu.
Arga menatap tehnya. Kalimat Baskara mengusik sesuatu yang sudah ia curigai sendiri. Baskara mencondongkan tubuh, suaranya lembut, hampir penuh kasih.
BASKARA
Kamu tidak bisa tinggal di sisi seorang gadis seumur hidup, Nak. Dia bukan obat. Dia manusia. Dan dia lelah.
Kalimat itu menghantam Arga lebih keras dari yang bisa ia sembunyikan. Ia melirik Kirana. Kirana membuang muka.
KIRANA
(suara bergetar)
Arga. Jangan.
BASKARA
Hanya satu malam. Kalau kamu tidak suka, kamu boleh pergi.
Lama sekali Arga terdiam. Bisikan kota mulai merayap masuk lagi dari luar dinding stasiun, seperti air pasang.
ARGA
(nyaris berbisik)
Satu malam.
Kirana menutup mata. Kemudian ia berbalik dan berjalan pergi menyusuri peron, tanpa menoleh. Ketukan jarinya terdengar makin cepat, makin jauh.
Baskara dan Arga tinggal berdua. Baskara mengeluarkan selembar foto hitam-putih dari saku jasnya dan menyodorkannya. Tujuh anak berdiri di depan bangunan sekolah bercat pudar. Di ujung kiri, Kirana kecil, tanpa senyum. Di sebelahnya, seorang anak laki-laki bertubuh kurus tertawa lebar.
ARGA
Siapa mereka?
BASKARA
(menarik foto itu kembali, lembut)
Murid-muridku. Semuanya anak yang bisa mendengar. Besok malam, Nak. Datanglah.
Sebelum foto itu kembali ke sakunya, Arga sempat melihat tulisan kecil di baliknya, tinta yang memudar: "Angkatan pertama."
CUT TO: