Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MIND READER: HUSH
Suka
Favorit
Bagikan
6. CHAPTER 5: HUSH
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. PERON BAWAH TANAH — SUBUH (BEBERAPA MENIT KEMUDIAN)

Lampu senter ponsel Arga menyorot Kirana yang bersandar ke dinding dengan napas terengah. Wajahnya pucat, bibirnya berdarah karena digigit. Arga memberinya sebotol air.

Lama mereka diam. Kirana meneguk air, lalu menatap langit-langit.

ARGA

(akhirnya)

Aku bisa mendengar isi kepala orang.

KIRANA

(tanpa terkejut)

Aku tahu.

ARGA

Sejak kapan?

KIRANA

Sejak kamu berhenti di gerbang stasiun dan menangis. Orang yang cuma lelah tidak menangis karena keheningan.

Arga terduduk. Ia baru menyadari ia tidak perlu lagi menjelaskan apa pun, dan rasa lega itu nyaris membuatnya menangis lagi.

ARGA

Kenapa kepalamu sunyi? Sejak pertama kulihat, tidak ada apa-apa di sana. Seperti... ruangan kedap, tanpa apa pun di dalamnya.

Kirana tertawa pendek tanpa humor.

KIRANA

Karena itu bukan alami. Itu namanya Hush.

Ia mengangkat tangan kirinya. Jari-jarinya bergerak: tiga ketukan, jeda, dua ketukan.

KIRANA

Sebuah teknik. Tarik napas empat hitungan, tahan tujuh, lepas delapan, sambil mengetuk pola ini. Ada dinding yang terbentuk di kepala. Apa pun yang ada di baliknya diam. Bisikan orang lain, suara gelap itu...

ARGA

Dan suaramu sendiri?

Kirana tidak menjawab. Itu sudah jawabannya.

KIRANA

(pelan, tanpa menatap)

Setiap kali aku menguatkan dinding, ada bagian diriku yang ikut diam. Aku sudah lama tidak bisa menangis untuk hal-hal yang seharusnya kutangisi.

KIRANA

Dan satu hal lagi. Dinding orang-orang yang diajari Hush oleh guru yang sama saling terhubung. Kalau satu retak, yang lain ikut terguncang.

Arga mencerna kalimat terakhir itu, tapi belum sepenuhnya paham.


FLASHBACK — INT. RUANG KELAS KOSONG — MALAM

Warna gambar meredup, hampir monokrom. KIRANA REMAJA (15) berdiri di tengah ruang kelas kosong di lantai empat. Papan tulis hitam penuh coretan kapur. Angin malam bertiup masuk lewat jendela yang terbuka lebar.

Suara berlapis-lapis bergema dari seluruh penjuru kelas, seolah kelas itu penuh murid tak terlihat.

Suara Gelap (V.O., ratusan suara)

"...Kirana... di sini terang... di sini tidak berisik... kemarilah..."

Kirana remaja melangkah ke arah jendela dengan mata kosong. Satu langkah. Dua langkah. Tangannya memegang bingkai. Di bawah, jalan aspal hitam.

Sebuah tangan menariknya dari belakang, dan kita hanya melihat tangan itu dan sebuah suara tenang dari luar bingkai. Wajah pemiliknya tidak terlihat.

Suara Guru (O.S.)

(tenang, berulang)

Ikuti ketukanku, Kirana. Tarik, tahan, lepas. Ikuti ketukanku.

Jari-jari di bahu Kirana mengetuk: tiga, jeda, dua. Ia mengikuti dengan bibir gemetar. Suara-suara itu perlahan mengecil, lalu dinding tak kasatmata menutup di atasnya. Kelas menjadi sunyi, dan Kirana remaja menangis tanpa suara.


INT. PERON BAWAH TANAH — SUBUH (KEMBALI KE SEKARANG)

Kirana memandangi tangannya sendiri.

KIRANA

Suara itu hampir menelanku. Hush satu-satunya yang menyelamatkanku. Tapi tiap malam aku harus memperkuat dindingnya, atau...

ARGA

(pelan)

Atau dia keluar.

Kirana mengangguk.

ARGA

Kalau kamu bisa membungkamnya, kenapa aku tidak? Ajari aku.

KIRANA

(tegas)

Tidak.

ARGA

Aku hidup dengan suara-suara ini seumur hidupku. Kamu tidak tahu...

KIRANA

(meninggikan suara)

Kamu yang tidak tahu harganya!

Gema suaranya memantul di ruang bawah tanah. Lalu hening. Di sela hening itu terdengar bunyi lain: ketukan ujung payung di anak tangga, pelan, teratur, dengan pola yang sama. Tiga, jeda, dua.

Kirana membeku. Wajahnya berubah. Untuk pertama kalinya, ketakutan yang jelas.

Di anak tangga paling atas, sebuah siluet berdiri dengan payung yang meneteskan air hujan.

CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)