Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
FADE IN:
INT. KERETA KOTA — PAGI (JAM SIBUK)
Gerbong sesak. Bahu bertemu bahu, napas bertemu napas. ARGA (20-an, kaus lusuh, kantung mata gelap) berdiri terjepit di dekat pintu. Earphone menggantung di telinganya, tanpa musik. Ia tidak sedang mendengarkan apa pun. Ia sedang bertahan.
Kamera mendekat ke wajahnya. Suara roda kereta mengecil, lalu tenggelam. Yang muncul menggantikannya adalah lapisan bisikan yang bertumpuk, makin rapat, makin keras.
Suara-suara (V.O., tumpang tindih)
"...telat lagi, bos pasti marah..." "...kenapa dia lihatin aku..." "...capek, capek banget..." "...pura-pura senyum aja, pura-pura senyum aja..."
Arga memejamkan mata dan mencengkeram pegangan sampai buku jarinya memutih. Keringat menetes di pelipis.
Seorang IBU (40-an, wajah ramah) di depannya menatap cemas.
IBU
Nak, kamu pucat sekali. Baik-baik saja?
Ibu (V.O., dingin, tak sinkron dengan bibirnya)
"...orang ini pasti bermasalah. Jangan dekat-dekat."
ARGA
(tersenyum kaku)
Cuma kurang tidur, Bu.
Di antara bisikan-bisikan itu, satu suara muncul dan berbeda. Lebih dalam. Berlapis. Tidak punya pemilik. Tidak datang dari siapa pun di gerbong.
Suara asing (V.O., berlapis-lapis)
"...dengarkan aku..."
Mata Arga terbuka. Ia menoleh ke kiri, ke kanan. Semua orang menunduk menatap ponsel. Tak seorang pun menatapnya.
EXT. STASIUN KOTA — PAGI
Pintu kereta terbuka. Arga terdorong keluar bersama lautan manusia. Ia berjalan menunduk, bibirnya bergerak tanpa suara. Ia menghitung ubin di bawah kakinya, satu-satunya cara agar tidak hanyut.
ARGA (berbisik)
Tujuh... delapan... sembilan...
Suara-suara menyapu seperti ombak. Ia menabrak bahu seorang PEDAGANG ASONGAN.
ARGA
Maaf, Pak.
PEDAGANG (V.O.)
"...anak kota, jalan nggak pakai mata."
Arga tidak menoleh. Ia sudah terbiasa dimaki oleh orang yang bibirnya tersenyum.
INT. GUDANG ARSIP BAWAH TANAH — SIANG
Rak baja menjulang. Lampu neon berdengung. Kertas-kertas tua berbau lembap. Di sini hanya ada dua-tiga kepala, dan bahu Arga turun sedikit untuk pertama kalinya hari ini. Ia sengaja memilih pekerjaan ini.
Di dinding beton tergantung peta jalur kereta api lama yang menguning. Di pinggir kota, satu titik dilingkari pensil dan diberi tulisan tangan: "STASIUN LAMA — DITUTUP 1998". Arga melewatinya tanpa menoleh.
DIMAS (30-an, ramah, kemeja kusut) muncul membawa dua gelas kopi.
DIMAS
Ga, gue traktir. Lo kerja mulu, nggak pernah ngeluh.
DIMAS (V.O.)
"...kasihan juga. Tapi bagus, dia nggak pernah ngecek laporan gue yang salah."
ARGA
(refleks)
Nggak apa-apa, Dim. Soal laporan yang salah itu... nggak akan kubilang ke siapa-siapa.
Dimas membeku. Senyumnya luntur pelan-pelan. Arga sadar apa yang baru saja ia ucapkan.
DIMAS
Laporan... apa?
ARGA
Aku bercanda.
DIMAS
(pelan, curiga)
Kadang lo ngomong kayak tahu sesuatu yang nggak mungkin lo tahu.
Dimas meletakkan satu gelas di meja dan pergi tanpa menoleh. Uap kopi naik ke arah lampu neon. Arga menatapnya. Satu lagi orang yang menjauh.
INT. KAMAR KOS ARGA — MALAM
Kamar sempit, satu kasur, satu jendela menghadap tembok. Arga berbaring dengan headphone menutup kedua telinga, volume penuh, menyiarkan derau putih. Dari dinding tipis, bisikan para tetangga tetap menembus. Suara-suara itu tidak masuk lewat telinganya. Mereka ada di dalam kepalanya.
Ia melepas headphone dan menatap langit-langit.
ARGA (V.O.)
Dulu kukira ini karunia. Ternyata ini cuma suara orang-orang yang tak pernah ingin kudengar. Dan makin lama, suaraku sendiri makin tak terdengar.
FLASHBACK — INT. PASAR TRADISIONAL — SIANG
Warna hangat dan agak buram, seperti ingatan. ARGA KECIL (8) menggandeng tangan IBUNYA (30-an, sederhana, lelah tapi lembut) di antara lapak-lapak sayur. Seorang PENJUAL IKAN tersenyum ramah pada mereka.
PENJUAL IKAN(V.O.)
"...kasihan anak itu, bajunya kekecilan."
ARGA KECIL
(polos)
Bu, kenapa Ibu itu bilang kasihan? Bajuku kan masih bagus.
Penjual ikan membeku. Wajah ibu Arga memucat. Ia berlutut, memegang kedua bahu anaknya.
IBU ARGA
(berbisik cepat, tegang)
Sssh. Jangan bilang-bilang, ya, Nak. Orang tidak suka kalau isi kepalanya ketahuan.
Arga kecil mengangguk pelan. Ia tidak mengerti, hanya tahu bahwa ia baru saja berbuat salah. Ia menutup mulutnya dengan kedua tangan kecilnya. Di sekelilingnya, bisikan pasar bergemuruh.
INT. KAMAR KOS ARGA — MALAM (KEMBALI)
Ia mencoba memikirkan sesuatu yang benar-benar miliknya. Kamera close-up ke matanya.
ARGA
(lirih)
Aku... mau apa?
Hening sepersekian detik. Lalu bisikan menyerbu kembali, dan di bawah semuanya, suara berlapis itu mengulang satu kata.
SUARA ASING (V.O.)
"...dengarkan..."
CUT TO BLACK.
TITLE CARD: MIND READER: HUSH