Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — MALAM (HARI KEDUA)
Arga datang membawa dua gelas kopi kertas. Kirana sudah di bangku yang sama. Ia menerima satu gelas dengan ragu, lalu menyesap. Mereka duduk berjauhan, lalu Arga bergeser satu jengkal, dan Kirana tidak protes.
KIRANA
Aku punya satu aturan. Aku tidak bertanya soal masa lalumu. Kamu tidak bertanya soal masa laluku.
ARGA
(tersenyum kecil)
Itu aturan terbaik yang pernah kudengar.
KIRANA
Kenapa kamu selalu menutup telinga?
Arga baru sadar tangannya sudah setengah terangkat, kebiasaan lama yang muncul sendiri.
ARGA
Terlalu berisik. Di luar sana.
KIRANA
(setelah jeda)
Di sini tidak.
MONTAGE — BEBERAPA HARI
— Arga duduk di bangku, kepala bersandar ke besi. Kirana menggambar. Cahaya bohlam kuning bergerak pelan di wajah mereka.
— Siang di gudang arsip. Arga menyusun map dengan gerak yang lebih tenang. Dimas memperhatikannya dari jauh dan menggeleng bingung.
DIMAS
Lo kelihatan lebih seger. Dapet obat apa?
ARGA
Tempat sepi.
— Malam. Arga tertawa kecil, karena Kirana melempar remah roti ke merpati dan mengenai kepala salah satunya. Kirana menutup mulut menahan senyum.
EXT. PASAR MALAM — MALAM
Lampu warna-warni, asap sate, dangdut dari pengeras suara. Kirana berjalan di samping Arga dengan tangan di saku. Arga menelan ludah, menyiapkan diri. Di dalam radius dua langkah dari Kirana, bisikan orang meredup menjadi dengung. Lebih jauh dari itu, semuanya masih sama liarnya.
Arga memesan sate sambil menjaga jarak tepat di sisi Kirana. Ia baru sadar sesuatu yang membuatnya tertawa kecil: ia sedang berjalan di tengah keramaian dan tidak menutup telinga.
Rombongan anak sekolah menerobos di antara mereka. Kirana terdorong ke belakang, terpisah tiga langkah. Bisikan pasar menghantam Arga sekaligus. Ia membungkuk, memegang lutut, napasnya kacau.
ARGA
(terengah)
Kirana...
Sebuah tangan menarik lengan bajunya. Kirana sudah di sampingnya lagi, wajahnya cemas. Bisikan mereda.
KIRANA
Aku di sini. Tarik napas.
Arga menatap tangan yang memegang lengan bajunya. Ia lega, dan pada saat yang sama sedikit malu. Kirana melepasnya pelan-pelan dan mengalihkan pandangan ke bianglala kecil yang berputar.
KIRANA
(pelan)
Ayo. Satemu dingin.
EXT. ATAP KAFE — SORE
Kafe atap ramai. Arga duduk di sudut dengan Kirana di sampingnya. Di sekeliling mereka, bisikan orang-orang membanjir. Tapi tepat di tempat Kirana duduk, ada gelembung sunyi. Arga bersandar dengan bahu yang akhirnya turun.
Seorang PELAYAN MUDA menaruh dua gelas es teh. Di wajahnya tersungging keramahan profesional. Di kepalanya, Arga mendengar dengan jelas: "...akhir bulan ini gue resign. Bodo amat."
ARGA
(setelah pelayan pergi, setengah bercanda)
Dia bakal resign akhir bulan ini.
KIRANA
Kamu kenal dia?
ARGA
Tebakan.
KIRANA
(menatapnya, senyum tipis)
Kamu selalu "menebak" sepresisi itu?
Arga tertawa lepas, tawa yang sudah bertahun-tahun tidak ia keluarkan. Kirana ikut tersenyum, tapi matanya tetap mengamati Arga dengan hati-hati, seperti orang yang menghitung sesuatu.
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — MALAM
Arga tertidur di bangku dengan jaketnya sebagai bantal. Napasnya dalam dan teratur, tidur yang belum pernah ia dapat sejak lama.
Kirana memandanginya sebentar. Ia mengeluarkan buku catatan kecil dari saku jaket, terpisah dari buku sketsanya, dan menulis satu baris. Kamera mengintip dari balik bahunya.
"Hari ke-6. Dia tidur pulas di sini. Dia mulai bergantung."
Jari Kirana berhenti di atas kata terakhir. Ia menutup buku itu dan menyimpannya dalam-dalam di sakunya.
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — FAJAR
Cahaya biru fajar masuk lewat atap yang bolong. Arga membuka mata perlahan. Ia bangun dan tidak sadar dirinya bangun. Lalu ia menegang.
ARGA
(takjub)
Aku tidur.
KIRANA
Delapan jam.
ARGA
Terima kasih. Aku serius. Kamu tidak tahu apa artinya buatku.
Kirana menunduk. Sesuatu di wajahnya berubah sepersekian detik, bukan senang, melainkan sesuatu yang lebih mirip rasa bersalah. Ia cepat-cepat merapikan buku sketsanya.
KIRANA
Jangan berterima kasih padaku.
Arga tidak menangkap nada itu. Ia menatap langit fajar dengan wajah yang belum pernah kita lihat sebelumnya: tenang.
ARGA (V.O.)
Aku tahu kenapa aku bisa tidur. Bukan karena tempat ini. Karena dia. Dan sebagian diriku tahu, aku sedang memakai seseorang seperti memakai obat.
CUT TO: