Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
CHAPTER 8: SUARA GELAP
INT. KAMAR KOS ARGA — MALAM
Arga terbaring demam, keringat dingin di seluruh tubuh. Kirana menempelkan kain basah di dahinya. Di luar, hujan masih turun.
Di kepala Arga, suara berlapis itu tidak lagi berbisik dari kejauhan. Ia terus bicara, berganti-ganti suara: Dimas, si pedagang asongan, pelayan kafe, dan, yang paling kejam, suara Kirana.
SUARA GELAP (V.O., meniru suara Kirana)
"Arga, tolong aku. Aku sendirian di sini. Kenapa kamu tidak datang?"
ARGA
(mengigau, menutup telinga)
Bukan kamu. Itu bukan kamu.
KIRANA
(menggenggam tangannya)
Aku di sini. Dengarkan aku. Aku di sini.
Arga menatapnya dengan mata merah. Ia tampak berusaha mendengar Kirana, tapi yang terdengar hanya kekosongan di kepala Kirana, yang kini beriak seperti permukaan air.
ARGA
Dindingmu... retak.
KIRANA
(mengangguk lemah)
Dinding kita terhubung. Waktu dindingmu pecah, punyaku ikut retak. Aku tidak tahu sampai kapan bisa menahan...
Ia terhenti. Darah menetes dari hidungnya ke kain basah. Matanya memutar ke belakang, tubuhnya limbung. Arga menangkapnya sebelum ia jatuh ke lantai.
Buku catatan kecil terlepas dari saku jaket Kirana dan jatuh terbuka di kasur. Arga membacanya di bawah cahaya lampu meja. Tulisan tangannya rapi, tapi makin lama makin bergetar.
"Hari ke-6. Dia tidur pulas di sini. Dia mulai bergantung."
"Hari ke-9. Dindingku makin tipis tiap kali dia tertawa."
"Hari ke-13. Aku ingin dia tetap datang. Itu salah, kan?"
Arga menutup buku itu perlahan. Ia menatap wajah Kirana yang pucat, dan untuk pertama kalinya mengerti bahwa selama ini bukan hanya dia yang mempertaruhkan sesuatu.
INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — MALAM
Arga memapah Kirana yang setengah sadar, basah kuyup, memasuki peron. Baskara sudah menunggu di bangku besi, seolah sudah tahu mereka akan datang. Ia berdiri dengan payung tertutup, tenang.
ARGA
(terengah)
Tolong dia. Bapak tahu caranya.
BASKARA
(pelan)
Aku memang berharap ini terjadi.
Arga menatapnya, tak percaya. Di pangkuannya, Kirana membuka mata. Mata itu berubah, kosong dan dalam. Ketika bibirnya bergerak, suara yang keluar berlapis-lapis, seperti ratusan orang bicara serentak.
KIRANA (dengan Suara Gelap)
Guru. Kau berjanji memberi kami tubuh yang baru.
Arga mundur, memeluk Kirana lebih erat. Baskara memejamkan mata sebentar, lalu membukanya. Kini ia tampak sangat tua.
BASKARA
Aku tidak bermaksud jahat, Nak. Suara itu bukan orang. Ia lahir dari semua yang tidak pernah diucapkan. Dan ia mengikutiku sejak lama. Satu-satunya cara menahannya adalah mengurungnya di dalam kepala yang sunyi.
ARGA
(pelan, mengerti)
Kirana yang kedua. Dan aku yang ketiga. Aku mendengarnya di kepala Bapak waktu Bapak pertama datang.
BASKARA
Yang pertama sudah tidak ada. Anak itu kosong sekarang. Malam di ruang kelas itu, aku menyelamatkan Kirana, dan pada saat yang sama mengurung suara itu di dalam dindingnya. Aku tidak mau ia berakhir seperti anak itu.
ARGA
Tapi Bapak memindahkannya ke orang lain.
BASKARA
Ke orang yang bisa menanggungnya. Kepalamu paling kuat di antara kami semua. Bertahun-tahun kamu hidup dengan ribuan suara, satu suara lagi tidak akan menghancurkanmu. Kirana bisa bebas. Dan kalau kamu menutup dindingmu setelah ia masuk, kamu akan aman selamanya.
Arga memandang wajah Kirana yang pucat. Napasnya makin dangkal.
BASKARA
(lembut)
Dinding Kirana tidak akan bertahan melewati fajar. Kamu punya waktu sampai matahari terbit.
Di kejauhan, jam stasiun yang mati menunjukkan pukul 03.17. Untuk sesaat, jarumnya bergerak.
CUT TO: