Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MIND READER: HUSH
Suka
Favorit
Bagikan
10. CHAPTER 9: PILIHAN
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

CHAPTER 9: PILIHAN


INT. PERON BAWAH TANAH — MENJELANG FAJAR

Lilin-lilin menyala di sekeliling spiral kapur. Kirana terbaring di pusatnya, napasnya dangkal. Sesekali bibirnya bergerak dan yang keluar bukan suaranya sendiri.

Baskara berdiri di tepi spiral. Arga berdiri di seberangnya. Di antara mereka, sebuah jalan sempit dari kapur.

BASKARA

Kamu punya dua jalan. Yang pertama: Hush yang sempurna. Kamu mengunci suara itu di balik dindingmu. Kirana bebas. Kamu tidak akan mendengar apa pun lagi, selamanya.

ARGA

Dan tidak merasakan apa pun.

BASKARA

(mengangguk)

Kamu sudah mencobanya. Kamu tahu rasanya.

ARGA

Yang kedua?

BASKARA

Kamu membuka diri sepenuhnya. Kamu menanggung suara itu tanpa dinding. Kirana bebas juga, tapi kamu akan mendengar semuanya, setiap detik, sampai kepalamu tak sanggup lagi.

SOUND DESIGN: Bisikan berlapis merayap dari sudut-sudut ruangan. Nyala lilin menunduk, gemetar.

Di atas tangga, celah langit mulai berubah dari hitam menjadi biru gelap. Fajar tidak lama lagi.

SUARA GELAP (V.O.)

"...ada jalan ketiga, Arga. Kami diam kalau kau diam. Kami ada kalau kau ada. Kita tidak perlu bertengkar."

KIRANA

(lemah, dari lantai, suaranya sendiri sesaat)

Jangan kunci dirimu. Aku... sudah tahu rasanya.

Arga menutup mata. Ia memusatkan pendengarannya ke Baskara, dan kali ini ia mendengar lebih dalam. Di bawah paduan suara tertata itu, bukan rencana licik, melainkan ketakutan yang telanjang.

BASKARA (V.O.)

"...aku takut. Aku takut mereka semua membenciku. Aku takut kalau aku bicara, semuanya runtuh."

Arga membuka mata. Sesuatu di wajahnya berubah. Bukan marah, lebih dekat pada iba.

ARGA

(pelan)

Berapa banyak yang sudah Bapak kunci?

BASKARA

Dua. Kirana, dan seorang anak laki-laki yang namanya... sudah lama tidak bisa kusebut.

ARGA

(pelan)

Raka.

Baskara memejamkan mata. Bahunya turun seperti orang yang baru dipukul dari belakang. Arga teringat nama yang tergores di dinding ubin bawah tanah.

ARGA

Bapak sendiri yang bilang, suara ini lahir dari semua yang tidak pernah diucapkan. Tapi Bapak terus membungkamnya. Setiap kali dibungkam, ia bertambah besar.

BASKARA

(getir)

Kamu masih muda. Kamu tidak tahu kalau ada hal yang lebih baik tidak pernah didengar.

Arga melangkah ke pusat spiral, berlutut di samping Kirana, dan menggenggam tangannya. Ia memejamkan mata. Bibirnya mulai menghitung. Napas masuk empat, tahan tujuh, lepas delapan. Jarinya bergerak: tiga, jeda, dua.

Baskara menarik napas lega. Kamera bergerak ke wajah Kirana yang tampak putus asa.

Lalu ketukan Arga berhenti.

Ia mengeluarkan earphone kusutnya dari saku, earphone tanpa musik yang menjadi jangkarnya selama bertahun-tahun, dan meletakkannya di atas garis kapur. Ia berdiri.

BASKARA

Apa yang kamu lakukan?

ARGA

(tenang)

Aku memilih mendengar.

Ia melangkah keluar dari lingkaran, mengangkat kedua tangan seperti orang yang membuka pintu. Ia berbisik satu kalimat, dan sesuatu di ruangan itu berubah.

ARGA

Datanglah. Aku mendengarkan.

SOUND DESIGN: Sunyi sepersekian detik. Kemudian ledakan. Bola lampu pecah satu per satu. Lilin-lilin menyala tinggi, bergetar liar. Gelombang suara berwujud pusaran hitam melesat dari tubuh Kirana, berputar mengelilingi Arga, dan menerobos masuk ke kepalanya.

Arga jatuh berlutut, menjerit tanpa suara. Baskara berteriak memanggil namanya.

SUARA GELAP (V.O., menggelegar)

"...KAU AKAN HANCUR."

CUT TO BLACK.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)