Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
MIND READER: HUSH
Suka
Favorit
Bagikan
3. CHAPTER 2: STASIUN TUA
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT. JALANAN KOTA — MALAM (HUJAN)

Hujan tipis. Arga pulang lembur dari gudang arsip lewat jalan yang tidak biasa. Ia menghindari jalan raya dan memilih gang-gang sempit, mencari tempat yang sepi. Tapi setiap jendela yang menyala membocorkan suara: pertengkaran, doa, tangis yang ditahan, cinta yang belum diucapkan.

Ia menutup telinga dengan kedua telapak tangan. Percuma. Ia mempercepat langkah, hampir berlari, sampai jalan menyempit menjadi lorong buntu berpagar seng.

Ada celah di pagar itu. Di baliknya, rel berkarat dan papan yang setengah hilang: "STASIUN LAMA".


EXT. GERBANG STASIUN TUA — MALAM

Bangunan kolonial yang mati. Jam dinding besar berhenti di pukul 03.17, kacanya retak. Arga melangkah masuk melewati gerbang besi yang terbuka setengah.

SOUND DESIGN: Satu langkah. Dengung bisikan mengecil. Dua langkah. Suara-suara itu terkikis seperti garam di air. Tiga langkah.

Senyap.

Bukan senyap yang biasa. Ini kekosongan yang utuh. Arga berhenti. Telinganya berdenging. Lalu ia mendengar sesuatu yang belum pernah ia dengar bertahun-tahun: langkah kakinya sendiri, napasnya sendiri.

Lututnya lemas. Ia jatuh berlutut di lantai basah, bahunya bergetar, dan air mata jatuh tanpa suara.


INT. PERON UTAMA STASIUN TUA — MALAM

Merpati bersarang di balok atap. Satu bohlam kuning berkedip di ujung peron. Di bangku besi paling ujung duduk KIRANA (20-an, jaket abu-abu, rambut basah) dengan buku sketsa di pangkuan. Jari-jari tangan kirinya mengetuk lutut dengan pola yang sama: tiga ketukan, jeda, dua ketukan. Berulang.

Ia melihat Arga berlutut menangis di ambang peron. Tatapannya waspada, bukan iba.

KIRANA

Kamu sakit?

ARGA

(mengusap wajah, tertawa getir)

Tidak. Aku cuma... di sini sepi sekali.

KIRANA

Kebanyakan orang bilang tempat ini menyeramkan.

ARGA

Buatku ini surga.

Kirana menatapnya lama. Ketukan jarinya berhenti sedetik, lalu berlanjut.

Arga bangkit dan mengambil tempat di ujung bangku yang lain, sejauh mungkin dari Kirana. Ia tidak berani terlalu dekat.

ARGA

Boleh aku duduk di sini sebentar?

KIRANA

(kembali menunduk ke sketsanya)

Stasiun ini bukan punyaku.

Arga melirik buku sketsa itu. Halaman penuh spiral yang berlapis-lapis, seperti gelombang suara yang digambar berulang-ulang.

Refleks lamanya bekerja. Arga memfokuskan pikirannya ke arah Kirana, mencoba mendengar apa yang biasanya otomatis masuk. Ia menunggu bisikan, atau potongan kalimat, atau sekadar rasa.

Tidak ada apa pun.

Bukan diam yang biasa. Bagi Arga, Kirana adalah lubang di tengah dunia yang bising. Sebuah ruang kedap. Ia menahan napas.

ARGA

(nyaris tak terdengar)

Siapa kamu?

KIRANA

(tanpa mengangkat kepala)

Kirana.

ARGA

Arga.

Untuk pertama kalinya Arga benar-benar mendengar hal-hal kecil: tetes hujan yang jatuh dari atap seng satu per satu, kepak sayap merpati, detak jantungnya sendiri. Ia mendengarkan keheningan itu seperti orang mendengarkan musik.

ARGA

Tempat apa ini sebenarnya?

KIRANA

Stasiun yang ditutup sejak 1998. Tidak ada kereta yang berhenti di sini lagi.

KIRANA

(setelah jeda, lebih pelan)

Kamu bukan orang pertama yang datang ke sini mencari sunyi.

ARGA

Ada yang lain?

KIRANA

Dulu.

Ia tidak menjelaskan lebih jauh. Ketukan jarinya kembali berjalan: tiga, jeda, dua.

Jauh di luar, klakson kereta barang meraung. Kota kembali terdengar sebagai denyut samar di balik dinding stasiun.


EXT. GERBANG STASIUN TUA — MALAM

Arga melangkah keluar. Pada langkah ketiga, bisikan kota menghantamnya seperti ombak. Ia terhuyung, memegang pagar.

Ia menoleh ke belakang. Dari kejauhan, Kirana masih di bangku, memandanginya.

ARGA

(berteriak dari gerbang) Besok... kamu di sini lagi?

Kirana tidak menjawab. Tapi tangannya, yang sejak tadi mengetuk pola tiga-dua, kini berhenti. Jarinya menekan lutut. Kamera bergerak pelan ke wajahnya: sesuatu di matanya gelisah, seperti orang yang baru sadar pintunya terbuka.

CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)