Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
GEMA SANG PENGUASA LANGIT
Suka
Favorit
Bagikan
16. TIGA TAHUN KEMUDIAN
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

KARTU JUDUL: “TIGA TAHUN KEMUDIAN”

EKS. PELABUHAN JAKARTA - PLAZA PERINGATAN - SIANG

Pelabuhan itu BERKEMBANG.

Kapal-kapal bergerak seperti biasa, acuh tak acuh pada delapan tahun yang mereka lewati tanpa ada.

Anak-anak berlarian melintasi plaza yang orangtua mereka kadang masih ragu menyeberanginya terlalu cepat, kebiasaan lama dari kota yang dulu menahan napas.

Para pedagang kaki lima kembali; salah satunya, di dekat tepi tugu, menjual layang-layang — penghormatan kecil tak terucap yang tak diorganisasi siapa pun dan dipahami semua orang.

Di tempat zona beku dulu berada: plaza peringatan yang diperluas.

Lautan nama terukir pada panel-panel obsidian, batu hitam dipasang dalam cincin-cincin konsentris yang memancar keluar dari titik pusat, seperti riak memancar dari batu yang dijatuhkan ke air.

Masing-masing.

Setiap satu.

Bunga-bunga segar bersandar pada beberapa panel — duka sehari-hari yang biasa dari sebuah kota yang telah belajar menanggung lukanya dan hidupnya sekaligus.

Dua panel berdiri terpisah, menghadap barat ke arah Teluk.

Masing-masing memuat satu kata saja, karena tak ada yang tersisa untuk menamai: BAGHDAD.

DOHA.

Tak ada yang menyegel mereka.

Tak ada yang berada dalam jangkauan.

Tulisan di tugu pusat: “KESELAMATAN MEMBUTUHKAN KERJA SAMA, BUKAN KEPASTIAN.

BERSAMA MENGALAHKAN SERBA CUKUP TAPI SENDIRIAN.

SELALU.”

WIRA (kini 27) berdiri di hadapan tugu, lengan baju digulung hingga siku, kacamata baru terselip di rambut.

Kerumunan kecil telah berkumpul untuk pembacaan pagi — ritual yang kini sudah berumur satu dekade, tak istimewa bagi Jakarta seperti ritual harian mana pun yang menjadi biasa: sakral justru karena tak ada yang perlu diberi tahu untuk hadir.

Seorang RELAWAN membaca dari tablet, tak terburu-buru, nama-nama jatuh ke plaza seperti hujan menemukan tinggi permukaannya.

RELAWAN

Aisyah Ramadhani. Budi Santoso. Sri Wulan.

Pada “Budi Santoso”, mata WIRA terpejam tepat satu ketukan — sebuah ulangan matematika, sebuah film yang tak sempat ditonton keduanya, sebuah “Jumat ya! Jangan lupa!” yang tak pernah tertepati. Jalan Budi berkelok turun ke arah pelabuhan, sama seperti biasanya, sama seperti malam terburuk yang mungkin untuk hal itu menjadi penting.

Pada nama neneknya, tepat sesudahnya, rahang WIRA mengeras, hanya sedikit, latihan satu dekade menjadi satu-satunya hal yang menjaga suaranya cukup mantap untuk terus mendengarkan.

RELAWAN

Dewi Anggraini. Eko Prasetyo. Siti Nurhaliza. Rina Rahayu.

Ia membaca bersama dalam hati, menggerakkan bibir pada nama terakhir setelah suara relawan itu bergerak melewatinya, tak kuasa menahan diri, seperti kau tak bisa tidak memeriksa apakah bekas luka masih ada.

Ia membaca sebuah nama dari obsidian tanpa menatap daftar.

RADEN JINAR berdiri di sampingnya, memakai pakaian fana dengan lebih nyaman sekarang.

RADEN JINAR

Orang terakhir bangun kemarin. Rina Rahayu. Dia lima tahun ketika dibekukan, dan dia lima tahun hari ini. Ibunya, Siti, bangun dua tahun lalu, dan menunggu setiap hari untuk ini.

(jeda)

RADEN JINAR

Setiap jiwa di Jakarta sudah terdata. Tujuh ratus ribu orang hidup karena kau menahan Jembatan selama delapan tahun, lalu kita menahannya bersama tiga tahun lagi.

WIRA

KITA yang melakukannya. Bukan aku. KITA.

Matanya melayang ke dua panel yang menghadap barat.

WIRA

(pelan)

Jakarta punya Jembatan. Baghdad dan The Pearl tak punya siapa pun dalam jangkauan.

RADEN JINAR

Kau enam belas tahun. Kau tak mungkin ada di mana-mana.

WIRA

Nggak. Tapi tak ada kota yang seharusnya harus menunggu seorang anak mengangkat tangan.

Dua sosok berdiri di kaki panel-panel itu: DR. LAYLA HASSAN (40-an), insinyur dari Baghdad, dan KHALID AL-MARRI (30-an), dari Doha — keduanya sedang pergi pada malam kota mereka jatuh, kini keduanya memegang kursi di Sidang.

Pembacaan mencapai dua baris terakhirnya, diucapkan setiap pagi meski tak ada nama individu yang mengikutinya, karena memang tak ada yang bisa dibaca — hanya kenyataan ketiadaan, tetap dihormati.

RELAWAN

Baghdad. Semuanya. The Pearl. Semuanya.

Khalid meletakkan sebuah lampu penanda alur yang usang di atas batu.

Lampu itu berkedip, mantap dan sabar.

Untuk pertama kalinya dalam SEBELAS TAHUN — delapan menahan sendiri, tiga menahan bersama — ketujuh serpihan WIRA berintegrasi PENUH.

Bukan runtuh menjadi satu.

Berharmoni.

Masih tujuh perspektif.

Tapi terkoordinasi.

Sukarela.

Sadar.

Ia UTUH. Bukan tunggal. Utuh.

WIRA memejamkan mata.

Merasakan Jembatan Jakarta untuk terakhir kalinya.

Lalu — MELEPASKAN.

Setelah sebelas tahun: MELEPAS.

Jembatan kini dijaga dengan cara lain.

Infrastruktur telah menggantikan kesadaran.

Kerja sama telah menggantikan kemartiran.

Ia membuka mata. Napasnya berbeda. Lebih ringan. Bebas.

WIRA

(berbisik, kagum)

Aku cuma di satu tempat sekarang. Tujuh perspektif, tapi semuanya DI SINI.

RADEN JINAR

Rasanya bagaimana?

WIRA

Seadanya. Persis seadanya yang cukup.

LANGKAH KAKI di belakang mereka.

KI YUWENDA menyeberangi plaza dengan berjalan kaki — tanpa arak-arakan, jubah abu-abu polos, kehati-hatian orang tua di setiap langkah. Tanpa pengawal. Tanpa faksi menguntit. Hanya dia, sendirian, seperti cara ia tiba di halaman tiga tahun lalu dan seperti cara ia tak pernah sekali pun tiba di mana pun sejak itu.

Ia berhenti selangkah lebih awal, lalu membungkuk satu ketukan lebih rendah dari yang diminta protokol.

Lalu ia meraih sabuknya dan melepas segel emas — aus oleh ibu jari yang mengusiknya selama tiga ribu tahun — dan mengulurkannya dengan kedua tangan, seperti mengembalikan sesuatu yang dipinjam terlalu lama.

KI YUWENDA

Ini tak pernah milikku untuk disimpan. Ini kepastian kahyangan, dan aku memakainya seolah itu kebajikanku sendiri. Aku ingin kau memilikinya. Bukan untuk dipakai. Hanya supaya ia berhenti dikenakan.

WIRA menerimanya. Lebih ringan dari kelihatannya, seperti kebanyakan hal yang dipeluk orang selama puluhan tahun ternyata begitu.

KI YUWENDA

(tulus)

Aku salah.

WIRA

(terkejut)

Soal apa?

KI YUWENDA

Semuanya. Ketidakpastian itu menakutkan. Tapi ia mencapai apa yang tak pernah dicapai tiga ribu tahun tatanan sempurna.

Jeda panjang. Ki Yuwenda menatap tangannya yang kosong, belum terbiasa menggenggam ketiadaan.

KI YUWENDA

Apa yang bisa kulakukan? Katakan. Aku menghabiskan tiga ribu tahun dipatuhi. Aku sebenarnya tak tahu cara berguna dengan cara lain. Aku hanya tahu cara memberi perintah, dan baru saja kukatakan padamu aku tak mau lagi memberinya.

WIRA

Ajari kami apa yang kau tahu. Semua yang kau pelajari saat membangun ulang pagar-pagar perbatasan itu, batu demi batu, enam puluh tahun — itu bukan apa-apa, itu bukan sia-sia. Ajari kami. Lalu biarkan kami mengubahnya saat perlu diubah. Itulah seluruh bedanya. Bukan karena cara-cara lama tak berharga. Hanya saja mereka tak boleh jadi permanen lagi.

Ki Yuwenda mempertimbangkannya. Untuk pertama kalinya sejak ada orang di plaza itu mengenalnya, sesuatu di wajahnya tampak nyaris seperti kelegaan.

(mengulurkan tangan)

KI YUWENDA

Aku ingin bergabung dengan sidangmu. Secara resmi. Kalau revolusi punya ruang bagi seorang tiran yang bertobat.

WIRA

(menyambut tangannya, berjabat erat)

Kami terima siapa pun yang memilih mencoba. Terutama mereka yang mengaku mungkin salah.

Mereka berjabat. Saat yang panjang. Para dewa dan fana di plaza menyaksikan.

KI YUWENDA

Lalu apa? Jakarta sudah selesai.

WIRA

Enam bekas luka kuantum lagi, di seluruh dunia. Lebih kecil. Lebih tua. Kita segel sebelum menyebar, supaya tak ada kota yang berdiri sendirian lagi. Baghdad dan The Pearl, tak bisa kita kembalikan. Tapi bisa kita pastikan mereka tak terlupakan, dan tak terulang. Lalu kemiskinan. Lalu iklim. Satu krisis sekali waktu.

KI YUWENDA

(senyum tipis — tulus)

Tak sempurna. Hanya tak pernah berhenti.

WIRA

Tepat. Terus mencoba. Terus belajar. Terus cukup seadanya.

MATCH CUT KE:

INT. AULA KULIAH FISIKA - UNIVERSITAS BRAWIJAYA - SIANG

Sorot proyektor yang terang.

Layar: “PRINSIP KETIDAKPASTIAN: BATAS KESADARAN DALAM SISTEM TERDISTRIBUSI.”

WIRA, masa kini, pakaian fana, mode dosen, meletakkan spidol.

Tinta di manset, noda kopi di lengan baju.

MAHASISWA

(20-an, bersemangat)

Pak Wira — kalau kesadaran bisa terdistribusi ke banyak posisi, apakah itu berarti identitas individu cuma ilusi?

Kelas menjadi hening.

WIRA

(senyum kecil yang penuh teka-teki)

Bukan ilusi. PILIHAN. Kita memilih menjadi individu. Kita memilih menjadi kolektif. Pilihan itulah yang membuat kita sadar. Pilihan itulah yang membuat kita seadanya dan persis cukup.

Seorang mahasiswa lain, lebih muda, di dekat belakang, setengah mengangkat tangan — sebenarnya bukan pertanyaan tentang kesadaran sama sekali.

MAHASISWA 2

(lebih pelan, pertanyaan yang sebenarnya ingin diajukan semua orang sejak mereka tahu siapa dia)

Pak. Apa kita akan aman? Dari Pemudaran yang lain. Jakarta yang lain.

Aula kuliah menjadi sangat hening.

WIRA

(tanpa senyum penuh teka-teki kali ini, hanya jujur)

Tidak. Saya tidak bisa menjanjikan itu. Yang bisa saya katakan, ada orang-orang — dewa dan fana — yang memeriksa sambungan-sambungannya setiap hari, dengan cara yang tak dilakukan siapa pun delapan tahun lalu. Yang bisa saya katakan, kalau itu terjadi lagi, kalian tak akan menghadapinya dengan satu anak enam belas tahun dan sebuah tas punggung. Kalian akan menghadapinya bersama semua orang yang memilih tinggal dan membantu membangun sesuatu yang lebih baik daripada kepastian.

(jeda)

WIRA

Itu bukan keselamatan. Itu cuma — tidak sendirian di dalamnya. Itu jawaban terbaik yang saya punya. Kita akan terus mencoba bagaimanapun juga.

(jeda)

WIRA

Kuliah selesai. Sampai ketemu Kamis. Baca bab sebelas. Akan ada kuis. Yang tak sempurna, mungkin.

BEL BERBUNYI — Westminster Chimes, sama seperti penanda waktu kahyangan.

Para mahasiswa keluar berbaris. WIRA mengemas tasnya. Menatap keluar ke cakrawala Malang. Ia BERKEDIP — istana-istana kahyangan bertumpang tindih dengan gedung-gedung fana untuk satu frame. Dua dunia. Satu orang.

RADEN JINAR muncul di ambang pintu, setelan manusia kini pas dengan wajar.

RADEN JINAR

Sidang satu jam lagi. Ki Yuwenda bawa PowerPoint. Surreal.

WIRA

(menyandang tasnya, tertawa)

Tiran yang bertobat belajar teknologi modern. Itu kemajuan.

Ia mengikuti Raden Jinar keluar. Langit berkedip, dua dunia bertumpang tindih. WIRA milik keduanya.

Tak sempurna. Tapi cukup.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)