Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
EKS. PELABUHAN JAKARTA - SIANG - SEBULAN KEMUDIAN
Pelabuhan itu BERUBAH TOTAL.
Sebulan lalu ini adalah luka dengan seorang anak lelaki berdiri di dalamnya.
Kini: perancah cahaya murni menjalin medan kuantum, berdengung lembut, lebih mirip rumah kaca daripada benteng.
Di tempat yang dulu hampa, kini ada STRUKTUR — bukan titah ilahi yang memaksa kenyataan menutup, melainkan SEGEL KOLABORATIF, dibangun dengan tangan, diperdebatkan, sudah direvisi dua kali, dijaga karena pilihan, bukan paksaan.
Insinyur-insinyur fana berhelm proyek berjalan di samping roh-roh yang terbuat dari air sungai setengah teringat, membandingkan catatan di sebuah tablet yang seharusnya tak bisa menampilkan matematika kahyangan tapi toh bisa.
Seseorang telah merekatkan tanda tulisan tangan pada sebuah penopang: HARI KE-31.
MASIH BERTAHAN.
Di pusatnya: Sang Jembatan.
Tujuh makhluk sekarang — tiga dewa, tiga fana, satu roh — menahan kenyataan stabil bersama, masing-masing tampak sebagai tiang cahaya lembut yang sedikit condong ke yang lain, seperti pohon-pohon yang tumbuh terlalu berdekatan dan belajar bersandar.
WIRA salah satunya.
Bukan lagi satu-satunya tiang.
Bukan lagi sendirian.
RADEN JINAR
Satu sudah. 699.999 lagi.
WIRA
Dengan kecepatan ini, butuh tiga tahun membangunkan semuanya.
Mereka menyaksikan seorang perempuan muda, baru bangun, terbungkus selimut, seorang dokter berlutut di sampingnya.
WIRA
Pria yang berteriak itu. Sektor 3 pelabuhan. Kita bisa melihat mulutnya. Mencoba menyebut sebuah nama. Sudah ketemu siapa yang dia panggil?
RADEN JINAR
Istrinya. Dia berada di luar zona Pemudaran. Dia datang ke sini setiap hari selama delapan tahun.
WIRA
Bangunkan dia berikutnya.
RADEN JINAR
Protokol bilang kita berurutan —
WIRA
Aku tahu protokol bilang apa. Bangunkan dia berikutnya.
Jeda panjang.
RADEN JINAR
Ya. Baik.
Mereka berjalan melintasi pelabuhan. WIRA berhenti.
Dekat sebuah tenda medis, sebuah wajah yang ia kenal. DIMAS, berpakaian biasa, bukan jas lab, berdiri di luar sebuah pembatas yang jelas ia lewati dengan menyuap atau memohon, menatap satu titik tertentu di medan kuantum dengan keheningan khas orang yang sudah delapan tahun menunggu telepon yang tak pernah datang.
WIRA
(pelan, kepada Raden Jinar)
Itu rekan kerjaku.
Raden Jinar mengikuti arah pandangnya.
RADEN JINAR
Titik suspensi yang ia pandangi — Sektor 4, posisi 14. Dijadwalkan minggu depan.
WIRA
Itu sepupunya.
Ia berjalan menghampiri. Dimas tak menyadarinya sampai ia tepat di sana.
DIMAS
(tak menoleh, setengah tertawa)
Tahu nggak, waktu kamu berhenti masuk kerja, kantor bilang “cuti pribadi”. Aku bilang ke tanteku kamu mungkin cuma capek sama telepon.
Akhirnya ia menoleh. Benar-benar menatap.
DIMAS
Kamu agak berpendar. Di pinggir-pinggirnya. Itu baru?
WIRA
Itu sudah ada dari dulu. Kamu aja yang belum bisa lihat.
Dimas menoleh kembali ke medan itu. Ke sosok seorang pria yang hanya pernah ia kenal membeku.
DIMAS
Kamu yang melakukan ini. Delapan tahun. Sambil nanya aku mau sambal tambahan atau nggak buat mi-ku.
WIRA
Kayaknya nggak sopan kalau nggak nanya.
Tawa pendek yang patah dari Dimas.
DIMAS
Minggu depan. Mereka terus bilang minggu depan.
WIRA
(jeda, lalu, pelan, kepada Raden Jinar)
Majukan dia. Besok.
RADEN JINAR
(sudah tahu lebih baik daripada membantah)
Besok.
Dimas tak mengerti apa yang baru saja terjadi. Tak perlu mengerti.
DIMAS
Eh. Kalau semua ini sudah selesai. Hotpot-nya masih ada di meja.
WIRA
Jumat?
DIMAS
Jumat.
WIRA berjalan terus. Tak jauh, di bawah sebuah tenda peneduh, sebuah reuni kecil yang sudah berumur berminggu-minggu tapi masih cukup segar untuk menarik perhatiannya: NENEK SRI WULAN, lebih mantap sekarang, duduk bersama SITI, yang dibangunkan dua belas hari lalu, dan RINA, kecil dan serius, akhirnya kembali dalam jangkauan lengan ibunya setelah delapan tahun terpisah sejauh sebelas meter.
NENEK
(kepada Rina, lembut)
Ibumu bilang kamu suka kura-kura.
RINA
(sangat serius, lima tahun rasa tiga belas)
Aku suka yang cangkangnya lunak. Mereka lebih langka.
Siti mendongak. Melihat WIRA lewat. Sesuatu di wajahnya berubah.
SITI
(kepada Rina, pelan)
Sayang. Lihat laki-laki di sana itu? Dialah yang menjaga kita tetap aman. Selama ini. Dia.
Rina mengamatinya dengan penilaian lugas tak berkedip yang hanya dimiliki anak kecil terhadap orang asing.
RINA
Kamu nggak kelihatan kayak orang yang menahan langit.
WIRA
(berjongkok setinggi dirinya)
Orang yang menahan langit itu kelihatannya gimana?
RINA
(menimbangnya dengan sangat serius)
Lebih besar, kayaknya.
WIRA tertawa — tawa sungguhan yang mengejutkan — dan Nenek menyaksikannya melakukan itu dengan kebanggaan khas seseorang yang ingat persis seperti apa bunyi tawa itu saat ia enam belas.
NENEK
(kepada Siti, tak cukup pelan)
Itu dia dapat dari pihak ibunya.
WIRA berdiri, malu, senang, melambai sekali, dan berjalan terus.
Raden Jinar menjajarinya.
WIRA
Ki Yuwenda di mana?
RADEN JINAR
Mengawasi. Selalu mengawasi. Menunggu kita gagal.
WIRA
Dan kalau kita nggak gagal?
RADEN JINAR
Maka mungkin — hanya mungkin — dia akan sadar bahwa kepastianlah sangkar yang sebenarnya selama ini.
DISSOLVE KE:
INT. RUANG SINGGASANA - MALAM
Takhta itu KOSONG.
WIRA sudah jarang duduk di atasnya.
Kini lebih bersifat simbolis.
Sidang Kahyangan berkumpul — ratusan sekarang, dewa, fana, roh, iblis, entitas yang tak masuk kategori mudah mana pun.
Semuanya MEMILIH untuk berada di sini.
WIRA
Kita sudah melakukan ini selama sebulan. Revolusi yang tak sempurna — cukup untuk satu langkah lagi, kebanyakan hari. Sebagian dari kalian percaya pada ini. Yang lain menimbang untung-rugi. Sebagian ada di sini cuma untuk melihatku gagal.
Beberapa dewa TERTAWA. Itu benar.
WIRA
Tidak apa-apa. Titah yang baru bukan soal MEMAKSA percaya. Ini soal menciptakan RUANG bagi kepercayaan untuk tumbuh.
Sebuah suara dari lantai sidang — seorang dewi tua, jubahnya dari sebuah dinasti yang bahkan Raden Jinar harus mencari tahu dulu.
DEWI SEPUH
Ruang bagi kepercayaan juga berarti ruang bagi KEGAGALAN. Tiga kuil perbatasan sudah terbengkalai tanpa titah yang memaksa perawatannya. Pemuja sungguhan. Akibat sungguhan.
WIRA
Anda benar. Itu tanggung jawab kami. Apa yang bisa memperbaikinya?
DEWI SEPUH
(terkejut ditanyai)
Rotasi relawan. Fana dan ilahi sekaligus. Sudah pernah diusulkan. Selalu ditolak.
WIRA
Siapa yang menolaknya sekarang?
Hening. Tak ada yang menolak.
WIRA
Kalau begitu disetujui. Raden Jinar akan menemui Anda setelah ini untuk menyusun jadwalnya.
Sang dewi tua duduk kembali, jelas gelisah betapa mudahnya itu. Di suatu tempat di kerumunan, Gagak Seta membisikkan sesuatu yang membuat dua roh di dekatnya terkekeh.
Dari belakang: KI YUWENDA muncul.
Semua menegang.
Tapi ia tidak menyerang.
Ia hanya mengamati.
WIRA
Ki Yuwenda. Waktu sebulannya sudah habis.
Ki Yuwenda berjalan maju. Sidang MEMBELAH.
KI YUWENDA
Kau membuktikan sesuatu. Jakarta lebih stabil dari sebelumnya. Kekacauan yang kuramalkan belum terwujud.
Jeda.
KI YUWENDA
Belum.
WIRA
Belum. Mungkin besok gagal. Kita tak tahu. Tapi kita mencoba. Dengan sadar. Dengan sengaja. Sambil mengakui kita mungkin salah.
Ki Yuwenda menatap. Lalu, perlahan, TERSENYUM. Bukan ramah. Tapi tulus.
KI YUWENDA
Sang Penguasa Langit bilang kau akan mengatakan itu. Hampir persis begitu.
WIRA
Apa dia bilang apa yang akan kau lakukan berikutnya?
KI YUWENDA
Tidak. Katanya aku harus MEMILIH. Tanpa kepastian. Tanpa tahu hasilnya.
Ia menatap sekeliling sidang.
KI YUWENDA
Aku memilih mengawasi. Bukan menghalangi. Belum membantu. Tapi mengamati. Dan mungkin — belajar.
Ia membungkuk. Hanya sedikit.
KI YUWENDA
Jangan kecewakan aku. Aku ingin salah. Aku hanya tak yakin bisa.
Ia pergi. Sidang MELEDAK — bersorak, berdebat, semuanya TERLIBAT.
WIRA duduk di lantai, kehabisan tenaga. Raden Jinar di sampingnya.
RADEN JINAR
Kau berhasil. Kau mengubah pikiran Ki Yuwenda.
WIRA
Aku nggak mengubah pikirannya. Aku memberinya RUANG untuk mengubah pikirannya sendiri. Itulah intinya.
Mereka menyaksikan sidang berdebat di bawah.
WIRA
Mereka sudah berdebat tiga jam.
RADEN JINAR
Soal apa?
WIRA
Nggak ada yang ingat lagi.
Jeda.
WIRA
Kurasa itu bagus.
DISSOLVE KE: