Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
GEMA SANG PENGUASA LANGIT
Suka
Favorit
Bagikan
9. TUJUH PENOPANG
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. KAHYANGAN AGUNG - BILIK KECIL - BERLANJUT

WIRA menyelinap pergi selama enam puluh detik.

Sebuah ruang depan berdebu, tak terpakai berabad-abad.

Ia menutup pintu.

Duduk di lantai.

Memejamkan mata.

Dan menjangkau — bukan Jakarta secara luas.

Melainkan satu titik tertentu.

WIRA

(berbisik, mata terpejam)

Nenek. Wira pulang. Wira bakal memperbaiki ini. Wira bakal bangunin Nenek.

Suaranya tercekat.

Ia membuka mata.

Mengusapnya.

Berdiri.

Berjalan keluar ke koridor.

Kembali bekerja.

Tapi entah bagaimana, lebih ringan.

INT. BALAI DEWAN KAHYANGAN - MALAM

Sebuah ruangan melingkar.

Tanpa kepala.

Tanpa hierarki.

Para dewa yang tersisa berkumpul — mungkin lima puluh dari ribuan.

Tapi mereka HADIR.

RADEN JINAR

Segel Jakarta sedang gagal. Tanpa intervensi, tujuh ratus ribu nyawa yang tersuspensi akan larut menjadi Suwung atau terbangun ke dalam kekacauan.

GAGAK SETA

Kaisar baru kita dengan baik hatinya menghapus titah ilahi. Terus sekarang gimana?

Ia tak bermaksud kejam. Hanya jujur. WIRA memaksa dirinya fokus.

WIRA

Di bawah titah yang baru, kita nggak bisa memaksa. Kita harus MEMBANGUNNYA ULANG. Bersama. Jakarta butuh kesadaranku terpecah jadi tujuh bagian. Itu batas MINIMUM untuk menahan jembatan sendirian. Tapi gimana kalau aku nggak sendirian? Gimana kalau alih-alih SATU kesadaran di tujuh posisi, kita punya TUJUH kesadaran di tujuh posisi?

GAGAK SETA

Maksudmu kami harus bantu kau MENJADI jembatan?

WIRA

Maksudku kita bangun jembatan yang LEBIH BAIK. Yang nggak mengharuskan aku melupakan diriku sendiri. Yang dijaga lewat kerja sama, bukan pengorbanan.

Hening. Tak ada yang bergerak.

WIRA

(lebih pelan, hal tersulit yang ia ucapkan malam itu)

Aku sebenarnya nggak tahu ini bakal berhasil. Aku belum pernah minta tolong sebesar ini kepada siapa pun. Aku cuma pernah diminta memberi, atau diperintah patuh. Aku nggak tahu cara melakukan bagian yang ini. Aku cuma tahu cara lama itu sebentar lagi membunuh tujuh ratus ribu orang, dan aku lebih memilih gagal pada sesuatu yang baru daripada berhasil pada sesuatu yang terus-menerus semahal ini.

Pengakuan itu mendarat lebih keras daripada pidato mana pun.

Hening. Lalu:

BARA

Aku ikut.

Ia berdiri. Berjalan ke sisi WIRA.

PUSPA ASIH

(pelan, pada siapa pun)

Sembilan ratus tahun aku diminta menyaksikan penderitaan yang tak boleh kucegah. Ini pertama kalinya seseorang di ruangan ini memintaku benar-benar MELAKUKAN sesuatu, bukannya sekadar merasa dengan benar.

Ia berdiri.

PUSPA ASIH

Belas kasih menuntut tindakan. Aku ikut.

GAGAK SETA

(mengusap tengkuk, tak biasanya serius selama satu kalimat penuh)

Lima ratus tahun di bawah gunung mengajariku rasanya ditindih sesuatu yang tak bisa kudebat. Aku lebih suka DITOPANG oleh sesuatu yang kupilih.

Jeda. Ia menyeringai lagi, sudah menyesali ketulusannya.

GAGAK SETA

Ah, ya sudahlah. Aku pernah menopang kahyangan sebelumnya.

Satu per satu, para dewa berdiri. Segera dua puluh mengelilingi WIRA.

WIRA

Aku butuh kalian bergabung denganku. Menautkan kesadaran. Bukan menyerahkan milik kalian — BERBAGI. Masing-masing mengambil satu posisi tempat aku dulu memegang ketujuhnya.

Ia memejamkan mata.

Menjangkau serpihan Jakarta-nya — bukan dengan cara dulu, memaksa pikirannya ke tujuh luka yang terpisah.

Kali ini ia menjangkau seperti menjangkau tangan orang lain dalam gelap: ragu, terbuka, siap ditolak.

Kesadarannya MEMANJANG — kali ini tidak memecah.

MENYAMBUNG.

Ruangan itu menjadi sangat tenang.

Dua puluh dewa berdiri dalam lingkaran longgar, mata terpejam satu demi satu seperti lampu-lampu padam di sebuah gedung di akhir hari panjang, hanya saja gedung ini baru mulai terbangun.

Bara memejamkan mata lebih dulu.

Kesadarannya MENJANGKAU — dan TERHUBUNG pada salah satu serpihan WIRA.

Sensasinya MELUAP.

Bara TERSENGAL, benar-benar terhuyung, bersandar pada sebuah pilar.

Untuk seorang bocah yang membawa tombak lebih tua dari kebanyakan agama, suara yang ia keluarkan sangat muda.

BARA

Aku — aku bisa merasakan JAKARTA. Wajah-wajah yang tersuspensi. Suwungnya —

WIRA

Ya. Tahan. Tahan saja.

Puspa Asih bergabung. Lalu Gagak Seta. Lalu dua dewa lagi menjangkau posisi berikutnya SECARA BERSAMAAN — sebuah persaingan lama yang tak sepenuhnya mereka lepaskan, masing-masing yakin yang lain harus mengambil serpihan timur.

Jembatan BERGOYANG. Sebagian jalinan kuantum di atas Jakarta BERGETAR, kasatmata, ratusan kilometer jauhnya. Satu serpihan — yang belum diklaim siapa pun — mulai TERGELINCIR, tak tertambat, benang tanpa tangan yang memegangnya.

RADEN JINAR

(mendesak)

Kita kehilangan posisi enam! Seseorang —

WIRA

(mata masih terpejam, suara tegang)

Berhenti berebut yang bagus dan ambil yang tak diinginkan siapa pun!

Sekejap hening yang memalukan. Lalu SAMUDRA AJI, masih bermuram di tepi ruangan, mendesah ala makhluk yang selamanya terbebani dan menjangkau serpihan yang tergelincir itu tanpa sepatah kata. Tersangkut. Bertahan.

SAMUDRA AJI

(sudah menyesalinya)

Jangan ada yang berterima kasih. Nanti aku keterusan.

Dua dewa yang bersaing itu, tersipu, masing-masing mengambil satu posisi tersisa tanpa membantah lagi.

Lalu satu per satu dewa, masing-masing mengambil serpihan jembatan.

Dan perlahan — PERLAHAN — beban di WIRA BERKURANG.

Ia tak lagi menahan ketujuh posisi sendirian.

Ia menahan SATU.

Dan enam dewa menahan sisanya.

WIRA membuka mata. Air mata mengalir. Tapi tersenyum.

WIRA

Berhasil. Ini beneran BERHASIL.

RADEN JINAR

Segelnya menstabil! Pemudaran Jakarta berbalik arah!

SMASH CUT KE:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)