Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
EKS. HALAMAN ISTANA - BERLANJUT
KEKACAUAN MELEDAK. Tapi bukan kekacauan penghancuran. Kekacauan PERUBAHAN.
Langit di atas halaman ROBEK sepanjang sebuah jahitan yang semenit lalu belum ada — bukan luka compang-camping menjerit milik Pemudaran, tapi sesuatu yang lebih bedah.
Disengaja.
Kekuatan ilahi KI YUWENDA tidak menghantam halaman itu melainkan TIBA di sana, utuh sempurna, seperti sebuah vonis tiba.
Kenyataan RETAK sepanjang garis patahan lama, ubin-ubin giok terlepas dan menggantung di udara, menolak memutuskan apakah akan jatuh.
Melalui celah itu mengalir sebuah pasukan IBLIS — musuh tertua kahyangan, bukan lahir dari neraka melainkan dari setiap bidah yang pernah ditolak kahyangan untuk diajak bicara.
Beberapa bersayap dari titah pengadilan yang tercabik.
Beberapa bermulut terlalu banyak, semuanya melafalkan titah lama serempak.
Mereka TERPIKAT ke sini oleh satu janji menggoda tentang tatanan yang dipulihkan: kepastian, lagi, selamanya.
Tapi para dewa dewan SIAP — atau sesiap siapa pun yang separuh tenggelam dalam sistem saraf kota lain.
Tubuh mereka berdiri di halaman.
Perhatian mereka terbelah tujuh arah, satu benang masing-masing masih tertambat pada medan kuantum Jakarta, menahan wajah beku seorang asing tetap stabil bahkan saat tanah bergetar di bawah kaki mereka sendiri.
BARA melesat maju, tombaknya kabur — bukan berusaha MEMBUNUH para iblis, melainkan MENGGANGGU formasi mereka.
BARA
Mereka bertarung sebagai satu kesatuan! Pecahkan kesatuannya, akhiri pertarungannya!
GAGAK SETA TERTAWA, menggandakan diri, setiap salinannya menyambar seekor iblis dan MELEMPARKANNYA kembali melalui celah.
GAGAK SETA
Kembali ke pengirim! Kiriman khusus dari JASA POS SEADANYA!
PUSPA ASIH tidak bertarung sama sekali.
Ia BERJALAN menembus pertempuran, dan setiap iblis yang ia sentuh menjadi TENANG.
PRAJURIT IBLIS
Kenapa — kenapa kita bertarung?
PUSPA ASIH
Itulah pertanyaannya, bukan?
Di pusat segalanya: WIRA.
TIDAK bertarung.
MENGKOORDINASI.
Kesadarannya menjangkau seluruh medan perang, mengarahkan pertahanan seperti memimpin simfoni.
WIRA
(kepada Bara)
Sayap kiri! Tiga iblis bergerak ke —
Bara BERPUTAR. Mencegat dengan sempurna.
Seorang iblis bermulut terlalu banyak menerobos garis timur, melafalkan titah lama dalam enam suara bertumpuk, setiap kata berusaha menahan tanah tempatnya jatuh menjadi diam. SAMUDRA AJI, masih separuh tenggelam dalam serpihan Jakarta-nya, MERAUNG naik dari kolam pantul pelabuhan yang entah bagaimana muncul di halaman, dan begitu saja MENENGGELAMKAN makhluk itu dalam empat ribu tahun kesabaran yang menumpuk.
SAMUDRA AJI
(menyemburkan air, jijik)
Aku TIDAK muncul ke permukaan untuk INI.
Ia tenggelam kembali sebelum sempat ada yang berterima kasih.
Selama satu detik penuh, halaman itu benar-benar hening. Asap melayang. Bangkai iblis larut menjadi kabut biasa. Gagak Seta mengusap dahi, menyeringai, sudah menyusun cerita yang akan ia ceritakan nanti. Bara menurunkan tombaknya sedikit. Puspa Asih mengembuskan napas.
Belum selesai. Hanya, sejenak, TAMPAK seperti hampir selesai.
Lalu pertempuran menemukan sasaran sejatinya. Bukan para dewa. TALINYA.
Tiga iblis, lebih cepat dari yang lain, memisahkan diri dari celah utama dan menukik lurus ke arah tali cahaya samar yang nyaris tak terlihat yang menghubungkan BARA dengan posisi Jakarta-nya yang belum utuh — jembatan kerja sama itu sendiri, masih mentah, masih baru, masih bisa diputus.
RADEN JINAR
(berteriak melintasi halaman)
MEREKA MENGINCAR SAMBUNGANNYA —
Selama satu detik mengerikan, semua orang terlalu jauh. Bara tak melihat mereka datang. Jika tali itu putus, Jakarta tidak sekadar goyah — ia TERPUTUS, seperti amputasi memutus, dan apa pun yang ada di ujung seberang tak akan kembali.
WIRA tak berpikir. Ia sudah BERGERAK, serpihannya meninggalkan pos di langit untuk menempatkan diri secara fisik — seorang bocah yang sesaat menjadi padat lagi, menghadang tiga iblis demi seutas cahaya yang lebih tipis dari detak jantung.
Ia menerima hantaman yang ditujukan pada sambungan itu. Ketiganya, sekaligus. Seharusnya itu menghancurkannya.
Tidak. Karena enam kesadaran lain, masih tertaut padanya lewat jembatan, MERASAKANNYA terjadi dan, tanpa diminta, menyangganya dari dalam — ketenangan Puspa Asih, keras kepala Gagak Seta, saraf mentah Bara, semuanya membanjir sekaligus menahannya.
WIRA terhuyung tapi berdiri. Talinya bertahan.
GAGAK SETA
(menatap)
Itu seharusnya nggak mungkin selamat.
WIRA
(terengah, setengah tertawa)
Ternyata aku nggak sendirian lagi. Aku terus lupa bagian itu.
Berakhir pada KI YUWENDA sendiri — kekuatan masih terkumpul, dahsyat, siap dilepaskan.
Tapi tangannya GEMETAR.
KI YUWENDA
Aku tak bisa. Aku tak bisa melepaskan kepastian. Aku tak bisa menerima bahwa tiga ribu tahun kerja mungkin —
WIRA
Bukan salah. Hanya BELUM LENGKAP.
WIRA melangkah lebih dekat.
WIRA
Kau membangun sesuatu yang megah. Sistemnya BEKERJA. Untuk sementara. Tapi zaman berubah. Dan sistem harus berubah bersamanya.
KI YUWENDA
Atau mereka harus DIHANCURKAN.
WIRA
Atau mereka bisa BERKEMBANG.
Ia mengulurkan tangannya. Bukan dalam perintah. Dalam undangan.
WIRA
Bantu aku. Kumohon. Aku nggak tahu apa yang kulakukan. Aku butuh orang-orang yang paham sistem lama untuk membantu membangun yang baru.
KI YUWENDA
Kau mau bantuan AKU? Setelah aku baru saja menyerangmu?
WIRA
Aku mau bantuan SEMUA ORANG. Itulah titah yang baru. Kita memerintah dengan PERSETUJUAN dan kita membangun lewat KERJA SAMA. Bahkan — TERUTAMA — dengan orang-orang yang tak setuju dengan kita.
Ki Yuwenda menatap tangan yang terulur itu.
Seluruh kahyangan MENAHAN NAPAS.
Untuk waktu yang panjang, tak ada yang bergerak. Kekuatan yang berkumpul di sekeliling kepalan Ki Yuwenda tidak memudar — ia hanya duduk di sana, tak memutuskan, seperti ombak yang mempertahankan bentuknya satu detik mustahil lebih lama sebelum memilih apakah akan pecah. Di balik matanya, tiga ratus tahun kepastian dan duka seorang dewa sungai selama empat ribu tahun sedang berdebat yang tak bisa didengar siapa pun di halaman itu.
Perlahan — SANGAT perlahan — kekuatan terkumpul Ki Yuwenda MEMUDAR.
KI YUWENDA
Kau gila.
WIRA
Mungkin. Tapi aku lebih memilih gagal mencoba daripada berhasil lewat kebohongan.
Ia tak menyambut tangan WIRA. Tapi ia MEMBUNGKUK. Hanya sedikit.
KI YUWENDA
Aku tak akan membantumu. Tapi aku juga tak akan menghalangimu. Belum. Buktikan titah barumu bisa bekerja. Kau punya satu bulan, Wira. Satu bulan untuk menstabilkan kahyangan. Untuk menyelesaikan Jakarta. Untuk membuktikan revolusi lebih baik dari tatanan. Kalau kau gagal — kahyangan akan kembali pada kepastian. Dengan atau tanpa persetujuanmu.
Ia LENYAP. Pasukan iblis mengikutinya.
GAGAK SETA BERSORAK.
GAGAK SETA
NAH, begitu caranya menang perang! Nggak usah bunuh-bunuhan, cukup bikin musuh mempertanyakan seluruh pandangan dunianya!
BARA
Kau membujuk Ki Yuwenda memberimu KESEMPATAN. Itu belum pernah terjadi.
WIRA duduk berat di tangga istana. Kehabisan tenaga.
WIRA
Satu bulan. Gimana kita bisa —
RADEN JINAR
Dengan cara yang sama seperti segala hal lain yang kau lakukan. Satu langkah tak sempurna sekali waktu. Jakarta dulu. Stabilkan segelnya. Bangunkan lautan jiwa.
WIRA
Lalu bangun ulang infrastruktur kahyangan di atas kerja sama alih-alih otokrasi.
GAGAK SETA
Semua dalam sebulan. Santai aja.
WIRA TERTAWA. Kelelahan. Sedikit histeris.
WIRA
Kita bisa. Karena alternatifnya membiarkan Ki Yuwenda benar. Dan aku TIDAK akan membiarkan otokrasi menang cuma karena demokrasi itu SUSAH.
DISSOLVE KE:
INT. PADEPOKAN ORDO ABADI - MALAM
Jauh dari istana. Sebuah aula dingin nan sempurna, setiap batu di tempatnya selama tiga ribu tahun.
KI YUWENDA berdiri sendiri di hadapan seorang pelayan yang berlutut — roh sungai kecil, muda, ketakutan, jelas mengharapkan perintah.
KI YUWENDA
Aku butuh kunci-kunci timur disegel ulang sebelum fajar.
Roh itu membungkuk, siap patuh tanpa tanya, seperti cara segala hal selalu berjalan di sini.
Ki Yuwenda berhenti. Sesuatu dari pidato Wira yang menyebalkan di halaman tadi rupanya masih tersangkut di suatu tempat di balik tulang dadanya.
KI YUWENDA
(melalui gigi terkatup, seakan kata-kata itu menguras sesuatu darinya)
Maukah kau. Bersedia. Menyegel ulang kunci-kunci timur sebelum fajar?
Roh itu mendongak, benar-benar terkejut. Ini belum pernah terjadi.
ROH SUNGAI
(ragu)
Tuan… sedang meminta?
KI YUWENDA
Aku sedang bereksperimen.
ROH SUNGAI
(jeda, lalu, hati-hati)
Saya lebih baik tidak. Tidak malam ini. Musim banjir sungai saya mulai saat fajar. Saya dibutuhkan di sana.
Rahang Ki Yuwenda mengeras. Setiap nalurinya ingin sekadar MEMERINTAHKANNYA saja. Ia tidak melakukannya.
KI YUWENDA
Kalau begitu jangan. Suruh orang lain.
ROH SUNGAI
(masih tertegun)
Saya tanya sepupu saya. Dia berutang budi. Mungkin dia mau.
KI YUWENDA
“Mungkin.”
ROH SUNGAI
Begitulah cara meminta bekerja, kan?
Roh itu pergi. Ki Yuwenda berdiri sendiri di aula sempurnanya yang kosong, memutar-mutar kata itu seperti batu yang ia tak yakin tajam atau halus.
KI YUWENDA
(pelan, pada siapa pun)
Mungkin.
Ia tak menyukainya. Tapi kunci-kunci timur tersegel ulang sebelum fajar — oleh seorang sepupu yang tak diperintah, yang sekadar memilih menolong seseorang yang pernah menolongnya.
Ki Yuwenda mencatat itu. Menyimpannya. Tak mengatakan apa-apa kepada siapa pun.
DISSOLVE KE: