Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
FADE IN:
EKS. JAKARTA - SMA KEMUNING - SORE
SUPER: “JAKARTA - DELAPAN TAHUN LALU - SORE ITU”
Kekacauan yang biasa. Bel pulang berbunyi. Motor-motor menderu. Teriakan di sana-sini. Seorang bocah jualan es teller dari gerobak yang kehilangan satu roda, diganjal batu bata.
WIRA MUDA (16), kacamata dililit selotip di bagian tengah, tas punggung lebih berat dari yang seharusnya, berjalan bersama dua teman sekelas — BUDI dan satu lagi yang tidak perlu disebut namanya, karena setelah hari ini dia tidak akan berarti apa-apa.
BUDI
Besok ulangan matematika. Kamu belajar malam ini, atau mau jadi orang yang betulan pintar lagi tanpa usaha?
WIRA MUDA
Aku belajar kok. Cuma aku juga jarang tidur.
BUDI
Dasar aneh. Eh — Jumat, film barunya Iko Uwais. Ikut nggak?
WIRA MUDA
(senyum tulus, santai, tanpa beban)
Ya jelas. Harus ada yang jelasin koreografi berantemnya ke kamu abis nonton.
Ponselnya bergetar. NENEK, tulis layarnya, dengan foto yang sudah tiga tahun ketinggalan.
WIRA MUDA
(mengangkat telepon, suaranya menghangat)
Nenek.
NENEK (V.O.)
(lewat telepon, bangga pada dirinya sendiri)
Nenek mau bikin pangsit goreng akhir pekan ini. Yang betulan. Ibumu bilang Nenek selalu bikin gosong, tapi kali ini Nenek punya resep BARU.
WIRA MUDA
Nenek selalu ngomong gitu tiap kali.
NENEK (V.O.)
Kali ini beda. Datang Sabtu. Bawa perut lapar dan sabar yang banyak, soalnya mungkin masih agak gosong sedikit.
WIRA MUDA
Dua-duanya Wira bawa. Sayang Nenek.
NENEK (V.O.)
Nenek lebih sayang. Belajar yang rajin buat ulanganmu.
Ia menutup telepon, masih tersenyum, lalu menjejalkan ponsel ke saku.
Budi berpisah di pertigaan menuju jalannya sendiri — jalan yang berkelok turun ke kawasan pelabuhan, sama seperti biasanya.
BUDI
Jumat ya! Jangan lupa!
WIRA MUDA
(berseru ke belakang)
Mana berani lupa.
Ia berjalan sendirian menuju pelabuhan, tas punggungnya memantul di punggung, enam belas tahun, dengan ulangan matematika, malam nonton film, dan sepiring pangsit yang sedikit gosong, semuanya menunggu minggu ini.
Tak satu pun akan terjadi.
EKS. PELABUHAN JAKARTA - MALAM
SUPER: “PELABUHAN JAKARTA - DELAPAN TAHUN LALU”
Langit MENJERIT.
Kenyataan sendiri mengeluarkan SUARA saat ia robek, sebuah frekuensi yang ada di antara dimensi, di antara keadaan-keadaan wujud.
Seorang pedagang kaki lima menjatuhkan ponselnya.
Layarnya retak menghantam aspal.
Putrinya, AISYAH, lima tahun, tas punggung merah muda, satu sepatu talinya lepas, menarik-narik tangannya.
AISYAH
(suara kecil, bingung)
Bapak? Itu suara apa?
Ia tidak menjawab.
Di atas pelabuhan: SEBUAH LUBANG.
Bukan kegelapan — kegelapan masih sebuah warna, masih sesuatu yang bisa dipegang oleh mata.
Ini adalah ketiadaan EKSISTENSI itu sendiri, sebuah kesalahan yang membuat mata tergelincir, menolak membentuk wujud apa pun.
Di sekelilingnya, langit tidak sekadar menggelap, melainkan TAK BISA MEMUTUSKAN dirinya — awan lupa ke arah mana mereka bergerak, burung-burung membeku di tengah kepakan sebelum jatuh satu per satu, seperti nada panjang yang akhirnya menyerah.
LUBANG itu bukan hanya mengancam Jakarta. Di seluruh planet, kenyataan RETAK —
KAMERA MELESAT KE ATAS, meninggalkan atmosfer Jakarta dalam kaburnya kecepatan.
Kita melihat Bumi dari orbit — retakan emas menjalar seperti jaring laba-laba di seluruh benua.
MULAI MONTASE ENTROPI GLOBAL
EKS. SHANGHAI - THE BUND - BERLANJUT
Cakrawala yang butuh seratus tahun ambisi untuk dibangun BERKEDIP — bukan lampu yang padam, melainkan gedung-gedungnya sendiri yang kehilangan keyakinan akan bentuknya.
Untuk satu frame, Menara Mutiara adalah sebuah menara. Frame berikutnya, ia menjadi tiang aksara langit bergerigi, huruf-huruf yang tak punya nama dalam bahasa mana pun yang masih hidup.
Seorang kapten feri di Sungai Huangpu mencengkeram kemudi dan melihat bayangannya sendiri di kaca jendela tersendat di antara dua wajah.
EKS. NEW YORK - TIMES SQUARE - BERLANJUT
Seribu layar, menjual seribu hal, semuanya BERDARAH serentak menjadi aksara segel yang sama berpendar, garis-garis emas merambati papan reklame seperti sulur yang menemukan pegangan.
Para turis memotretnya sebelum mengerti itu apa.
Di suatu tempat di bawah, kisi-kisi kereta bawah tanah mengembuskan uap yang, selama tepat satu detik, berbau dupa kuil enam ribu kilometer dan satu dimensi jauhnya.
EKS. PARIS - MENARA EIFFEL - BERLANJUT
Balok-balok besi TERURAI seperti benang yang ditarik dari sweter, siluet menara larut ke atas dari ujungnya.
Setiap untai logam menggantung di udara setengah detik lebih lama dari yang diizinkan gravitasi sebelum ia pun menyerah dan jatuh.
Sepasang kekasih di bangku taman tidak berlari. Mereka hanya menggenggam tangan lebih erat, seperti yang dilakukan orang ketika berlari sudah bukan lagi intinya.
EKS. LONDON - BIG BEN - BERLANJUT
Jarum jam berputar MUNDUR, makin lama makin cepat, berdentang pada jam-jam yang belum terjadi dalam nada yang tidak ada di piano mana pun.
Di seberang Sungai Thames, setiap arloji di setiap pergelangan tangan mulai melakukan hal yang sama — sebuah kota yang diam-diam berselisih dengan dirinya sendiri soal pukul berapa sekarang.
EKS. TOKYO - PERSIMPANGAN SHIBUYA - BERLANJUT
Persimpangan paling banyak dilintasi di Bumi BERPUTAR dalam lingkaran — tiga langkah yang sama, payung yang sama miring melawan embusan angin yang sama, berulang-ulang.
Sebuah sistem yang gagal memproses sejuta koordinat yang semuanya mencoba menempati satu saat yang sama.
Seorang pesepeda melewati putaran itu empat kali sebelum sadar bahwa ia tidak pernah benar-benar meninggalkan zebra cross.
EKS. SELAT HORMUZ - SENJA - BERLANJUT
Lampu navigasi sebuah kapal tanker berkedip sekali, dua kali, lalu bertahan pada warna yang tidak ada dalam kode maritim mana pun.
Di anjungan, seorang operator radio menyaksikan siaran bursa saham menggulirkan angka-angka yang tak lagi cocok dengan mata uang apa pun di Bumi, lalu diam-diam berhenti menonton.
Di bawah dek, belum ada yang sadar. Di atas dek, semua orang sudah tahu.
Sembilan puluh detik.
Seluruh dunia mengetahui, dalam sekejap, bahwa sesuatu di bawah kenyataan telah terlepas.
EKS. BAGHDAD - SUNGAI TIGRIS - SENJA - BERLANJUT
Dua belas abad kota di sepanjang satu sungai.
Kubah, menara, jembatan, pasar.
Jalan buku tua tempat, menurut legenda, Sungai Tigris pernah mengalir hitam oleh tinta.
Azan magrib bergema dari seribu pengeras suara, dan semuanya terputus di tengah kata.
Sungai Tigris BERHENTI.
Bukan membeku.
Berhenti.
Rata seperti kaca, memantulkan langit yang sudah retak.
Lalu WAKTU Baghdad runtuh.
Bukan bangunannya, melainkan ZAMAN-zamannya.
Bata era Abbasiyah berjatuhan entah dari mana menimpa menara-menara kaca.
Balkon-balkon Utsmaniyah terlipat masuk ke dalam beton.
Setiap abad yang pernah dijalani kota itu tiba pada detik yang sama, dan kota itu tak sanggup menampung semuanya.
Di atap sebuah rumah di Karrada, seorang GADIS (12) menyaksikan langit terbelah.
Benang layang-layang mengendur di tangannya.
Layang-layang itu terus naik, terikat pada ketiadaan.
Jembatan-jembatan terlipat ke dalam sungai.
Menara-menara duduk menyusut ke dalam dirinya sendiri.
Tembok debu membumbung —
WIDE, ketika debu mengendap: tak ada cakrawala.
Hanya sebuah cekungan dangkal kaca kelabu tempat sebuah kota pernah berdiri, dan Sungai Tigris mengalir ke dalamnya lalu lenyap.
Tak ada yang menyegel Baghdad. Tak ada yang tersisa untuk melakukannya.
EKS. DOHA - THE PEARL - SENJA - BERLANJUT
Sebuah pulau yang tiga puluh tahun lalu belum ada.
Pasir dipompa dari dasar laut, lalu kota marina dituang di atasnya: menara-menara Porto Arabia, hutan tiang kapal pesiar, kafe-kafe yang baru menyalakan lampu.
RETAKAN itu menyeberangi Teluk. Tanpa peringatan. Tanpa kesempatan kedua.
The Pearl MENGURAI dirinya sendiri sesuai urutan pembuatannya, mundur.
Menara-menara kehilangan cahaya lantai demi lantai, dari atas ke bawah.
Kaca menjadi pasir.
Pasir menjadi dasar laut.
Laut, mengingat apa yang pernah dimilikinya, naik untuk merebutnya kembali.
Kurang dari semenit.
Teluk terhampar mulus.
Beberapa penanda alur masih berkedip di atas air terbuka, menuntun tak seorang pun ke tak ke mana-mana.
Di seberang teluk, cakrawala West Bay berdiri kecil, terang, dan sunyi, seolah ia tak pernah punya tetangga.
EKS. JAKARTA - LEVEL JALAN - BERLANJUT
WIRA muda (16) berdiri lumpuh di tengah kerumunan yang menjerit.
Ia menatap tangannya — tangan itu mulai BERPENDAR dengan cahaya emas yang sama seperti retakan di langit.
WIRA (V.O.)
Aku bukan sekadar saksi akhir dunia.
Aku merasakannya. Aku satu-satunya tambalan yang tersedia untuk dunia yang sudah crash.
WIRA mengulurkan tangan, menyentuh sebuah tiang lampu di dekatnya.
Di tempat jemarinya bertemu logam, dunia GLITCH.
Benda padat itu berubah menjadi kawanan piksel emas.
AKHIR MONTASE