Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. KAHYANGAN AGUNG - RUANG SINGGASANA - SEJAM SEBELUMNYA
Luas. Mustahil. Indah dengan cara yang menyakitkan jika dipandang langsung.
SANG PENGUASA LANGIT duduk di singgasananya.
Jubahnya tanpa cela.
Teh di sikunya sudah berselaput; dingin sejak berjam-jam lalu.
Di tangannya: sebuah tablet giok, dibolak-balik berulang kali.
SANG PENGUASA LANGIT
(pelan, pada siapa pun)
Aku menjaga segel-segel itu. Aku takut. Aku menyaksikan Resi Bagaskara membuka segel gagasan Titah Agung tiga ratus tahun lalu dan aku melihat kahyangan nyaris runtuh, lalu aku memberi perintah untuk menyegelnya kembali. Ki Yuwenda yang benar-benar melakukannya — membangun ulang pagar-pagar penjaga dengan tangannya sendiri, batu demi batu. Aku menandatangani titahnya. Dia yang membayarnya.
Keheningan panjang.
SANG PENGUASA LANGIT
Lalu aku menghabiskan tiga ratus tahun memastikan tak ada yang bertanya kenapa. Aku menjadi persis apa yang kucoba perbaiki.
RADEN JINAR (O.S.)
(dari ambang pintu, formal)
Yang Mulia. Sidang Kahyangan menanti kehadiran Anda.
Sang Penguasa Langit tak mendongak.
SANG PENGUASA LANGIT
Berapa dewa yang benar-benar hadir?
RADEN JINAR
Kehadiran empat puluh tiga persen.
SANG PENGUASA LANGIT
Turun dari tahun lalu.
RADEN JINAR
Turun dari tahun lalu.
Sang Penguasa Langit akhirnya mendongak.
SANG PENGUASA LANGIT
Sudah berapa lama kau mengabdi padaku?
RADEN JINAR
Delapan ratus empat puluh dua tahun, Yang Mulia.
SANG PENGUASA LANGIT
Apa aku kaisar yang baik?
RADEN JINAR
Anda adalah kaisar yang konsisten.
SANG PENGUASA LANGIT
(senyum tipis)
Itu diplomatis.
RADEN JINAR
Itu jujur.
Sang Penguasa Langit berdiri.
Berjalan ke jendela.
Memandang ke bawah menembus lapisan-lapisan kenyataan, ke dunia fana.
SANG PENGUASA LANGIT
Tahukah kau ada seorang anak lelaki di Malang yang menyangga Jakarta dengan kesadarannya yang telanjang selama delapan tahun? Sambil bekerja di layanan pelanggan dan makan mi instan yang sama setiap malam?
RADEN JINAR
Aku tahu soal protokol Jembatan.
SANG PENGUASA LANGIT
Aku tidak bicara soal protokolnya. Aku bicara soal ANAK ITU. Ibunya menyegel ingatannya karena tak sanggup melihat dia tahu apa yang telah ia lakukan. Maka dia hanya… ada. Hampa. Setengah hadir. Mengurus layanan pelanggan sementara sebagian dirinya menjerit di tujuh dimensi, menahan kuburan detak jantung.
Jeda sejenak.
SANG PENGUASA LANGIT
Dan kahyangan membangun seluruh sistemnya di atas penderitaannya. Tanpa persetujuannya. Bahkan tanpa sepengetahuannya.
RADEN JINAR
(hati-hati)
Alternatifnya adalah kegagalan berantai —
SANG PENGUASA LANGIT
Aku tahu alternatifnya. Aku yang mengesahkan alternatif itu. Akulah yang membangun sistem yang menjadikan anak itu satu-satunya alternatif yang mungkin.
Ia berbalik dari jendela.
SANG PENGUASA LANGIT
Aku mengundurkan diri, Jinar.
Ekspresi hati-hati Raden Jinar pecah. Hanya sedikit.
RADEN JINAR
Yang Mulia —
SANG PENGUASA LANGIT
Aku memilih menjadi fana. Aku butuh pengganti yang belum menghabiskan tiga ribu tahun belajar menjadi persis seperti aku. Seseorang yang tahu rasanya menyangga segalanya dan dilupakan karenanya. Seseorang yang tahu berapa harga dari yang seadanya.
Ia selesai menulis di tablet.
Mengulurkannya.
Raden Jinar menerimanya.
Perlahan.
SANG PENGUASA LANGIT
Temukan WIRA. Beri tahu dia siapa dirinya. Lalu — ini bagian terpenting — beri dia pilihan. Pilihan yang sungguhan. Bukan kesan pilihan. Pilihan yang nyata untuk berkata tidak.
RADEN JINAR
Dan kalau dia bilang tidak?
SANG PENGUASA LANGIT
Maka kahyangan pantas runtuh.
Ia bergerak menuju pintu. Berhenti.
SANG PENGUASA LANGIT
Satu hal lagi. Nenek anak itu. Dia salah satu yang hilang dalam statis.
RADEN JINAR
Aku tahu.
SANG PENGUASA LANGIT
Bangunkan dia lebih dulu. Sebelum apa pun. Apa pun yang terjadi — bangunkan dia. Delapan tahun dia berdiri di jendelanya, mendengarkan cucunya menghilang.
RADEN JINAR
Protokolnya tidak —
SANG PENGUASA LANGIT
Jinar. Bangunkan. Dia. Lebih. Dulu.
Ia berjalan keluar. Ke koridor. Menuju kefanaan.
Raden Jinar berdiri sendirian, memegang sebuah tablet giok yang hangat.
Ia membacanya.
Meletakkannya.
Lalu MELEMPARKANNYA ke dinding.
Tablet itu PECAH. Setiap serpihannya berpendar.
RADEN JINAR
(berteriak pada kehampaan)
Lalu SIAPA? Siapa yang akan duduk di takhta?
Ia terdiam.
Menunduk menembus lantai-lantai kristal, ke dunia fana.
Di suatu tempat di Malang, seorang pemuda bernama WIRA sedang tidur melewati alarmnya, sama sekali tak sadar bahwa ia akan menjalani hari terburuk dalam hidupnya.
RADEN JINAR
(pada dirinya sendiri)
Dia akan murka. Dia memang pantas murka.
Ia memungut satu serpihan tablet.
Aksaranya berbunyi: “PERCAYALAH PADANYA.”
RADEN JINAR
(pelan)
Gampang bagimu bicara begitu.
Ia membungkuk.
Satu bungkukan formal terakhir untuk sebuah sistem yang ia layani selama delapan ratus empat puluh dua tahun.
Lalu ia pergi mencari WIRA.
CUT KE: