Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. APARTEMEN WIRA - FAJAR
WIRA TERSENTAK bangun.
Bukan karena mimpi kali ini.
Ada seseorang di apartemennya.
RADEN JINAR berdiri di sudut.
Memakai pakaian kasual mahal yang terlihat SALAH di badannya.
WIRA
Pintuku terkunci.
RADEN JINAR
Kita perlu bicara soal apa yang kau lakukan di Jakarta.
Kata itu — Jakarta — membuat gigi WIRA ngilu.
WIRA
(hati-hati, menguji kata itu)
Jakarta? Aku nggak pernah ke Jakarta.
Ekspresi Raden Jinar berubah.
Pengenalan.
Ngeri.
Sang ibu menyegel ingatannya lebih sempurna dari yang diduga.
WIRA
(mundur ke arah pintu)
Aku nggak tahu kamu siapa atau gimana kamu bisa masuk, tapi aku mau kamu pergi sekarang.
RADEN JINAR
Aku mengerti kau tidak percaya.
WIRA
Aku nggak percaya APA PUN sekarang. Buktikan atau keluar.
Raden Jinar menimbangnya sesaat. Lalu menyingsingkan lengan bajunya sendiri. Di lengan bawahnya: sebuah bekas luka, tua, geometris, tujuh titik terhubung garis-garis halus — pola persis sebuah susunan jangkar jalinan.
RADEN JINAR
Ini kubawa sejak malam kau mengajukan diri. Setiap makhluk yang berdiri di ruangan itu membawa versi dari tanda ini. Tak memudar. Tak diizinkan memudar.
WIRA menatap tanda itu. Sesuatu di dadanya menyahut, pengenalan yang lebih tua dari ingatan, seperti bekas luka yang nyeri sebelum hujan.
Ia tak berkata apa-apa. Hanya mengambil ponselnya. Menelepon.
IBU (V.O.)
(menjawab, hangat, mengantuk)
Wira? Masih pagi. Semuanya baik-baik saja?
WIRA
Ma. Apa ada sesuatu yang terjadi padaku di Jakarta? Delapan tahun lalu?
Hening di ujung telepon. Bukan hening yang bingung. Hening yang TERTANGKAP — kualitas khas seseorang yang sedang memutuskan, saat itu juga, apakah delapan tahun perlindungan cermat akan ambruk.
IBU (V.O.)
(terlalu hati-hati)
Kenapa kamu tanya begitu?
WIRA
Ma. Kenapa Mama malah nanya kenapa aku nanya, bukannya langsung jawab?
Tak ada. Hanya embusan napas di telepon, dan di baliknya, bunyi kecil seorang perempuan yang duduk mendadak.
Keheningan itu mengatakan lebih banyak padanya daripada bekas luka mana pun.
WIRA
(pelan, pada telepon)
Aku harus pergi, Ma. Nanti kutelepon balik.
Ia menutup sebelum ibunya sempat. Berbalik pada Raden Jinar.
RADEN JINAR
(pelan, lembut, menghancurkan)
Ibumu menyegel ingatanmu. Untuk melindungimu. Biar kutunjukkan apa yang kau lupakan.
Ia memberi isyarat. Udara BERGELOMBANG.
KILAS — PENGLIHATAN, tidak berurutan tapi menurut bobotnya: WIRA muda melebur menjadi cahaya.
Neneknya, membeku di tengah napas di sebuah jendela, ponsel di tangan, selamanya mendengarkan.
Tas punggung itu, tertinggal di konsol, foto masih di dalamnya.
WIRA TERHUYUNG. Raden Jinar menangkapnya.
WIRA
(nyaris berbisik)
Aku… yang melakukan itu?
RADEN JINAR
Selama delapan tahun. Sebagian dirimu ada di Jakarta sekarang juga.
WIRA
Nenekku. Di penglihatan itu. Dia membeku. Di jendelanya.
RADEN JINAR
Dia ada di kawasan pelabuhan.
WIRA
Dia dengar aku mengajukan diri. Dengar aku bilang akan melakukannya. Dan dia nggak bisa mencegahku. Lalu Pemudaran sampai ke dia sebelum aku sempat menyegel seluruh zonanya dan dia cuma… membeku. Di tengah napas. Selamanya mendengarkan aku.
Akhirnya ia berbalik. Matanya basah.
WIRA
Dia masih beku? Apa dia salah satu dari lautan jiwa yang selama ini kutahan?
Ekspresi Raden Jinar mengatakan segalanya. WIRA duduk. Di lantai.
WIRA
Aku mau bangunin dia dulu. Sebelum apa pun. Sebelum kahyangan, sebelum takhta, sebelum semuanya.
RADEN JINAR
Bukan begitu cara —
WIRA
Aku tahu.
Ia tahu. Rahang mengeras. Tangan terkepal.
WIRA
Sidang tesisku tiga minggu lagi.
Raden Jinar berkedip.
RADEN JINAR
Kahyangan sedang runtuh.
WIRA
Aku tahu.
Tangannya bergerak ke tulang dadanya dan menekan di sana, seolah memeriksa dompet yang sudah bertahun-tahun ia tahu hilang.
WIRA
Tunjukkan sisanya.
INT. RUANG KUANTUM - RUANG PERSIAPAN JALINAN - DELAPAN TAHUN LALU
WIRA MUDA (16) berdiri di tengah sebuah ruang kuantum.
Para teknisi memasang sensor di kepala, dada, dan tangannya.
TEKNISI 3
Protokol jembatan mengharuskan fragmentasi menjadi tujuh posisi kesadaran yang terpisah. Kamu akan tersebar. Melintasi sekat-sekat dimensi.
WIRA MUDA
Berapa lama aku harus menahannya?
Hening.
TEKNISI 3
Selama dibutuhkan. Bisa berbulan-bulan. Bisa… bertahun-tahun.
WIRA muda memejamkan mata. Menarik napas. Membukanya. Bulat tekad.
WIRA MUDA
Tujuh ratus ribu orang. Itu… nggak banyak untuk diandalkan. Tapi cukup untuk satu langkah lagi.
CLOSE UP - WIRA
Matanya terbuka lebar mendadak.
Pupilnya tidak melebar.
Pupil itu MEMFRAKTAL, setiap tepinya terbelah menjadi tepi-tepi yang lebih kecil, lebih dalam, dan lebih dalam lagi.
EXTREME CLOSE-UP - IRIS
Jauh di dalam hitamnya, TUJUH TITIK CAHAYA menyala.
Mereka berputar seperti bintang yang runtuh. MERAH.
JINGGA.
KUNING.
HIJAU.
BIRU.
NILA.
UNGU. Tujuh Serpihan itu tenggelam ke dalam pupilnya seperti koin ke dalam air hitam, dan tak pernah muncul kembali.
PENDAKIAN
Kulit WIRA menjadi TEMBUS PANDANG.
Kita melihat kerangkanya, lalu urat-uratnya, lalu tak ada selain SIRKUIT EMAS yang berdenyut di tempat darah dulu mengalir.
WIRA
(V.O. — tujuh suara bertumpuk)
Sistem… Menstabilkan…
Tubuhnya LARUT MENJADI STATIS KUANTUM.
Ia menjadi kabut paparan-paparan yang saling tumpang tindih.
Tangan kanannya ada di ruang kuantum, di pelabuhan Jakarta, dan di ruang hampa SECARA BERSAMAAN.
Anatominya tersusun ulang menjadi sudut-sudut presisi yang berpendar.
Sebuah kerangka berkilauan membentang di atas celah tempat seorang anak lelaki berdiri.
WIRA ADALAH JEMBATAN.
EKS. PELABUHAN JAKARTA - SEGEL MENYALA - BERLANJUT
ADEGAN LUAS dari atas.
CAHAYA.
Terang benderang.
Mustahil.
Cahaya KUANTUM menyebar seperti jaring di atas retakan, membentuk geometri sakral — Kubus Metatron — tapi HIDUP.
Tujuh warna berbeda mengalir di dalamnya.
Orang-orang yang tersuspensi kuantum mulai STABIL. Tidak bangun. DITAHAN.
GAMBAR TERAKHIR: Bidikan udara luas.
Pelabuhan Jakarta.
JALINAN CAHAYA membentang melintasi seluruh zona Pemudaran.
Di pusatnya: tempat WIRA muda dulu berada.
Kini hanya CAHAYA.
STRUKTUR.
Sang Jembatan.
WIRA SUDAH LENYAP.
TAHAN GAMBAR INI. Lima detik penuh dalam hening.
PERLAHAN FADE KE HITAM.
KARTU JUDUL: “WIRA MENJADI ARSITEKTUR KENYATAAN. DAN MELUPAKAN ANAK LELAKI YANG DULU ADALAH DIRINYA.”
INT. APARTEMEN WIRA - BERLANJUT (MASA KINI)
Penglihatan itu memudar.
WIRA berdiri di apartemennya.
Raden Jinar mengamatinya.
WIRA
Tas punggungku. Aku meninggalkan tasku di sana. Di konsol. Apa masih ada di sana?
RADEN JINAR
Kami menyimpannya.
WIRA memejamkan mata.
WIRA
Ada sebuah foto. Nenekku. Lebaran. Dia tersenyum. Aku masih ingat hari itu — kami makan di rumah tetangga gara-gara pangsit gosongnya. Dia ketawa sampai nangis.
Ia membuka mata.
WIRA
Dan foto itu kutinggalkan di konsol di Jakarta demi menahan tujuh ratus ribu bayangan tetap bersama.
RADEN JINAR
Kau menyelamatkan tujuh belas juta orang.
WIRA
Aku tahu.
Ia mengambil jaketnya dari kursi.
WIRA
Ceritakan soal Sang Penguasa Langit.
Dan mereka pergi.
Melewati sebuah pintu yang terbuka ke sesuatu selain Malang.