Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. RUANG SINGGASANA - SIANG
WIRA duduk di takhta. Takhta itu menjadi LEBIH tembus pandang selama beberapa minggu terakhir. Kini kau bisa melihat STRUKTURNYA — cara ia dibangun. Jujur tentang konstruksinya sendiri.
Dewan berkumpul. Laporan mengalir masuk.
RADEN JINAR
Transisi birokrasi itu sulit. Tapi berjalan. Empat puluh persen pejabat kahyangan telah menyetujui protokol kolaboratif yang baru.
WIRA
Dan yang enam puluh persen?
RADEN JINAR
Mengamati. Menunggu. Menimbang untung-rugi.
WIRA
Itu nggak banyak. Tapi aku terima.
RADEN JINAR
Pemerintah-pemerintah fana skeptis. Tapi Indonesia setuju bekerja sama langsung dengan kita soal Jakarta — Menteri Susanti sendiri yang menandatangani perjanjian kerja samanya. Begitu pula PBB dan beberapa organisasi bantuan bencana.
WIRA
Skeptis lebih baik daripada menentang. Kemajuan.
GAGAK SETA
Kita sudah membuka segel empat puluh persen Gagasan Berbahaya. Mengintegrasikannya ke wacana publik. Ada kekacauan. Tapi kebanyakan cuma… obrolan.
PUSPA ASIH
Orang-orang membicarakan ketaksempurnaan ilahi. Tentang hak mempertanyakan kahyangan. Tentang apa sebenarnya arti otoritas.
WIRA
Itu persis yang kita butuhkan.
Raden Jinar melangkah maju lagi.
RADEN JINAR
Dan Jakarta? Solusi permanennya?
WIRA menarik napas.
WIRA
Kita bangunkan mereka. Lautan jiwa itu. Tapi tidak sekaligus. Bertahap. Dengan sistem pendukung yang siap. Medis, psikologis, sosial.
RADEN JINAR
Itu akan makan waktu bertahun-tahun.
WIRA
Ya sudah, bertahun-tahun. Kita nggak buru-buru. Kita lakukan dengan benar.
Jeda.
RADEN JINAR
Ki Yuwenda memberimu sebulan. Sudah tiga minggu. Tinggal seminggu untuk membuktikan titahmu berhasil.
WIRA
Kalau begitu ayo buktikan. Tunjukkan padanya bahwa kerja sama yang tak sempurna mencapai apa yang tak pernah dicapai kesempurnaan otokratis.
Ia berdiri.
WIRA
Kumpulkan semua orang. Dewa, fana, iblis, roh. Siapa pun yang mau ikut dalam titah yang baru. Kita melakukannya bersama.
DISSOLVE KE:
MONTASE: KAHYANGAN BARU — SELAMA BEBERAPA MINGGU BERIKUTNYA
Birokrasi kahyangan BERTRANSFORMASI. Meja-meja komite menggantikan titah-titah. Seorang dewa yang selama dua ribu tahun mengeluarkan perintah tanpa dibantah kini duduk di salah satunya, tampak samar-samar bingung oleh konsep pemungutan suara.
GAGAK SETA menyematkan bagan organisasi gambar tangan ke dinding yang terbuat dari guntur terkondensasi. Seseorang menambahkan sticky note bertuliskan “??? tanya Puspa Asih” pada sebuah kotak yang jelas ia sudah menyerah memberinya label.
PUSPA ASIH duduk bersila dalam lingkaran roh-roh junior, mendengarkan — benar-benar mendengarkan — sebuah keluhan soal yurisdiksi yang sebulan lalu tak terbayangkan untuk disuarakan.
Gagasan-gagasan Berbahaya DIBAHAS terbuka di lorong-lorong kahyangan. Beberapa debat memanas. Semuanya JUJUR. Seorang iblis dan seorang dewa birokrat tingkat menengah berdebat dua puluh menit penuh soal kebijakan pajak dan tak satu pun melayangkan sebuah pukulan.
Di Jakarta: orang tersuspensi pertama BANGUN. Bingung, takut, tapi HIDUP. Seorang relawan — fana, tak terlatih, hanya bersedia — menggenggam tangannya sepanjang proses.
WIRA, kini dengan sengaja memecah diri, mengoordinasi TUJUH proyek serentak. Tidak kesulitan. MEMIMPIN, seperti dirigen yang tak memainkan setiap alat musik tapi entah bagaimana tetap memainkan semuanya.
Dewa-dewa yang menentang titah baru perlahan, ragu-ragu, BERGABUNG. Tak yakin. Hanya bersedia mencoba, yang ternyata merupakan sebagian besar dari yang dibutuhkan.
KI YUWENDA menyaksikan semuanya dari tepi setiap adegan. Wajahnya tak terbaca. Ia tak pernah pergi sekali pun.
AKHIR MONTASE
EKS. KAHYANGAN AGUNG - DINDING LUAR - MALAM
KI YUWENDA berdiri sendirian di atas benteng yang menghadap Jakarta, jauh di bawah, seribu titik cahaya segel kuantum di tempat sebuah luka dulu berada.
Ia tidak bersembunyi. Ia hanya… diam. Seperti seseorang berdiri di depan makam yang ia belum yakin siap berhenti menziarahinya.
Di bawah, di kejauhan, WIRA melintasi sebuah halaman, tertawa pada sesuatu yang dikatakan Gagak Seta, letih, lengan baju digulung, sama sekali tak kerajaan.
Ki Yuwenda mengamatinya lama. Tangannya melayang, tanpa sadar, ke segel emas di sabuknya. Ia tak menyentuhnya. Hanya memastikan benda itu masih ada.
Seorang dewa junior lewat di belakangnya, ragu.
DEWA JUNIOR
Tuan Ki Yuwenda. Apakah Tuan akan hadir di sidang dewan malam ini?
KI YUWENDA
(tak berbalik)
Tidak.
DEWA JUNIOR
Haruskah saya sampaikan Tuan menentang?
KI YUWENDA
Sampaikan saja aku mengawasi.
Dewa junior itu pergi. Ki Yuwenda tetap di sana. Di bawah, cahaya segel kerja sama Jakarta berdenyut sekali, serempak, seperti sesuatu yang bernapas dengan tenang untuk pertama kalinya dalam delapan tahun.
Ki Yuwenda tidak tersenyum. Tapi sesuatu di bahunya, sangat sedikit, berhenti menegang.