Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
GEMA SANG PENGUASA LANGIT
Suka
Favorit
Bagikan
8. KAHYANGAN DALAM KEKACAUAN
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EKS. KAHYANGAN AGUNG - BERLANJUT

ADEGAN LUAS.

Di atas Jakarta, tujuh pilar cahaya — serpihan titah yang menjaga pelabuhan tetap stabil selama delapan tahun — mulai REDUP.

Satu per satu, meredup.

GUNTUR. Istana BERGUNCANG.

KI YUWENDA terwujud di gerbang istana. Wajahnya AMARAH.

KI YUWENDA

Apa yang telah kau lakukan?! Kau telah MENGHANCURKAN otoritas ilahi! Tanpa titah, tanpa KEPASTIAN, kahyangan tak bisa berfungsi!

WIRA

(lelah)

Kalau begitu kahyangan harus belajar berfungsi dengan JUJUR.

Ki Yuwenda memberi isyarat.

Lantai di bawah mereka RETAK — melaluinya, KAHYANGAN DALAM KEKACAUAN.

Dewa-dewa bertarung.

Distrik-distrik surgawi terbakar tanpa kepastian titah yang menyatukan mereka.

KI YUWENDA

INILAH revolusimu, Wira. Ordo Abadi akan memulihkan stabilitas. Kami akan membangun kembali titah. Menyegel kembali gagasan-gagasan berbahaya.

Ia berbalik menghadap para dewa yang berkumpul.

KI YUWENDA

Mereka yang ingin menjaga kemuliaan kahyangan — IKUTI AKU.

Sebagian besar dewa bergerak ke arahnya.

WIRA berjuang bangkit.

WIRA

Tunggu —

Tapi mereka tak mendengarkan.

Para dewa mendekap titah-titah lama di dada mereka seperti pegangan tangga, berbaris keluar mengikuti Ki Yuwenda.

KI YUWENDA

Eksperimenmu sudah berakhir, bocah. Kalau kahyangan memerintah dengan PERSETUJUAN, maka kami tak lagi menyetujui sandiwara ini.

Ia LENYAP. Membawa sebagian besar kahyangan bersamanya.

WIRA berdiri di istana yang berguncang, dikelilingi segelintir dewa yang bertahan — Raden Jinar, Gagak Seta, Puspa Asih, Bara.

WIRA

Aku sudah menghancurkan segalanya.

GAGAK SETA

Yap.

WIRA

Terus kenapa kalian masih di sini?

Gagak Seta MENYERINGAI. Seringainya memudar. Ada sesuatu yang tulus di baliknya.

GAGAK SETA

Karena kau mengaku mungkin salah. Dan itu hal paling ILAHI yang kudengar dalam ribuan tahun.

PUSPA ASIH

Revolusi tidak bersih. Perubahan tidak nyaman. Kau tidak menghancurkan kahyangan, Wira. Kau memberinya KESEMPATAN untuk jujur.

RADEN JINAR berlutut di dekat lantai yang retak, menopang WIRA dengan kedua tangan.

RADEN JINAR

Dengarkan aku. Cepat. Sebelum kau mencoba sesuatu yang akan melukaimu. Titah yang baru saja kau patahkan itu aturan LAMA. Hanya ada tiga yang masih berlaku. Pahami sekarang, atau kau akan membunuh dirimu sendiri mempelajarinya dengan cara pahit.

WIRA mengangguk, terengah.

RADEN JINAR

Satu. Takhta masih bisa memaksa Suwung menutup. Kekuatan itu tak hilang. Kau masih memilikinya.

WIRA

Kalau begitu aku bisa memperbaiki Jakarta —

RADEN JINAR

Dua. Memaksa tak pernah gratis. Ia dibayar dari Jembatan Jakarta. Dari KAMU. Setiap kali kau memaksa alih-alih meminta, sebagian dari yang menahan tujuh ratus ribu orang itu terpakai. Lakukan itu cukup sering, dan tak akan ada lagi yang tersisa untuk menahan mereka.

WIRA

(memahami, ngeri yang perlahan terbit)

Makanya aku tadi nggak bisa memecah diri. Tubuhku sudah tahu harganya.

RADEN JINAR

Tiga. Segala hal lainnya — segala yang BUKAN menutup Suwung dengan kekuatan kasar — kini berjalan di atas persetujuan. Dewa. Fana. Iblis. Kau bisa meminta. Kau bisa membujuk. Kau bisa membangun sesuatu yang dipilih orang untuk ditopang bersamamu. Tapi kau tak bisa lagi sekadar memerintahkannya terwujud. Tidak tanpa membayar harga Jakarta.

Hening panjang. WIRA menatap tangannya yang gemetar.

WIRA

Jadi satu-satunya kekuatan gratis yang tersisa padaku adalah satu hal yang sudah kujanjikan pada diriku sendiri tak akan pernah kupakai lagi.

RADEN JINAR

Ya.

WIRA

Kalau begitu aku butuh bantuan. Bantuan sungguhan. Bukan kepatuhan.

WIRA BERLARI ke jendela celah.

Menunduk menatap dunia fana.

Pelabuhan Jakarta.

Jembatan yang juga adalah dirinya.

BERKEDIP.

Tak stabil.

Segel kuantum yang ditahan oleh titah yang baru saja ia hapuskan.

WIRA

Nggak. Nggak nggak nggak. Aku harus memperbaiki —

Ia mencoba memecah diri.

Menjangkau Jakarta dengan kesadarannya.

Tapi ia TAK BISA.

Titah yang baru tak bekerja dengan cara yang sama.

Tanpa otoritas ilahi mutlak, ia tak bisa sekadar MEMAKSA kenyataan menurut.

WIRA

Aku nggak sanggup menahannya! Tujuh ratus ribu orang! Aku sudah menahan mereka DELAPAN TAHUN dan sekarang —

INTERCUT: JAKARTA - KANTOR KOORDINASI KRISIS - BERLANJUT

SUSANTI, delapan tahun lebih tua dari malam di Pusat Operasi itu tapi tak kurang letih, berdiri di depan peta pelabuhan yang sama — kini empat kali lebih besar, tujuh ratus ribu pin alih-alih satu pertanyaan terbuka.

Alarm. Separuh pin BERKEDIP MERAH.

PEJABAT 2

Bu Menteri — medan suspensi berfluktuasi. Kami kehilangan telemetri di Sektor 4. Sektor 7. Menyebar.

SUSANTI

(di telepon, kepada PBB)

Saya TIDAK peduli langit itu yurisdiksi siapa. Saya punya satu pelabuhan penuh orang yang sebentar lagi larut atau bangun ke zona perang tanpa peringatan. Carikan saya siapa pun yang ilahi dan masih mengangkat telepon.

Tak ada. Untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, kahyangan sepenuhnya bungkam di saluran darurat.

INTERCUT: PELABUHAN JAKARTA - ZONA TERSUSPENSI - BERLANJUT

Medan kuantum BERKELAP-KELIP seperti api pilot yang sekarat. Dan di dalamnya, untuk satu detik yang mengerikan tanpa pelindung, serpihan WIRA yang tercerai-berai — secara teknis masih hadir, secara teknis masih menahan — mengalami seluruh tujuh ratus ribu sekaligus, tanpa penyaring, seperti yang tak pernah ia izinkan sejak malam pertama.

SITI, pertengahan tiga puluhan, lengannya masih melengkung mengitari kenangan akan RINA yang berumur lima tahun, yang sebenarnya tak ada di dalamnya — Rina ada sebelas meter jauhnya, membeku sendirian, karena mereka terpisah dalam kepanikan dan tak pernah sempat menutup jarak itu.

SEORANG PRIA, mulut terbuka pada satu kata yang sudah menghabiskan delapan tahun dan terus berlanjut untuk diselesaikan: nama istrinya, setengah terbentuk, selamanya nyaris terucap.

ANAK-ANAK JALANAN, tiga orang, saling berpelukan di bawah tenda lapak, posisi teraman yang bisa mereka temukan dalam empat detik yang mereka punya.

WIRA merasakan setiap mereka seperti anggota badan yang kebas, lalu menjerit, lalu kebas lagi.

WIRA

(nyaris tak terdengar, kembali di istana, mata terpejam rapat)

Aku tahu nama kalian. Aku tahu semua nama kalian. Aku nggak akan melepaskan —

INTERCUT: PELABUHAN JAKARTA - PERIMETER - BERLANJUT

DIMAS berdiri di pagar pembatas, dipanggil ke sini oleh pesan darurat soal sepupunya pukul 2 pagi, menatap Sektor 4, posisi 14 — sepupunya, selalu sepupunya — saat medan di sekeliling sosok yang membeku itu BERKEDIP jingga, lalu kelabu, lalu jingga lagi.

DIMAS

(kepada seorang relawan di dekatnya, suara bergetar)

Kelabu itu artinya apa? Nggak ada yang mau bilang kelabu itu artinya apa.

RELAWAN

(tanpa mendongak dari tablet, kewalahan)

Artinya kami juga belum tahu.

Dimas tak tahu bahwa ratusan kilometer jauhnya, di sebuah istana yang terbuat dari cahaya, seorang pria yang dulu menawarinya sambal tambahan adalah alasan medan itu belum padam sepenuhnya.

INT. KAHYANGAN AGUNG - RUANG SINGGASANA - BERLANJUT

Ia ambruk.

Terlepas di sambungan-sambungannya.

PUSPA ASIH menangkapnya.

Sentuhannya SEJUK.

Menstabilkan.

PUSPA ASIH

Bernapaslah. Kau tak bisa memperbaiki ini sendirian. Kau harus MEMIMPIN. Itu berbeda.


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)