Cuplikan Chapter ini
Satu permintaan lagi Satya menggumamkan kata-kata itu pandangannya mengabur oleh bulir air mata yang entah bagaimana masih sanggup keluar dari pelupuknya yang sembab Tangannya bergetar hebat saat membalik surat terakhir dari Jelita mencari kelanjutan kalimat itu menantikan tamparan pilu lainnyaTerpampang jelas di lembaran lusuh itu tulisan tangan Jelita yang memudar tapi begitu lugas menusuk hati SatyaKamu harus mencariku Satya Bukan di batu nisan bukan di rumah ini saja Kamu