Cuplikan Chapter ini
Suara dentingan nampan jatuh masih terngiang di telinga bahkan saat kantin mulai kembali riuh oleh obrolan dan suara sendok garpu Adrian berdiri kaku di tengah kekacauan kecil itu dengan celana sedikit basah oleh sup dan dada bergemuruh oleh amarah yang mendidihAndhika duduk tidak jauh dari situ Bersandar santai pada kursinya ia menatap Adrian dengan senyum tipis menyebalkan Bak senyum seseorang yang tahu ia menang tanpa perlu berkata banyakDuh hati-hati dong bro ucapnya lagi