Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Orang ke-7
Suka
Favorit
Bagikan
15. Scene 15
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUANG LUKIS — MALAM

Doni masuk dan melihat Adit melukis di samping tubuh Riki. Ia menyorotkan lampu ke kanvas dan mengenali wajah Ariel yang terdistorsi.

DONI
Bajingan! Kakakmu baru mati. Agnes dan Riki juga kau bunuh—sekarang kau menghina istriku?!
ADIT
Bapak masih mengira Bapak orang yang paling benar di rumah ini?
DONI
Aku berusaha menjaga kalian tetap hidup!
ADIT
Bapak menjaga diri sendiri. Agnes mencoba bicara, tapi Bapak tidak melihat. Bella ketakutan, tapi Bapak tidak ada di sana. Aku juga tidak ada di sana saat mereka butuh aku.

Doni hendak membalas, tetapi kata-katanya tertahan. Sesaat, ia teringat jasad-jasad di rumah itu. Ia segera mengalihkan pandangan.

DONI
Kamu tidak tahu apa yang harus kulakukan di sini.
ADIT
Bapak juga tidak tahu. Tapi Bapak terus bertindak seolah-olah Bapak paling tahu.

KILAS BALIK — INT. RUMAH KELUARGA — MALAM (±60 DETIK)

Suara hujan berubah menjadi bunyi api yang berderak. Adit yang lebih muda duduk di lantai, melukis dengan seluruh perhatiannya tertuju pada kanvas. Di ruang sebelah, BELLA (lebih muda) menimang ADIK BUNGSU mereka yang mulai rewel.

BELLA
Dit, bantu tidurkan adik, ya. Pakai senandung yang biasa itu.

Adit tidak mengangkat kepala dari lukisannya.

ADIT MUDA
Nanti, Kak. Aku lagi sibuk. Kakak saja.

Bella mencoba mengulang permintaannya. Senandung tiga nada keluar pelan, tetapi napasnya mulai pendek. Adit akhirnya berdiri dengan kesal.

ADIT MUDA
Aku bilang nanti! Aku capek harus selalu ikut campur!

Adit pergi ke ruangan lain. Ia sempat berhenti di ambang pintu, mendengar Bella memanggilnya, tetapi tetap melangkah pergi.

Bella berusaha menenangkan adik bungsu sambil mengikuti suara langkah Adit yang menjauh. Tangannya menyenggol lilin merah di meja kecil. Lilin itu jatuh; api menyambar kain di dekatnya.

Cahaya oranye memenuhi bingkai. Bella memanggil Adit, lalu berusaha mencari jalan menuju adik bungsunya di tengah asap dan suara yang bertumpuk. Potongan gambar terputus-putus: tangan kecil, senandung yang tersendat, dan pintu yang tertutup asap. Kilasan terakhir: lorong rumah sakit. Adit duduk dengan pakaian berjelaga; seorang petugas meletakkan gelang kecil milik anak-anak di telapak tangannya. Tak ada kata-kata. Beberapa langkah darinya, Bella selamat tetapi terpaku, tatapannya kosong dan jemarinya mengulang tiga nada di lututnya. Adit menatap gelang itu, lalu menatap kakaknya—namun tidak mampu mendekat.

Suara api mencapai puncak, lalu mendadak berubah menjadi hujan di rumah tua.

KEMBALI KE: INT. RUANG LUKIS — MALAM

Adit tersentak kembali ke masa kini. Ingatannya terputus ketika Doni menerjangnya.

Adit menghindar, lalu menghantam kepala Doni dengan bingkai kanvas. Saat mereka bergulat, dari lorong terdengar tiga nada senandung Bella—lemah, hampir tertelan suara hujan. Adit kehilangan fokus sesaat, seolah nada itu menariknya ke suatu ingatan yang belum sanggup ia hadapi. Doni memanfaatkan jeda itu, tetapi Adit berhasil melepaskan diri dan berlari menuju ruang tengah. Doni jatuh menimpa tubuh Riki.

Sebelum menyusul, Doni melihat lukisan tujuh bayangan. Bayangan ketujuh tampak berdiri tepat di belakangnya. Doni menoleh. Tidak ada siapa-siapa.



Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)