Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Orang ke-7
Suka
Favorit
Bagikan
3. Scene 3
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUMAH TUA — MALAM

Petir menyambar pohon besar di depan rumah. Pohon tumbang menghantam teras dan menekan pintu sampai macet. Sebuah botol kaca di dekat pintu pecah; pecahannya berserakan di lantai.

ARIEL
Mas! Pintunya benar-benar macet! Aku sudah coba dorong, tapi pohon itu menahannya!
DONI
Tenang. Kita cari jalan lain kalau hujan reda.

Mereka menyalakan lampu darurat. Rumah pengap, dingin, dan berbau kayu basah. Di ruang tengah tergantung foto keluarga tua berisi enam sosok; tak seorang pun memperhatikannya. Doni meminta Riki dan Adit memeriksa ruangan. Riki membuka kotak perkakas; obeng terlihat di antara alat lain.

Di koridor, Adit membuka laci meja tua. Di dalamnya ada tumpukan plastik lolipop menguning, jam tangan berkarat, dan sebuah pulpen besi. Jam itu menunjukkan tanggal yang sama dengan hari itu, tetapi jarumnya berhenti pada pukul yang tidak masuk akal. Adit memasukkan pulpen itu ke saku jaketnya tanpa berpikir.

ADIT
(berbisik)
Punya siapa ini?

Lampu rumah mendadak menyala. Riki muncul membawa kotak perkakas; di dalam tasnya sekilas tampak lilin merah. Adit melihatnya. Jari-jarinya spontan meremas saku jaket tempat pulpen besi tersimpan. Ia menunduk cepat, berusaha menyembunyikan reaksi itu.

RIKI
Generator di gudang tadi cuma perlu dibersihkan. Sekarang sudah hidup. Kita aman malam ini.
DONI
Syukurlah. Kamu bisa diandalkan, Riki. Adit mana?

Adit menutup laci, menyembunyikan keterkejutannya, lalu muncul dari koridor samping. Pandangannya sempat kembali ke tas Riki sebelum ia memaksa diri menatap Doni.

ADIT
Saya tidak menemukan apa-apa, Pak.
RIKI
Hahaha, dasar pecundang! Nyari barang aja nggak becus!
DONI
Sudah. Ayo istirahat. Adit, matikan lampu yang tidak penting supaya bahan bakar generator hemat.

Adit mematikan lampu. Sorot lampu darurat menyapu dinding dekat sakelar: puluhan tally marks terukir dalam-dalam. Di antara goresan, satu garis lebih panjang menyerupai angka tujuh. Dari lorong kosong terdengar tiga ketukan.

TOK. TOK. TOK.

Adit menoleh. Tak ada siapa-siapa.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)