Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
INT. GUDANG / RUANG TENGAH — MALAM
Ariel menatap Agnes yang gemetar. Ia meminta air hangat. Doni menemaninya ke gudang agar tak ada yang berpencar.
Di gudang, lampu darurat menyorot rak berdebu. Sebuah kompor portabel kecil masih menyisakan panas di bawah panci. Sekilas tampak botol berlabel racun tikus di rak. Ariel menuang air panas ke tiga cangkir. Doni membelakanginya sambil memeriksa generator. Ariel berhenti menatap botol itu, lalu membawa satu cangkir ke ruang tengah. Dua cangkir lainnya ia tinggalkan di rak.
Di ruang tengah, Ariel memberi Agnes secangkir air hangat. Agnes berusaha bicara sambil menangis.
Riki menatap Agnes dan mengangkat satu jari ke bibir, lalu mengarahkannya ke lehernya sendiri. Agnes membeku. Ia melirik Ariel, kemudian merapatkan ponsel ke dada dan mengetik dengan tangan gemetar: “RIKI YANG MELAKUKANNYA.” Ia memiringkan layar ke arah Ariel, berusaha memastikan perempuan itu membacanya. Riki bergeser menghalangi pandangan. Agnes tetap mengulurkan ponsel melewati bahu Riki, tetapi Ariel hanya sempat melihat beberapa kata sebelum menarik pandangannya, takut menantangnya.
Saat Agnes masih mengulurkan ponsel, layarnya mendadak mati. Ketika menyala lagi, tulisan berubah: “DIA SUDAH MATI 46 KALI.” Tak ada yang menyentuh layar. Bunyi jam berdetak terdengar sekali dari balik dinding, lalu berhenti.
Agnes menjatuhkan ponsel. Riki melihat pesan itu. Untuk sesaat, wajahnya kehilangan warna—bukan karena kalimatnya, melainkan angka 46. Ia cepat-cepat memalingkan muka. Ia tidak menjelaskan apa pun.
Doni memerintahkan semua orang tetap bersama sampai pagi. Ia menyuruh mereka tetap berada di ruang tengah dan melarang siapa pun pergi sendiri. Ia mondar-mandir di dekat pintu, memastikan pohon tumbang benar-benar menghalangi jalan keluar, lalu duduk bersandar. Setelah ketegangan mereda, kelelahan mengalahkannya. Ariel meringkuk di pojok; matanya tetap terbuka beberapa saat sebelum akhirnya terpejam. Saat Agnes hendak mendekati Adit, Doni segera menahannya dengan isyarat tegas.
Agnes melihat Adit di sisi ruangan. Ia berusaha mendekatinya, tetapi Doni segera menghalangi jalannya.
Agnes mundur, takut memancing perhatian Riki. Ia menunggu Doni berpaling, lalu kembali mencoba mendekati Adit. Sebuah tangan menyekap mulutnya dari belakang dan menyeretnya ke lorong.