Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Orang ke-7
Suka
Favorit
Bagikan
4. Scene 4
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

INT. RUANG TENGAH — MALAM

Semua terlelap, kecuali Bella yang gelisah karena nyamuk dan suara dengung yang terus mendekat di telinganya. Ia menyentuh lengan Agnes beberapa kali sampai sahabatnya terbangun. Agnes mengucek mata, lalu merogoh saku dan menyodorkan lolipop yang biasa ia berikan kepada Bella.

BELLA
Agnes... banyak nyamuk. Bella nggak bisa tidur.
AGNES
(terbangun, lembut)
B-Bella... k-kenapa? Nih, pegang dulu...

Saat berguling, kaki Bella tanpa sengaja menendang punggung Riki. Riki bangun dengan marah.

RIKI
Hei, apaan sih! Dasar pasangan cacat, bisa tenang nggak?!
AGNES
M-maafin Bella, Riki...
RIKI
Ngomong yang jelas! Aku nggak ngerti maksudmu!

Bella mundur ketika Riki membentak dan mendekat. Dalam kepanikan, ia melepas kaus kaki lalu melemparkannya ke wajah Riki untuk membuatnya menjauh. Senyum licik Riki mengembang.

RIKI
Oh, udah berani sekarang? Mau aku kasih sesuatu biar kamu diam?

Riki mengambil lilin merah dan menyalakannya dengan korek.

AGNES
J-jangan, Riki! D-di sini b-bahaya!

Agnes segera berdiri di antara Riki dan Bella. Satu tangannya masih terulur ke arah Bella, mengajaknya menjauh.

Riki mengabaikannya dan mendekatkan nyala lilin ke wajah Bella. Cahaya api memantul di mata Bella. Suara hujan perlahan memudar, digantikan raungan api yang jauh. Napas Bella memendek; kilatan oranye menyapu pandangannya dan sesaat terdengar suara seorang anak memanggil dari balik bunyi kayu terbakar. Ia berusaha mundur dari nyala itu, tetapi ruang di belakangnya terasa menyempit. Wajahnya kehilangan keceriaan. Untuk sesaat, ia tak lagi merespons Riki, seolah terseret ke ingatan yang tak mampu ia susun menjadi kata-kata.

BELLA
(gemetar, napas tersengal)
Nggak... api... panas... Kakak takut! ADIT!

Di sudut ruangan, Adit bergerak setengah sadar ketika mendengar nama yang dipanggil Bella. Ia membuka mata sedikit dan hampir bangkit, tetapi suara petir meledak. Dalam kilatan singkat, ia melihat nyala lilin di tangan Riki; tubuhnya menegang sebelum ia kembali terkulai. Ia menggumam, “Kak...” terlalu pelan untuk didengar siapa pun. Bella mendorong Riki dan berlari ke lorong. Riki mengejarnya sambil tertawa. Agnes mencoba menahan Riki, tetapi ia didorong hingga jatuh. Di dinding belakang mereka, bayangan lilin sekejap tampak seperti tujuh orang berdiri berderet.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)