Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
EXT.HUTAN — MALAM
Enam orang menyusuri hutan pekat untuk mencari tempat berlindung. Angin menggoyangkan pucuk pohon. BELLA (20) berjalan dengan langkah-langkah kecil yang ringan sambil mengulang senandung tiga nada; irama yang dikenalnya membantu menjaga dirinya tetap tenang di tengah gelap, hujan, dan suara ranting yang bergesekan. Tas kecilnya penuh permen. ADIT (18), adiknya, berjalan di sampingnya dengan wajah lelah dan cemas. Saat Bella mulai menjauh dari jalur, Adit mengulurkan tangan untuk memberi isyarat agar ia mendekat, bukan langsung menariknya. Bella mengerutkan wajah ketika angin dan suara hujan menguat. Adit bergeser ke sisi luar jalur, memberi ruang baginya; Bella kembali bersenandung pelan. Setiap kali senandung mencapai nada terakhir, Adit meliriknya untuk memastikan kakaknya masih di sisinya. Mendadak, Bella menatap jauh ke antara pepohonan.
BELLA
(pelan, kosong)
Rumah itu... kita mau ke sana lagi?
ADIT
Rumah apa? Kita belum pernah ke sini.
Bella berkedip dan mengalihkan pandangan dari pepohonan. Ia kembali tersenyum, tetapi jemarinya masih meremas tali tas kecilnya. AGNES (20), sahabat Bella yang mengalami gangguan wicara, mendekat dengan tenang dan mengusap pundaknya setelah Bella membiarkannya. Agnes merogoh saku dan memberikan lolipop.
Agnes menggenggam tangan Bella. Kilat menyambar. Hujan deras turun disertai angin kencang. DONI (40-an), guru sekaligus pemimpin rombongan, memberi isyarat agar semua mencari perlindungan. Istrinya, ARIEL (30-an), menjaga tas mereka. RIKI (20-an) mendengus ketika Bella berhenti lagi.
Bella mendadak menunjuk ke satu arah. Riki menoleh kesal.
Doni menghampiri Bella dengan lembut.
Bella menunjuk ke balik rimbun pepohonan. Doni melihat siluet rumah tua.
Bella menatap rumah itu dengan senyum kecil yang tak sepenuhnya selaras dengan tatapannya, seolah ada sesuatu yang terasa akrab tetapi tak bisa ia jelaskan. Senandung tiga nada terdengar lagi, lebih pelan. Adit ikut berhenti; bibirnya bergerak nyaris mengikuti nada terakhir, tetapi ia segera menutup mulut dan memalingkan wajah.