Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Orang ke-7
Suka
Favorit
Bagikan
1. Scene 1
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

EXT.HUTAN — MALAM

Enam orang menyusuri hutan pekat untuk mencari tempat berlindung. Angin menggoyangkan pucuk pohon. BELLA (20) berjalan dengan langkah-langkah kecil yang ringan sambil mengulang senandung tiga nada; irama yang dikenalnya membantu menjaga dirinya tetap tenang di tengah gelap, hujan, dan suara ranting yang bergesekan. Tas kecilnya penuh permen. ADIT (18), adiknya, berjalan di sampingnya dengan wajah lelah dan cemas. Saat Bella mulai menjauh dari jalur, Adit mengulurkan tangan untuk memberi isyarat agar ia mendekat, bukan langsung menariknya. Bella mengerutkan wajah ketika angin dan suara hujan menguat. Adit bergeser ke sisi luar jalur, memberi ruang baginya; Bella kembali bersenandung pelan. Setiap kali senandung mencapai nada terakhir, Adit meliriknya untuk memastikan kakaknya masih di sisinya. Mendadak, Bella menatap jauh ke antara pepohonan.

BELLA

(pelan, kosong)

Rumah itu... kita mau ke sana lagi?

ADIT

Rumah apa? Kita belum pernah ke sini.

Bella berkedip dan mengalihkan pandangan dari pepohonan. Ia kembali tersenyum, tetapi jemarinya masih meremas tali tas kecilnya. AGNES (20), sahabat Bella yang mengalami gangguan wicara, mendekat dengan tenang dan mengusap pundaknya setelah Bella membiarkannya. Agnes merogoh saku dan memberikan lolipop.

AGNES
U-udah... nggak usah dipikirin omongan Adit. Y-yuk, jalan lagi, Bel...

Agnes menggenggam tangan Bella. Kilat menyambar. Hujan deras turun disertai angin kencang. DONI (40-an), guru sekaligus pemimpin rombongan, memberi isyarat agar semua mencari perlindungan. Istrinya, ARIEL (30-an), menjaga tas mereka. RIKI (20-an) mendengus ketika Bella berhenti lagi.

RIKI
Ah, dasar penakut! Dari tadi bikin kita berhenti. Ayo, Pak, kita cari!

Bella mendadak menunjuk ke satu arah. Riki menoleh kesal.

RIKI
Hei idiot, kenapa lagi? Dari tadi bikin aku jengkel aja!
DONI
Hus, Riki! Nggak boleh menghina teman sendiri begitu!

Doni menghampiri Bella dengan lembut.

DONI
Ada apa, Sayang?

Bella menunjuk ke balik rimbun pepohonan. Doni melihat siluet rumah tua.

DONI
Ada rumah di sana. Kita berteduh dulu, setelah itu pikirkan jalan keluar.

Bella menatap rumah itu dengan senyum kecil yang tak sepenuhnya selaras dengan tatapannya, seolah ada sesuatu yang terasa akrab tetapi tak bisa ia jelaskan. Senandung tiga nada terdengar lagi, lebih pelan. Adit ikut berhenti; bibirnya bergerak nyaris mengikuti nada terakhir, tetapi ia segera menutup mulut dan memalingkan wajah.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)