Cuplikan Chapter ini
Mata Sinta membeling Perasaan sesak karena ingin menangis itu tidak juga hilang meski telah lewat dua jam sejak dia meninggalkan rumah Bapak Aroma khas dari kain yang tertimpa besi panas tidak juga menarik perhatiannya Tatapan Sinta kosong lurus ke arah pintu keluar Dua meter dari tempatnya duduk di sebelah kanan di samping jendela ada Aini yang tengah sibuk menyetrika Perempuan sebayanya itu dipanggil oleh Sinta dengan serampangan Dimintanya tolong untuk menyetrika pakaian yang bel