Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
66. INT. RUANGAN KERJA PAK PRADIPTA – DAY
Pak Pradipta terlihat marah pada Anggi. Anggi bersimpuh di hadapan Pak Pradipta. Ia memegang lutut pak Pradipta.
Anggi
Mas, maafin aku....
(kepala tertunduk)
Pak Pradipta
Bangun.
Anggi
(menengadah)
Mas...
Pak Pradipta
Bangun!
Anggi
Mas, tapi aku...
Pak Pradipta
Bangun! Aku bilang bangun!!
Anggi bangun dan berdiri.
Pak Pradipta
Lihat aku.
Anggi
(menatap pak Pradipta)
Pak Pradipta menampar Anggi. Kepala Anggi sampai terpaling. Anggi memegang pipinya dengan tangan kanannya. Ia menahan rasa sakit.
Anggi
Mas, aku udah jelasin semuanya.
Pak Pradipta
Cukup!
Sekarang kamu pergi.
Aku nggak mau melihat perempuan murah seperti kamu.
Anggi
(marah)
Mas! Jangan omongan kamu, ya!
Pak Pradipta
Huh!
Apa saya pantas menjaga omongan saya di hadapan kamu?!
(menatap Anggi)
Dulu kamu merusak hubungan sama istri saya dan sekarang kamu merusak hubungan saya dengan anak saya.
Anggi
Mas, sekarang kamu nyalahin aku setelah semuanya terjadi?
Mas, kamu nggak boleh gini sama aku, mas.
Lagian semua ini juga salah kamu!
Pak Pradipta
Sekarang kamu keluar!
Saya muak liat lihat kamu!
Keluar!
Anggi
Mas, kamu nggak bisa ngusir aku kaya gini!
Kasih aku kesempatan....
Pak Pradipta
Keluar!!!
Anggi
Oke!
Anggi berbalik badan dan melangkah keluar.
Pak Pradipta
Tunggu!
Anggi berhenti, Ia berbalik.
Anggi
Apa lagi, mas?
Tadi kamu udah ngusir aku.
Pak Pradipta
Tinggalin semua fasilitas yang udah saya kasih ke kamu.
Kartu kredit, kunci mobil, debit, semuanya.
Anggi menghela napas. Ia mengeluarkan semua isi dompetnya dan meletakkan semua kartu yang ia miliki di atas meja. Pak Pradipta melihat Anggi dengan seksama.
Pak Pradipta
Termasuk jam tangan, anting yang kamu pakai sekarang.
Anggi menghela napas lagi. Ia melepaskannya dengan kasar lalu diletakkannya di atas meja.
Anggi
Udah?!
Puas?!!
Anggi pergi meninggalkan Pak Pradipta. Pak Pradipta terdiam di ruangannya. Ia menengadah ke langit-langit ruangan. Kepalanya ia tundukkan, lalu diangkatnya lagi. Pak Pradipta menendang dengan perasaan gusar. Ia melangkah menuju jendela ruangannya dan menatap pemandangan di luar yang dipenuhi gedung-gedung tinggi, jalanan, dan rumah penduduk.
CUT TO :
67. I./E. LOBBY KANTOR/DEPAN KANTOR – DAY
Anggi berjalan di lobby kantor dengan tergesa-gesa. Perasaan merasa bersalah masih menyelimuti dirinya. Aditya masuk ke dalam kantor dan berpapasan dengan Anggi. Aditya menatapnya dengan sinis. Anggi benci dengan tatapan Aditya.
Anggi
Maksud lo liatin gue kaya gitu apa?
Aditya
(tersenyum puas)
Gimana rasanya ketahuan?!
Anggi
(kaget)
Jadi lo?!
Aditya
(mengangguk)
Anggi
Brengsek lo!
Anggi mengangkat tangannya dan bersiap menampar Aditya. Namun Aditya secepat kilat menahan tangannya. Ia meremas tangan Anggi, hingga Anggi sedikit kesakitan.
Aditya
Udah cukup ya lo ngancurin semuanya.
Sekarang lo bisa pergi dan menghilang dari kehidupan mereka.
Atau, lo gue jeblosin ke penjara.
Anggi kaget. Ia menatap Aditya dengan rasa kesal, begitu pun sebaliknya. Anggi pergi meninggalkan Aditya. Aditya menuju lift, lalu masuk ke lift.
CUT TO :
68. INT. DEPAN RUANGAN/RUANG PAK PRADIPTA – DAY - CONTINOUS
Aditya keluar dari lift dan berjalan hingga tiba di depan ruangan pak Pradipta. Aditya sedikit membuka pintu ruang kerja pak Pradipta. Pak Pradipta sedang menatap pemandangan di luar jendela. Ia menoleh ke arah Aditya. Aditya sedikit terkejut.
Aditya
Maaf, pak!
(menunduk)
Aditya bergegas menutup pintu.
Pak Pradipta
Nggak pa-pa. Saya tahu kamu pasti akan kesini.
Masuk.
Aditya masuk. Ia berjalan beberapa langkah, lalu berhenti. Pak Pradipta kembali melihat pemandangan di luar kantornya.
Pak Pradipta
Kamu tahu nggak, dulu saya membuat Rangga membenci ibunya, tapi sekarang saya membuat dia membenci saya.
Wanita itu....
(menghela napas)
Dulu saya tergoda wanita-wanita cantik yang membuat saya harus kehilangan istri saya, saya memutarbalikkan fakta seolah ibu Rangga yang kejam karena sudah meninggalkan Rangga.
Tapi hari ini saya menyesal, Dit. Saya menyesal setelah tahu bagaimana saya dikhianati. Saya mencintai dia, saya berikan segalanya untuk dia, tapi ternyata...
(menggeleng-geleng)
Dia berkhianat dari saya. Dia mendekati saya, lalu Rangga.
Wanita itu, dia juga pacar Rangga.
(menoleh ke Aditya)
Dit, kamu tahu Rangga dimana?
Aditya
Mungkin dia pulang atau ke suatu tempat.
Pak Pradipta
Saya mau bicara sama dia. Bisa kamu tolong telepon dia?
Aditya
(menggeleng)
Sekarang dia sedang merenung, karena telah melakukan kesalahan yang sama.
Pak Pradipta
Maksud kamu?!
Aditya
Lastri, pak.
Pak Pradipta
(mengernyit)
Maksud kamu? Lastrii.....
Aditya
(mengangguk)
Ya, pak. Lastri Prameswari.
Dia mantan kekasih Rangga. Rangga memanfaatkan Lastri untuk kepentingan studinya, tapi Lastri mengira Rangga benar-benar mencintainya.
Rangga bermain dengan Anggi, sampai akhirnya semua tercium. Rangga nggak mau melepas Lastri, dia obsesif bahkan nyaris menghilangkan nyawa Lastri.
(menunjukkan sesuatu dari gawainya)
Itu yang membuat Lastri resign dari sini.
Pak Pradipta melihat video rekaman cctv saat Rangga menampar dan mencekik Lastri di pantry. Ia kesal dan marah. Ia meletakkan gawai Aditya di atas meja. Tangannya ia kepal.
Aditya
Saya minta maaf karena sudah melaporkan ini ke polisi. Dan sekarang dalam proses hukum. Saya melakukan ini agar dia paham, Nggak semua yang dia pengen harus dia dapatkan dengan cara begini. Saya permisi, pak.
Aditya berbalik dan melangkah.
Pak Pradipta
Dit...
Aditya berhenti.
Pak Pradipta
Saya menyesal.
Saya minta maaf sudah menyia-nyiakan istri saya.
Karena saya, Rangga tak hidup dengan sempurna merasakan kehangatan kasih sayang seorang ibu.
Semoga Fenny memaafkan saya.
Aditya
(tersenyum)
Bahkan, di akhir hidupnya, kakak saya masih mencintai anda, pak.
Permisi.
Aditya pergi meninggalkan ruangan pak Pradipta yang sedang meratapi perbuatannya. Ia mengambil gawainya dan menghubungi Rangga. Tapi Rangga tak mengangkatnya. Ia mengetikkan pesan, lalu mengirimkannya. Pak Pradipta meletakkan gawainya di atas meja. Ia kembali memandangi pemandangan di luar kantornya.
CUT TO :
69. I/E. MOBIL RANGGA/HALAMAN RUMAH RANGGA - DAY
Rangga membenamkan wajahnya di atas setir mobil. Tangannya menggenggam erat- erat setir. Ia mengangkat kepalanya dan menengadah. Rangga menendang mobilnya.
Rangga
Aaah!!!
Sebuah pesan masuk ke gawainya. Ia mengecek. Pesan dari papanya.
Pak Pradipta (V.O)
Papa dan kamu sama-sama melakukan kesalahan, dan akhirnya kita menyesal setelah dikhianati wanita yang sama. Papa menyesal karena nggak lagi bisa bertemu mama, tapi kamu masih punya kesempatan untuk memperbaiki.
Rangga memandang ke depan. Ia meletakkan gawainya di kursi sebelah, lalu menghidupkan mesin mobil dan pergi.
CUT TO :
70. EXT. PEMAKAMAN – KUBURAN FENNY - DAY
Mobil Rangga berhenti di sebuah pemakaman. Rangga keluar dari mobil. Ia berjalan menyusuri jalan setapak di pemakaman. Rangga tiba di dekat sebuah kuburan. Seseorang telah disana. Rangga memperhatikan punggung belakang orang itu. Ia sedang berdoa.
Rangga
Adit...
Rangga melangkah perlahan ke kuburan. Ia berdiri sebelah Aditya, Lalu duduk di bersimpuh di sebelah Aditya. Aditya yang baru selesai berdoa, melihat Rangga di sebelahnya sedang khusyu’ berdoa. Aditya menunggu sampai Rangga selesai.
Rangga
Lo sering kesini?
Aditya
Setiap gue ada waktu gue pasti kesini.
Ini kali pertama lo ya?
Rangga
(menggangguk)
Gue terlalu benci sama mama, tapi gue salah.
Aditya
Lo nggak pernah percaya gue.
Rangga
Iya, gue sama papa sama. Sama-sama bodoh.
Aditya
(menepuk pundak Rangga)
Fenny pasti seneng disana, akhirnya lo sadar. Dan lo menyesal.
Rangga
(menatap Aditya)
Lo pasti kangen banget sama kakak lo ya?
Aditya
Lo apa nggak kangen sama mama lo ini?!
(tersenyum)
Rangga
(menunduk)
Gue nggak tau, apa gue masih pantes kangen sama mama.
Aditya menguatkan Rangga. Ia mendekap Rangga kuat. Ia pun bangun, dan berbalik. Aditya melangkah meninggalkan Rangga.
Rangga
Lo tau Lastri dimana, kan?
Aditya
(berhenti)
Buat apa?!
Rangga
Gue mau minta maaf sama dia.
(menoleh)
Bisa gue ketemu dia?
Aditya
Bisa. Tapi tebus dulu kesalahan lo.
Rangga
Maksud lo?
(bangkit)
Aditya menunduk. Ia menghela napas, kepalanya menghadap ke depan.
Aditya
Serahin diri lo ke polisi.
Aditya mengeluarkan bolpoint bertuliskan nama Rangga yang tersimpan di balik jasnya. Ia berbalik badan dan menyerahkan bolpoint itu ke tangan Rangga. Rangga menggenggamnya.
Aditya
Sorry, tapi semoga tintanya masih cukup untuk lo nulis diary di penjara nanti.
Aditya berbalik badan, dan melanjutkan langkahnya. Ia berhenti sejenak.
Aditya
Rekaman cctv itu buktinya cukup kuat. Lo nggak mungkin lari.
Aditya melanjutkan langkahnya.
Rangga
Om!!!
Teriakan Rangga menghentikan lagi langkah Aditya. Ia menoleh dan ia tersenyum.
Rangga
Titip salam gue buat Lastri!
Gue akan berubah.
Aditya mengangguk lalu pergi. Rangga terpaku di kuburan. Ia menoleh ke kuburan ibunya,lalu duduk bersimpuh memandangi kuburan ibunya. Air matanya menetes di balik kelopak mata.
Rangga
Maa, so sorry....
Maaf maa.
Rangga menangis di kuburan mamanya.
FADE OUT: