Cuplikan Chapter ini
BAB 22Peta Biru yang Belum DibukaPesantren Nurul Yatama pagi itu sepi dengan cara yang menyesakkanAnak-anak yatim duduk berbaris di serambi dengan kitab di pangkuan tapi tak seorang pun melantunkan apa-apa Beberapa menatap lantai Beberapa saling berbisik Di dinding aula yang atapnya baru cat putih bekas tukang masih berbau tajam dan di bawah atap itulah di atas sajadah tua di sudut ruangan Tuan Guru Zuhri duduk dengan punggung membungkuk memegang selembar kertas yang sudah lecekR