Cuplikan Chapter ini
Ruang tunggu saksi itu pengap meski pendingin ruangan menyala maksimal Ibu Herlina duduk merapatkan lututnya Tangan tuanya yang mulai keriput saling bertaut di atas tas kulit hitam kesayangannya Kain batiknya disetrika tanpa cela sanggulnya rapi menutupi uban yang mulai mendominasiIbu hanya perlu bilang bahwa Aisha sering terlihat murung dan marah-marah sendiri suara pengacara berjas mahal itu masih berdenging di kepalanya Bilang kalau Amran sudah berusaha membawanya ke dokter tapi