Cuplikan Chapter ini
sebuah babak baru yang penuh luka Anindita tersenyum tipis menatap Rangga Keputusannya sudah bulat Sebuah sajian terakhir yang bukan hanya makanan tapi juga kebenaran yang pahitMalam itu Dapur Leluhur terasa sunyi namun tegang Lampu temaram menyinari meja makan panjang yang kini dipenuhi wajah-wajah kaku Nyonya Ratih duduk di ujung bibirnya terkatup rapat matanya bengkak karena tangis Di sampingnya Danu menunduk tak berani menatap siapa pun Pakde Karman dan Bude Murni sali