Cuplikan Chapter ini
Udara siang itu panas tapi pendingin ruangan di rumah peninggalan keluarga Baskara tetap bekerja dengan nyaris angkuh mendesis lembut seperti menolak kelembaban dari luar Dinding putih gadingnya sudah sedikit kusam tirai krem menahan cahaya berlebih sementara teko teh porselen tua bertengger di atas meja marmer berurat coklat Windy Larasati duduk tegak di kursi tamu menyilang kaki dengan anggun senyum tipisnya hanya sapuan dari bibir berlipstik peachKetika suara tumit stiletto mengin