Cuplikan Chapter ini
Pelipis Sheana basah oleh keringat dingin Napasnya tak teraturDirga pikirnya samar Kamu satu-satunya yang tahu ini semuaTapi tak mungkin ia menghubunginya sekarang Tidak saat ia sudah lari jauh dan memilih hidup dengan napasnya sendiri meski pendek dan nyeriBeberapa menit kemudian rasa sakit itu mulai surut perlahan Seperti gelombang yang tertarik mundur oleh pasang Ia terkulai di atas ranjang wajahnya masih pucat tapi tidak seputih tadi Matanya mengarah ke langit-langit koson