Cuplikan Chapter ini
Tangan Embun bergerak pelan menyuap nasi dan lauk ke dalam mulut yang terasa hambar Rasanya yang tersaji di meja itu bukanlah makanan tetapi kekecewaanMatanya selalu menatap layar ponsel yang gelap Tidak ada pesan masuk tidak ada panggilan Hanya sunyi yang menjelaskan perasaan tidak dianggap dan tersisihkan Embun menghela napas panjang melepaskan sesak yang menghimpit dadaDenting suara sendok beradu dengan piring semakin menegaskan kalau kini dia sendirian di meja itu Bibirnya terta