Cuplikan Chapter ini
Siang itu matahari Jakarta terasa lebih terik dari biasanya Angin yang berembus di halaman pesantren pun tidak banyak membantu Zula berdiri di bawah naungan pohon ketapang bersama belasan santri putri lainnya Di depan mereka sebuah ruangan kecil dengan jendela kaca terbuka menjadi tempat yang paling dinanti sekaligus paling menegangkan ruang telepon pesantrenSetiap santri hanya diberi waktu lima menitLima menit yang terasa begitu singkat untuk menampung rindu yang menumpuk berhari-