Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Siulan Malaikat
Suka
Favorit
Bagikan
11. Rumah Melodi
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. PEMAKAMAN DESA - PAGI

Tanah makam masih basah. SHEILA (17) berdiri diam menatap nisan kayu bertuliskan nama Ibunya. Kaleng biskuit kini ada di tangan ANDI (18) yang berdiri setia di sampingnya.

Sheila tidak bersiul. Ia hanya memandangi kincir angin bambu kecil yang ia tancapkan di atas pusara. Angin berhembus pelan, memutar kincir itu dengan suara derit halus, seolah-olah Ibu sedang menjawab sapanya.

 

SCENE 2. EXT. HALAMAN RUMAH TUA - SIANG

Reza datang berkunjung. Ia menunjukkan sebuah video di tabletnya kepada Andi dan Sheila.

Video itu telah ditonton jutaan orang dan menggerakkan hati ribuan orang untuk menyumbang lebih banyak lagi. Sheila melihat layar itu dengan tatapan kosong, angka-angka itu tetap tidak bisa mengembalikan Ibunya. Namun, Andi memegang bahu Sheila, meyakinkannya bahwa uang ini bisa menjadi sesuatu yang abadi.

 

SCENE 3. INT. RUMAH TUA - MALAM

Andi dan Sheila duduk di ruang tengah yang kini terasa sangat luas dan sepi. Mereka membuka semua surat dan tumpukan uang donasi yang terus mengalir.

 

ANDI

"Shei... Ibu pernah bilang kan? Jangan berhenti bersiul untuk siapa pun. Uang ini terlalu banyak kalau hanya untuk kita berdua. Bagaimana kalau kita buat tempat... tempat untuk anak-anak seperti kamu? Supaya nggak ada lagi Sheila lain yang harus menderita hanya karena ingin menolong ibunya."

Mata Sheila mulai bercahaya. Ia mengangguk pelan. Ia mengambil sebuah peta tua dan menunjuk sebuah lahan kosong di dekat kebun bambu peninggalan Ayahnya.

 

SCENE 4. EXT. HALAMAN RUMAH MELODI - PAGI (TAHUN-TAHUN BERLALU)

Bangunan berbahan bambu itu kini tampak menyatu dengan alam, dikelilingi pohon-pohon rindang. Papan namanya, "Rumah Melodi", sudah sedikit berlumut namun tetap berdiri gagah.

Suasana pagi riuh, bukan oleh teriakan, melainkan oleh bunyi instrumen musik bambu yang dimainkan anak-anak. Kamera menangkap detail tangan-tangan kecil yang sedang belajar meniup suling atau memukul kolintang.

 

SCENE 5. INT. KELAS UTAMA - CONTINUOUS

SHEILA (Kini 22 tahun) berdiri di tengah lingkaran anak-anak. Penampilannya lebih dewasa dan anggun. Ia tidak perlu banyak bicara; hanya dengan gerakan tangan dan tatapan mata, anak-anak itu mengerti arahannya.

Ia memberikan instruksi untuk mulai bersiul. Satu per satu anak mulai mencoba. Suaranya belum sempurna, ada yang sumbang, tapi Sheila tersenyum lebar. Ia menghargai setiap upaya "suara" yang keluar dari jiwa mereka.

 

SCENE 6. EXT. TERAS SAMPING - SIANG

ANDI (23) sedang memperbaiki sebuah ukulele yang putus senarnya. Ia kini menjadi pengelola tempat itu. Ia melihat ke arah Sheila dari kejauhan.

Andi tersenyum tipis. Ia ingat masa-masa sulit mereka di pasar dan stasiun. Kini, kaleng biskuit karatan itu sudah tersimpan rapi di dalam lemari kaca sebagai pengingat sejarah. Persahabatan mereka tetap kokoh, menjadi pilar utama Rumah Melodi.

 

SCENE 7. INT. PERPUSTAKAAN RUMAH MELODI - SORE

Seorang wartawan sedang mewawancarai Andi, sementara Sheila duduk tenang di dekat jendela besar yang menghadap ke kebun bambu.

 

WARTAWAN

"Apa yang membuat tempat ini begitu istimewa?"

 

ANDI

(Menatap Sheila dengan bangga)

"Karena di sini, kami tidak menganggap mereka cacat. Kami hanya menganggap mereka memiliki cara berbeda untuk berkomunikasi dengan dunia... Seperti Sheila... dia bicara lewat angin."

 

SCENE 8. EXT. KEBUN BAMBU - SENJA

Sheila berjalan sendirian menuju sudut paling tenang. Di sana ada bangku kayu menghadap ke arah makam Ibunya yang terlihat dari kejauhan.

Ia duduk, memegang kincir angin bambu yang baru. Ia merasakan kehadiran Ibunya di setiap hembusan angin. Tidak ada lagi rasa bersalah, yang ada hanyalah rasa syukur dan damai.

 

SCENE 9. INT. AULA RUMAH MELODI - MALAM

Sebuah pertunjukan kecil diadakan. Sheila berdiri di atas panggung kecil dengan penerangan hangat.

Ia mulai bersiul. Melodinya adalah gabungan dari semua emosi yang pernah ia lalui: kesedihan, perjuangan, dan harapan. Penonton terdiam, seolah-olah siulan itu sedang membersihkan jiwa mereka.

 

SCENE 10. EXT. RUMAH TUA PENINGGALAN - CONTINUOUS

Rumah tua itu tidak dirobohkan, kini menjadi museum kenangan.

Di dalamnya, dipan tempat Ibu dulu berbaring tertata rapi. Dan setiap hari, selalu ada sekotak roti manis segar yang diletakkan di sana... sebuah ritual cinta dan rindu Sheila yang tak akan pernah putus.

 

SCENE 11. EXT. RUMAH MELODI - SENJA (LONG SHOT)

Kamera bergerak naik tinggi ke langit. Kita melihat seluruh kompleks Rumah Melodi yang asri dan damai. Cahaya lampu mulai menyala satu per satu.

Suara siulan Sheila perlahan memudar, digantikan oleh suara ratusan anak yang ikut bersiul bersama-sama. Suara itu membumbung tinggi ke angkasa, menjadi melodi yang TAK AKAN PERNAH BISA DIBUNGKAM.

FADE OUT.

SELESAI.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)