Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Siulan Malaikat
Suka
Favorit
Bagikan
7. Keajaiban di Stasiun
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. HALAMAN STASIUN - SORE

​Matahari mulai turun, menciptakan bayangan panjang di lantai beton stasiun. ANDI (18) dan SHEILA (17) berdiri di dekat pintu keluar penumpang. Sheila tampak lebih tenang dibandingkan di pasar, tapi ia terus meremas jemarinya... kebiasaan saat ia merasa gugup menghadapi kerumunan baru.

​Andi mengeluarkan kaleng bekas tempat uang mereka, memperlihatkan beberapa lembar uang hasil dari pasar tadi sebagai semangat.


SCENE 2. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS

​Ratusan orang keluar dari pintu stasiun setelah kereta komuter tiba. Suasana sangat bising dengan suara langkah kaki yang terburu-buru dan hiruk pikuk kota.

Andi mulai memetik ukulele dengan irama ballad yang lembut, menciptakan melodi yang damai di tengah keramaian.

Sheila memejamkan mata. Ia mencoba mematikan suara dunia di sekitarnya, membayangkan angin sepoi-sepoi di kebun bambu rumahnya.

Perlahan, bibirnya mulai bergerak. Mengeluarkan nada siulan yang JELAS, BERSIH, dan SANGAT MERDU, melayang lembut mengikuti petikan senar Andi.


SCENE 3. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS

​Awalnya, para penumpang hanya lewat seperti bayangan. Mereka terlalu sibuk dengan ponsel atau beban tas mereka. Sheila merasa sedikit diabaikan. Ia meningkatkan volume siulannya, menambahkan cengkok melayu yang ia pelajari dari mendengarkan radio tua Ayahnya.

​Seorang pria berjas yang tadinya berjalan sangat cepat, tiba-tiba memperlambat langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara.


SCENE 4. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS

​Perlahan, sebuah lingkaran kecil terbentuk. Orang-orang mulai berhenti. Siulan Sheila bukan hanya merdu, tapi memiliki frekuensi yang seolah mampu menembus rasa lelah para pekerja kantor itu.

​Sheila tidak membuka mata. Ia terus bersiul, membayangkan wajah Ibunya yang sedang sakit. Emosi itu tersalurkan murni melalui nada-nada yang meliuk indah.


SCENE 5. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS

​Di pinggir kerumunan, seorang pemuda bergaya trendy dengan kamera mahal tergantung di lehernya memperhatikan dengan seksama. Itu adalah REZA (20-an). Ia tampak terkejut. Ia segera menyalakan kameranya dan mulai merekam secara diam-diam (candid).

​Reza memajukan lensanya, menangkap ekspresi tulus dan polos di wajah Sheila yang sedang bersiul dengan penuh perasaan.


SCENE 6. EXT. HALAMAN STASIUN - SENJA

​Seorang ibu membawa anak kecil mendekati Sheila. Si anak kecil itu memberikan sekotak susu dan sekeping uang logam. Sheila membuka matanya, ia melihat anak itu tersenyum padanya.

ANAK KECIL

"Kakak, suaranya seperti burung di taman."

​Sheila tersenyum sangat lebar. Ia mengusap kepala anak itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa disabilitasnya bukan lagi sebuah kutukan, melainkan jembatan untuk berbagi kebahagiaan.


SCENE 7. EXT. HALAMAN STASIUN - MALAM

​Kerumunan mulai bubar seiring malam yang semakin larut. Andi menghitung uang di dalam tas ukulele. Matanya berbinar. Hasil malam ini tiga kali lipat lebih banyak daripada hasil di pasar.

ANDI

"Shei! Lihat! Kita bisa beli obat yang lebih bagus untuk Ibu besok. Kamu hebat banget tadi!"

​Sheila bersiul nada "ceria" berkali-kali sambil melompat kecil. Kepolosannya kembali muncul, ia merasa seolah-olah penyakit Ibunya sudah sembuh hanya dengan melihat uang itu.


SCENE 8. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS

Saat mereka bersiap pulang, Reza mendekat. Ia menunjukkan layar kameranya yang berisi rekaman Sheila tadi.

REZA

"Hai. Saya Reza. Tadi saya rekam suaramu... Unik sekali, merdu banget. Boleh saya posting di media sosial saya?"

Andi tampak ragu, ia sedikit mundur melindungi Sheila.

ANDI

"Maaf, Bang. Kami lagi butuh uang buat pengobatan ibu kami yang sakit keras. Kami nggak mau cari masalah."

Mendengar itu, mata Reza justru makin berbinar. Ia mengangguk mengerti.

REZA

"Wah, makanya suaranya penuh perasaan ya... Tenang, niat saya baik. Kalau ini viral, pasti banyak orang yang mau bantu. Boleh kan?"

Sheila menatap kamera itu dengan penasaran. Ia belum tahu bahwa pertemuan singkat ini akan mengubah hidupnya selamanya... baik secara manis maupun pahit.

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)