Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SCENE 49. EXT. HALAMAN STASIUN - SORE
Matahari mulai turun, menciptakan bayangan panjang di lantai beton stasiun. ANDI (18) dan SHEILA (17) berdiri di dekat pintu keluar penumpang. Sheila tampak lebih tenang dibandingkan di pasar, tapi ia terus meremas jemarinya... kebiasaan saat ia merasa gugup menghadapi kerumunan baru.
Andi mengeluarkan kaleng bekas tempat uang mereka, memperlihatkan beberapa lembar uang hasil dari pasar tadi sebagai semangat.
SCENE 50. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS
Ratusan orang keluar dari pintu stasiun setelah kereta komuter tiba. Suasana sangat bising dengan suara langkah kaki yang terburu-buru dan hiruk pikuk kota.
Andi mulai memetik ukulele dengan irama ballad yang lembut, menciptakan melodi yang damai di tengah keramaian.
Sheila memejamkan mata. Ia mencoba mematikan suara dunia di sekitarnya, membayangkan angin sepoi-sepoi di kebun bambu rumahnya.
Perlahan, bibirnya mulai bergerak. Mengeluarkan nada siulan yang JELAS, BERSIH, dan SANGAT MERDU, melayang lembut mengikuti petikan senar Andi.
SCENE 51. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS
Awalnya, para penumpang hanya lewat seperti bayangan. Mereka terlalu sibuk dengan ponsel atau beban tas mereka. Sheila merasa sedikit diabaikan. Ia meningkatkan volume siulannya, menambahkan cengkok melayu yang ia pelajari dari mendengarkan radio tua Ayahnya.
Seorang pria berjas yang tadinya berjalan sangat cepat, tiba-tiba memperlambat langkahnya. Ia menoleh ke arah sumber suara.
SCENE 52. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS
Perlahan, sebuah lingkaran kecil terbentuk. Orang-orang mulai berhenti. Siulan Sheila bukan hanya merdu, tapi memiliki frekuensi yang seolah mampu menembus rasa lelah para pekerja kantor itu.
Sheila tidak membuka mata. Ia terus bersiul, membayangkan wajah Ibunya yang sedang sakit. Emosi itu tersalurkan murni melalui nada-nada yang meliuk indah.
SCENE 53. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS
Di pinggir kerumunan, seorang pemuda bergaya trendy dengan kamera mahal tergantung di lehernya memperhatikan dengan seksama. Itu adalah REZA (20-an). Ia tampak terkejut. Ia segera menyalakan kameranya dan mulai merekam secara diam-diam (candid).
Reza memajukan lensanya, menangkap ekspresi tulus dan polos di wajah Sheila yang sedang bersiul dengan penuh perasaan.
SCENE 54. EXT. HALAMAN STASIUN - SENJA
Seorang ibu membawa anak kecil mendekati Sheila. Si anak kecil itu memberikan sekotak susu dan sekeping uang logam. Sheila membuka matanya, ia melihat anak itu tersenyum padanya.
Sheila tersenyum sangat lebar. Ia mengusap kepala anak itu. Untuk pertama kalinya, ia merasa disabilitasnya bukan lagi sebuah kutukan, melainkan jembatan untuk berbagi kebahagiaan.
SCENE 55. EXT. HALAMAN STASIUN - MALAM
Kerumunan mulai bubar seiring malam yang semakin larut. Andi menghitung uang di dalam tas ukulele. Matanya berbinar. Hasil malam ini tiga kali lipat lebih banyak daripada hasil di pasar.
Sheila bersiul nada "ceria" berkali-kali sambil melompat kecil. Kepolosannya kembali muncul, ia merasa seolah-olah penyakit Ibunya sudah sembuh hanya dengan melihat uang itu.
SCENE 56. EXT. HALAMAN STASIUN - CONTINUOUS
Saat mereka bersiap pulang, Reza mendekat. Ia menunjukkan layar kameranya yang berisi rekaman Sheila tadi.
Andi tampak ragu, ia sedikit mundur melindungi Sheila.
Mendengar itu, mata Reza justru makin berbinar. Ia mengangguk mengerti.
Sheila menatap kamera itu dengan penasaran. Ia belum tahu bahwa pertemuan singkat ini akan mengubah hidupnya selamanya... baik secara manis maupun pahit.
FADE OUT.