Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Siulan Malaikat
Suka
Favorit
Bagikan
9. Jejak Harapan

SCENE 65. EXT. GERBANG PASAR INDUK - SUBUH

Udara sangat dingin dan berkabut. SHEILA (17) dan ANDI (18) sudah berdiri di antara truk-truk besar.

Sheila memakai jaket lusuh Ayahnya. Ia mulai bersiul. Awalnya tenggelam, namun perlahan suaranya yang jernih membelah kebisingan. Seorang sopir truk melempar uang logam yang berdenting di aspal basah.

 

SCENE 66. EXT. AREA PARKIR - SIANG

Matahari membakar kulit. Sheila bersiul dengan napas yang mulai pendek.

Seorang SATPAM (40-an) mendekat dengan wajah garang hendak mengusir. Namun begitu mendengar melodi itu, ia terdiam. Tanpa bicara, ia merogoh saku dan memberikan uang sepuluh ribu, lalu pergi dengan tatapan hormat.

 

SCENE 67. EXT. SUDUT TERMINAL - SORE

Bibir Sheila sudah pecah-pecah. Andi memberinya air minum.

ANDI
"Minum dulu, Shei. Jangan dipaksa, tenggorokanmu bisa luka. Kalengnya sudah hampir setengah penuh kok."

Sheila menggeleng kuat. Ia menunjuk matahari yang tenggelam, lalu menunjuk arah rumah. Ia punya firasat aneh, ia harus CEPAT. Ia berdiri lagi, membasahi bibir, dan kembali bersiul lebih keras.

 

SCENE 68. INT. ANGKOT - MALAM

Di dalam angkot yang pengap berasap, mereka tetap bernyanyi.

Awalnya penumpang kesal, namun saat nada siulan Sheila mulai mengalun, suasana berubah hening dan damai. Seorang ibu paruh baya menangis tanpa suara, tersentuh oleh keindahan suara itu.

 

SCENE 69. EXT. DEPAN SWALAYAN - MALAM

Kontras terlihat jelas: baju kusam mereka di bawah lampu neon yang mewah.

Orang dewasa cuek, tapi anak-anak justru terpesona. Seorang anak kecil memberikan cokelat. Sheila tersenyum dan membalas dengan siulan ceria seperti burung berkicau.

 

SCENE 70. EXT. EMPERAN TOKO - LARUT MALAM

Mereka duduk di lantai dingin, menuangkan isi kaleng. Ada uang kertas, koin, bahkan kancing yang nyasar.

ANDI
(Berbisik haru)
"Shei... Besok kalau dapat segini lagi, lusa kita BENAR-BENAR bisa bawa Ibu ke rumah sakit. Kita hampir sampai, Shei..."

 

Sheila tersenyum lebar mendengarnya. Sebuah senyum tulus yang memancarkan harapan baru, seolah beban berat di bahunya perlahan terangkat oleh kata-kata sahabatnya. Matanya berbinar, memandang tumpukan uang itu lalu menatap Andi dengan penuh keyakinan.

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)