Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SCENE 17. INT. RUMAH - PAGI
CLOSE UP: Tangan SHEILA (17) yang gemetar sedang mengumpulkan helai-helai rambut hitam yang berceceran di lantai kamar Ibunya. Ia memasukkan rambut-rambut itu ke dalam sebuah kantong plastik kecil dengan sangat hati-hati, seolah itu adalah harta karun.
Sheila bersiul dengan nada yang sangat rendah dan datar...
nada yang biasanya ia gunakan saat sedang berpikir keras atau merasa bingung.
SCENE 18. INT. RANGKA RUMAH - SIANG
Sheila duduk di pojokan ruang tengah yang remang-remang. Di depannya ada sebotol lem kertas cair dan plastik berisi rambut rontok tadi.
Ia mencoba menempelkan rambut-rambut itu ke permukaan sebuah topi kain tua miliknya. Ia percaya, jika ia bisa menyatukan kembali rambut itu ke sebuah benda, Ibunya tidak akan sedih lagi. Tangannya penuh dengan noda lem yang lengket.
SCENE 19. EXT. SUMUR TUA - SORE
ANDI (18) sedang membantu Sheila menimba air. Ia melihat noda putih (lem) di tangan Sheila dan sisa rambut yang menempel di bajunya.
Sheila menunjuk ke arah kamar Ibunya, lalu melakukan gerakan tangan seolah sedang menempelkan sesuatu di kepala.
SCENE 20. EXT. SUMUR TUA - CONTINUOUS
Andi terhenti. Ia meletakkan ember air. Ia mengerti apa yang sedang diusahakan sahabatnya yang polos ini.
Sheila menatap Andi dengan tatapan tidak setuju. Baginya, segala sesuatu yang rusak harus diperbaiki.
SCENE 21. INT. RUMAH - SENJA
WULAN (45) keluar dari kamar dengan sangat lemah, berpegangan pada dinding. Ia mencari Sheila untuk meminta bantuan mengambilkan air minum.
Ia menemukan Sheila sedang duduk di lantai, membelakanginya, tampak sibuk dengan sesuatu.
Sheila berbalik dengan semangat. Ia menunjukkan topi kain yang sudah dipenuhi tempelan rambut yang berantakan dan bau lem yang menyengat.
SCENE 22. INT. RUMAH - CONTINUOUS
Sheila mendekati Ibunya dengan senyum lebar, berusaha memakaikan topi "rambut" itu ke kepala Wulan yang terbungkus kerudung.
Wulan terpaku melihat benda di tangan Sheila. Ia melihat rambut-rambut matinya sendiri yang ditempel asal-asalan dengan lem kertas. Bukannya senang, Wulan justru merasa sangat terhina dan ngeri melihat realita penyakitnya dijadikan "mainan" oleh anaknya.
SCENE 23. INT. RUMAH - CONTINUOUS
Wulan menepis tangan Sheila dengan keras hingga topi itu jatuh ke lantai.
Wulan mendorong pundak Sheila dengan kuat, membuat gadis itu terguncang hebat dan mundur terhenyak.
Wulan langsung menutup wajahnya dengan kerudung, menangis histeris. Ia merasa gagal menjadi Ibu yang tegar di depan anaknya yang spesial.
SCENE 24. INT. RUMAH - MALAM
Hening yang menyakitkan. Sheila duduk di lantai, menatap topi buatannya yang kini kotor terkena debu. Ia tidak menangis dengan suara, hanya air mata yang mengalir deras membasahi pipinya.
Ia mengambil topi itu, memeluknya erat-erat di dadanya. Ia tidak mengerti kenapa "niat baiknya" membuat Ibu marah besar. Di luar, suara angin yang masuk ke celah dinding bambu rumah mereka bersiul sendiri... sebuah melodi kesedihan yang tak berujung.
FADE OUT.