Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SCENE 1. INT. RUMAH TUA - SENJA
Cahaya oranye masuk melalui celah dinding kayu yang bolong. SHEILA (17) masuk perlahan. Ia berdiri di ambang pintu, menatap IBU WULAN (45) yang sedang melamun menatap foto almarhum Ayah.
Sheila menarik napas dalam, lalu ia bersiul satu nada panjang yang sangat jernih. Seperti ketukan pintu yang sopan. Wulan menoleh, senyum lemah muncul di wajahnya yang tirus.
SCENE 2. INT. RUMAH TUA - CONTINUOUS
Sheila mendekat dan duduk bersimpuh. Ia membuka tas kainnya. Dengan gerakan sangat pelan, seolah itu harta karun, ia mengeluarkan tumpukan koin dan uang kertas yang lecek.
Ia menyusunnya satu per satu di atas dipan kayu. Tidak ada suara berisik, semuanya diletakkan dengan penuh hormat.
SCENE 3. INT. RUMAH TUA - CONTINUOUS
Wulan meraih tangan Sheila. Ia melihat telapak tangan anaknya yang kasar dan ada bekas luka gores. Air mata jatuh mengenai uang-uang itu.
IBU WULAN
(Suara serak bergetar)
"Dari mana kamu dapat ini semua...? Ibu tidak pernah ingin membebanimu seperti ini. Ibu yang seharusnya menjagamu, bukan kamu yang menanggung sakitnya Ibu..."
Sheila menggeleng pelan. Ia mengambil sisir kayu tua, ingin menunjukkan bahwa ia baik-baik saja.
SCENE 4. INT. RUMAH TUA - CONTINUOUS
Sheila mulai menyisir sisa-sisa rambut Ibunya yang tipis. Setiap helai yang jatuh dipungutnya dengan hati-hati.
Ia mulai bersiul pelan. Lagu masa kecil yang dulu sering dinyanyikan Ibunya.
Siulan itu berbicara: "Aku tidak lelah, Bu. Aku bahagia bisa melakukan ini."
SCENE 5. INT. RUMAH TUA - CONTINUOUS
Wulan membalikkan badan, memeluk pinggang Sheila dan menangis tersedu-sedu di perut anaknya.
IBU WULAN
"Maafkan Ibu yang waktu itu kasar padamu... maafkan Ibu yang pernah marah dan menyakiti hatimu. Ibu sangat mencintaimu, Shei. Kamu malaikat yang Ayah titipkan."
Sheila terdiam, membelai pundak Ibu yang kurus. Ia tidak bicara, hanya bersiul rendah... nada hangat seperti pelukan suara.
SCENE 6. INT. RUMAH TUA - MALAM
ANDI (18) berdiri diam di luar pintu. Ia menyaksikan dari balik kegelapan, tidak ingin mengganggu.
Di matanya, ini adalah momen paling murni. Keheningan malam yang hanya dipecahkan oleh isak tangis dan siulan lirih.
SCENE 7. INT. RUMAH TUA - CONTINUOUS
Sheila mengambil kaleng biskuit tua. Ia memasukkan semua hasil hari ini ke dalamnya. Bukan sekadar uang, tapi "Hari Esok".
Ia menyerahkannya kepada Ibu untuk dipeluk. Lalu ia menempelkan telinganya ke dada Ibu, mendengarkan detak jantung itu. Ia bersiul mengikuti irama detak jantung, menyelaraskan nyawanya dengan nyawa sang Ibu.
SCENE 8. INT. RUMAH TUA - TENGAH MALAM
Lampu minyak padam. Mereka tertidur pulas berpelukan di dipan sempit itu, dengan kaleng uang di antara mereka.
Kamera menjauh perlahan, memperlihatkan rumah tua itu di bawah bulan.
Ini adalah puncak kebahagiaan mereka yang terakhir... sebelum badai besar datang menghancurkan segalanya.
FADE OUT.