Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SCENE 1. INT. DAPUR - PAGI (MASA SEKARANG)
SHEILA (17) berdiri di depan tungku kayu. Ia sedang mengaduk panci berisi bubur encer dengan gerakan sangat lambat dan teliti. Ia bersiul pelan... nada yang terdengar melankolis, memantul di dinding dapur yang menghitam karena asap.
WULAN (45) masuk ke dapur dengan langkah terseret. Ia memakai kerudung instan yang menutupi hingga ke dada. Wajahnya sangat pucat, matanya cekung.
SHEILA
(Berhenti bersiul, tersenyum polos)
"I-bu... ma-kan."
SCENE 2. INT. DAPUR - CONTINUOUS
Wulan menerima mangkuk bubur itu, tapi tangannya gemetar hebat. Saat hendak menyuap, ia tiba-tiba meletakkan mangkuk itu dan menutup mulutnya, menahan mual yang luar biasa.
WULAN
(Suara lemah)
"Sheila saja yang makan ya, Nak. Ibu... Ibu tadi sudah nyicipin di panci. Kenyang."
Sheila menatap Ibunya dengan pandangan menyelidik. Sebagai penyandang disabilitas intelektual, ia sulit membedakan kebohongan, tapi ia merasa "energi" Ibunya sedang meredup.
SCENE 3. EXT. HALAMAN RUMAH - SIANG
ANDI (18) datang dengan SEPEDA JENGKI tua yang rantainya berbunyi kriet-kriet. Ia membawa kantong plastik berisi beberapa butir telur dan minyak goreng.
Sheila sedang duduk di bawah pohon bambu, mencoba memperbaiki kincir angin bambu masa kecilnya yang patah. Ia melambaikan tangan dengan antusias saat melihat Andi.
ANDI
"Masih belum berputar juga, Shei? Sini, biar aku yang baut."
SCENE 4. EXT. HALAMAN RUMAH - CONTINUOUS
Andi duduk di samping Sheila. Sambil bekerja, matanya sesekali melirik ke arah pintu rumah yang tertutup.
ANDI
(Berbisik)
"Ibu beneran sudah minum obat yang kubeli tempo hari? Bukan dibuang ke pot bunga kan?"
Sheila mengangguk mantap, lalu bersiul satu nada pendek yang ceria. Namun, Andi hanya bisa menghela napas panjang. Ia tahu "obat" itu hanyalah vitamin murah yang tidak akan bisa melawan kanker yang sebenarnya.
SCENE 5. INT. RUMAH - SORE
Sheila sedang menyapu lantai kayu yang mulai lapuk. Ia melihat sebuah amplop putih dengan logo rumah sakit tergeletak di bawah meja makan. Karena rasa penasaran, ia membukanya.
Ada angka besar bertinta merah di bawah kolom BIAYA RAWAT JALAN. Sheila tidak paham nilai uangnya, tapi warna merah itu membuatnya merasa takut.
Tiba-tiba Wulan datang dan merebut amplop itu dengan gerakan kasar yang tidak biasanya.
SCENE 6. INT. RUMAH - CONTINUOUS
WULAN
(Membentak)
"Sheila! Siapa yang suruh buka-buka ini?! Masuk kamar!"
Sheila tersentak. Bahunya menciut. Ini pertama kalinya sejak Sheila tahu dunia, ia mendengar Ibunya membentak setajam itu. Air mata mulai menggenang di mata Sheila yang polos.
WULAN (CONT'D)
(Menyesal, langsung memeluk Sheila)
"Maaf... Maafkan Ibu, Shei. Ibu cuma... Ibu cuma pusing. Kepala Ibu sakit sekali."
SCENE 7. INT. KAMAR IBU - MALAM
Sheila terbangun karena mendengar suara batuk yang sangat berat dari balik dinding. Ia berjalan berjinjit, mengintip lewat celah pintu kamar Ibunya yang sedikit terbuka.
Di dalam, Wulan duduk di depan cermin tua yang retak. Di bawah cahaya lampu minyak yang bergoyang, Wulan perlahan membuka kerudungnya.
CLOSE UP: Segumpal besar rambut jatuh dari tangan Wulan ke pangkuannya saat ia mencoba menyisir. Kepala Wulan kini terlihat botak di bagian tengah dan memerah.
SCENE 8. INT. KAMAR IBU - CONTINUOUS
Sheila di balik pintu membekap mulutnya sendiri. Matanya membelalak lebar. Ia melihat Ibunya menangis tanpa suara, bahunya berguncang hebat meratapi rambutnya yang gugur.
Sheila tidak mengerti apa itu kanker, tapi ia merasa dunianya sedang hancur. Ia perlahan mundur, masuk ke kegelapan ruang tengah, dan memeluk lututnya dalam diam. Tidak ada suara siulan malam itu. Hanya kesunyian yang mencekam.
FADE OUT.