Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Siulan Malaikat
Suka
Favorit
Bagikan
5. Keputusan Besar
Skrip ini masih diperiksa oleh kurator

SCENE 1. EXT. KEBUN BAMBU - SORE (CONTINUOUS)

​Hujan mulai turun membasahi bumi Karawang. SHEILA (17) masih terduduk di tanah, bahunya berguncang hebat. ANDI (18) mendekat perlahan, ia melepaskan jaket kusamnya dan menyampirkannya ke pundak Sheila.

​Sheila menoleh, matanya merah dan bengkak. Ia menunjuk ke arah rumah, lalu melakukan gerakan tangan seolah-olah dunianya baru saja runtuh.


SCENE 2. EXT. KEBUN BAMBU - CONTINUOUS

​Andi berlutut di depan Sheila. Ia memegang kedua pundak sahabatnya itu agar fokus menatap matanya.

ANDI

"Ibu butuh operasi, Shei. Bukan cuma obat warung. Biayanya mahal sekali... Jutaan. Kita nggak akan dapat uang itu kalau cuma diam di sini."

​Sheila terdiam. Istilah "jutaan" terasa sangat abstrak baginya, tapi ia tahu itu artinya "sangat banyak".


SCENE 3. INT. RUMAH - MALAM

​Sheila masuk ke dalam rumah dengan langkah sangat pelan. Ia melihat Ibunya sudah tertidur di kursi panjang ruang tamu, masih dengan kerudung yang dipasang asal-asalan. Wajah Ibunya tampak sangat damai saat tidur, seolah semua rasa sakitnya hilang sementara.

​Sheila berlutut di samping Ibunya. Ia mencium tangan Ibunya yang dingin. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan membiarkan mahkota Ibunya hilang selamanya.


SCENE 4. INT. RUMAH - CONTINUOUS

​Sheila berjalan ke pojok ruangan, mengambil tas kain usang peninggalan Ayahnya. Ia memasukkan sebuah botol minum, kincir angin bambu kecil, dan topi kain yang sempat ia buat.

​Ia menatap foto Ayahnya yang berdebu di dinding. Ia bersiul satu nada pendek yang mantap... nada "perpisahan sementara".


SCENE 5. EXT. DEPAN RUMAH - DINI HARI

​Andi sudah menunggu di depan pagar dengan SEPEDA JENGKI-nya. Di boncengan belakang sudah ada bantalan busa tipis yang ia ikat dengan tali rafia agar Sheila nyaman duduk. Sebuah UKULELE tua tergantung di leher Andi.

ANDI

"Sudah siap? Kita ke kota, Shei. Kita cari uang di sana. Kamu yang bernyanyi lewat siulan, aku yang petik senarnya."


SCENE 6. EXT. JALANAN DESA - SUBUH

​Langit masih biru gelap. Andi mengayuh sepeda dengan kuat, sementara Sheila duduk di boncengan belakang, memegang pinggang Andi erat-erat.

​Mereka melewati hamparan sawah yang luas. Angin subuh menerpa wajah Sheila. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia keluar meninggalkan desanya demi sebuah misi besar.


SCENE 7. EXT. PINGGIR JALAN RAYA - PAGI

​Mereka berhenti di bawah papan penunjuk jalan besar yang bertuliskan: "KOTA - 15 KM". Kendaraan besar seperti bus dan truk mulai berlalu lalang, menimbulkan suara bising yang menakutkan bagi Sheila.

​Sheila menciut, ia menutup telinganya. Dunianya yang biasanya tenang kini penuh dengan suara mesin yang kasar.


SCENE 8. EXT. PINGGIR JALAN RAYA - CONTINUOUS

​Andi memegang tangan Sheila, menenangkannya. Ia mengambil ukulelenya dan memetik satu kunci C Major yang ceria.

ANDI

"Jangan takut sama suaranya, Shei. Suaramu lebih indah dari semua mesin ini. Ayo, tunjukkan pada dunia siapa itu Sheila."

​Sheila menarik napas panjang. Ia menatap ke arah jalan panjang di depannya. Ia mengerucutkan bibirnya, mengeluarkan satu nada siulan yang tinggi, jelas dan menembus kebisingan jalan raya.

Perjalanan mereka baru saja dimulai.

FADE OUT.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)