Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
SCENE 33. EXT. KEBUN BAMBU - SORE (CONTINUOUS)
Hujan mulai turun membasahi bumi Karawang. SHEILA (17) masih terduduk di tanah, bahunya berguncang hebat. ANDI (18) mendekat perlahan, ia melepaskan jaket kusamnya dan menyampirkannya ke pundak Sheila.
Sheila menoleh, matanya merah dan bengkak. Ia menunjuk ke arah rumah, lalu melakukan gerakan tangan seolah-olah dunianya baru saja runtuh.
SCENE 34. EXT. KEBUN BAMBU - CONTINUOUS
Andi berlutut di depan Sheila. Ia memegang kedua pundak sahabatnya itu agar fokus menatap matanya.
Sheila terdiam. Istilah "jutaan" terasa sangat abstrak baginya, tapi ia tahu itu artinya "sangat banyak".
SCENE 35. INT. RUMAH - MALAM
Sheila masuk ke dalam rumah dengan langkah sangat pelan. Ia melihat Ibunya sudah tertidur di kursi panjang ruang tamu, masih dengan kerudung yang dipasang asal-asalan. Wajah Ibunya tampak sangat damai saat tidur, seolah semua rasa sakitnya hilang sementara.
Sheila berlutut di samping Ibunya. Ia mencium tangan Ibunya yang dingin. Dalam hatinya, ia berjanji tidak akan membiarkan mahkota Ibunya hilang selamanya.
SCENE 36. INT. RUMAH - CONTINUOUS
Sheila berjalan ke pojok ruangan, mengambil tas kain usang peninggalan Ayahnya. Ia memasukkan sebuah botol minum, kincir angin bambu kecil, dan topi kain yang sempat ia buat.
Ia menatap foto Ayahnya yang berdebu di dinding. Ia bersiul satu nada pendek yang mantap... nada "perpisahan sementara".
SCENE 37. EXT. DEPAN RUMAH - DINI HARI
Andi sudah menunggu di depan pagar dengan SEPEDA JENGKI-nya. Di boncengan belakang sudah ada bantalan busa tipis yang ia ikat dengan tali rafia agar Sheila nyaman duduk. Sebuah UKULELE tua tergantung di leher Andi.
SCENE 38. EXT. JALANAN DESA - SUBUH
Langit masih biru gelap. Andi mengayuh sepeda dengan kuat, sementara Sheila duduk di boncengan belakang, memegang pinggang Andi erat-erat.
Mereka melewati hamparan sawah yang luas. Angin subuh menerpa wajah Sheila. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia keluar meninggalkan desanya demi sebuah misi besar.
SCENE 39. EXT. PINGGIR JALAN RAYA - PAGI
Mereka berhenti di bawah papan penunjuk jalan besar yang bertuliskan: "KOTA - 15 KM". Kendaraan besar seperti bus dan truk mulai berlalu lalang, menimbulkan suara bising yang menakutkan bagi Sheila.
Sheila menciut, ia menutup telinganya. Dunianya yang biasanya tenang kini penuh dengan suara mesin yang kasar.
SCENE 40. EXT. PINGGIR JALAN RAYA - CONTINUOUS
Andi memegang tangan Sheila, menenangkannya. Ia mengambil ukulelenya dan memetik satu kunci C Major yang ceria.
Sheila menarik napas panjang. Ia menatap ke arah jalan panjang di depannya. Ia mengerucutkan bibirnya, mengeluarkan satu nada siulan yang tinggi, jelas dan menembus kebisingan jalan raya.
Perjalanan mereka baru saja dimulai.
FADE OUT.