Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Sapaan Rindu
Suka
Favorit
Bagikan
10. Bagian tanpa judul #10

BAB 10 – GELAP YANG DITINGGALKAN


FADE IN:

91. INT. RUANG RAWAT – MALAM

Gelap. Bukan karena lampu mati — tapi karena ZENA tidak melihat apa pun.

Suara mesin medis berdetak pelan. Zena terbaring. Mata terbuka... kosong.

ZENA (V.O.)

Dia memilih untuk pergi.

Sunyi.

Napas Zena bergetar.

Air mata mengalir ke samping bantal.

Tangannya bergerak...

meraba udara kosong di sampingnya.

Tidak menemukan apa-apa.


MONTAGE – HARI-HARI TANPA CAHAYA

— Kursi roda didorong pelan di lorong rumah sakit

— Zena duduk diam, wajah tanpa ekspresi

— VINA, ANYA, MAYA berbicara... tertawa dipaksakan

— Zena hanya diam... mendengar

— Puspa menyuapi dengan sabar

— Hartawan membantu Zena berdiri... Zena hampir jatuh

— Malam:

Zena menangis tanpa suara

Bantal basah

— Tangannya meraba sisi ranjang... kosong

ZENA (V.O.)

Apa salahku...?

Beat.

ZENA (V.O.) (CONT’D)

Kenapa kamu pergi...?

Sunyi menelan semuanya.


92. INT. RUANG RAWAT – PAGI

Cahaya matahari masuk.

Zena duduk di tepi ranjang.

Hartawan memegang tangannya.

Puspa di sisi lain.

Dokter berdiri di depan.

DOKTER

Zena sudah cukup kuat untuk pulang.

Beat.

Zena tidak langsung merespon.

Kabar baik itu tak membuatnya merasa lega.

Ia menarik napas pelan.

Tangannya menggenggam tangan Puspa.

Kuat.


93. EXT. RUMAH – SIANG

Mobil berhenti.

Pintu dibuka.

Zena turun perlahan.

Ragu.

Kakinya menyentuh tanah... seperti dunia baru.

Tangannya menggenggam lengan Puspa.

Langkah pertama.


94. INT. RUANG TAMU – SIANG

Suasana hangat.

Vina, Anya, Maya duduk di sekitar Zena.

Mereka bercerita cepat. Berisik. Dipaksakan ceria.

MAYA

(berlebihan)

Aku hampir ditabrak gara-gara beli es krim buat kamu!

VINA

Aku lari ngejar bus kayak orang kesurupan!

ANYA

Mereka lebay, Zen.

Hening sebentar.

Zena... tersenyum tipis.

Hampir tak terlihat.

Ketiganya saling pandang.

Senyum pertama Zena, membuat mata mereka berkaca.


95. INT. RUANG TAMU – SIANG (LANJUT)

Hartawan dan Puspa masuk.

Langkah mereka berbeda.

Lebih serius.

Zena langsung menangkap perubahan itu.

Hening.

Hartawan duduk di depan Zena.

Menatapnya lama.

HARTAWAN

(tenang, tapi berat)

Ada kabar.

Zena menegang.

Puspa menggenggam tangannya.

Lebih erat dari biasanya.

PUSPA

Pelan ya, Nak...

Beat.

HARTAWAN

Kamu dapat donor.

Sunyi.

Zena membeku.

Napasnya tertahan.

ZENA

(pelan)

Aku... bisa lihat lagi?

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya—

Puspa memeluknya.

Dan itu sudah cukup.

Tangis pecah.


96. MONTAGE – HARAPAN KEMBALI

— Zena duduk di ruang tunggu

— Jarum suntik masuk ke lengan

— Dokter membaca hasil

— Hartawan menggenggam tasbih

— Puspa berdoa dalam diam

— Vina, Anya, Maya menunggu gelisah

Pintu terbuka.

Dokter keluar.

Semua berdiri.

DOKTER

Cocok.

Satu kata.

Tapi—

Semua runtuh dalam tangis lega.


97. INT. KAMAR RAWAT – MALAM

Zena duduk sendiri.

Tangan menyentuh matanya yang tertutup.

Perban belum ada.

Hanya gelap.

ZENA (V.O.)

Kalau ini mimpi...

Beat.

ZENA (V.O.) (CONT’D)

Jangan bangunkan aku.


98. INT. RUANG OPERASI – PAGI

Lampu putih terang.

Zena dibaringkan.

Perawat memasang alat.

Napas Zena cepat.

Puspa mencium kening Zena.

PUSPA

Kami di luar.

Hartawan mengangguk.

Vina, Anya, Maya menahan tangis.

Zena mencoba tersenyum.

Tipis.

ZENA

Aku takut...

Tidak ada jawaban panjang.

Puspa hanya menggenggam tangannya.

Lama.

Perawat menarik perlahan.

Tangan mereka terlepas.


99. INT. RUANG TUNGGU

Jam berdetak.

Hartawan mondar-mandir.

Puspa berdoa tanpa henti.

Sunyi yang panjang.

Sangat panjang.

Pintu terbuka.

Dokter keluar.

Semua langsung berdiri.

Beat.

DOKTER

Operasi berhasil.

Napas semua orang lepas bersamaan.


100. INT. RUANG PEMERIKSAAN – BEBERAPA HARI KEMUDIAN

Zena duduk.

Perban menutupi mata.

Semua berdiri di sekelilingnya.

Hening.

Dokter mulai membuka perban.

Perlahan.

Satu lapis.

Dua lapis.

Zena menegang.

DOKTER

Jangan buru-buru.

Beat.

Perban terakhir dilepas.

Hening total.

DOKTER (CONT’D)

Sekarang... pelan-pelan.

Zena membuka mata.

Blur.

Cahaya masuk.

Samar.

Lalu—

Wajah.

Puspa.

Hartawan.

Teman-temannya.

Air mata langsung jatuh.

ZENA

(pecah)

Aku... bisa lihat lagi...

Puspa memeluknya.

Semua menangis. Bukan sedih. Tapi syukur.


101. EXT. HALAMAN RUMAH – PAGI

Zena berdiri sendiri.

Menatap langit.

Cahaya matahari mengenai wajahnya.

Matanya berkaca.

Tersenyum.

Tipis.

Damai.

ZENA (V.O.)

Aku masih bernapas.

Beat.

ZENA (V.O.) (CONT’D)

Dan aku akan terus mencoba.

Angin berembus pelan.

Rambutnya bergerak.

Zena menutup mata sejenak.

Lalu membuka lagi.

Menatap dunia.

Tapi—

Ada sesuatu yang hilang.

Sedikit kosong di matanya.


CUT TO BLACK.


---


102. EXT. HALAMAN RUMAH – PAGI

Cahaya matahari lembut.

ZENA berdiri diam.

Matanya terbuka... menikmati.

Angin menyentuh wajahnya.

Ia mengangkat tangan...

menangkap cahaya.

Tipis—senyum muncul.


103. MONTAGE – DUNIA KEMBALI

— Zena berjalan pelan di taman

— Daun bergerak tertiup angin

— Cahaya matahari di sela pepohonan

— Vina, Anya, Maya tertawa

— Zena ikut tertawa

— Mereka makan bersama

— Zena memperhatikan wajah mereka... lama

— Malam: lampu kota berkelip

— Zena melihat... terpaku

ZENA (V.O.)

Dunia kembali terang...

Beat.

ZENA (V.O.) (CONT’D)

Tapi tidak sepenuhnya.


104. INT. KAMAR ZENA – MALAM

Jendela terbuka.

Langit penuh bintang.

Zena duduk di lantai.

Sebuah buku di pangkuannya.

Ia menulis.

Tangan sedikit gemetar.

Air mata jatuh... mengenai kertas.

Ia berhenti.

Menatap tulisan itu lama.

Lalu—

Menutup buku.

Memeluknya ke dada.


105. INT. RUANG TAMU – SIANG

Suasana ramai.

Vina, Anya, Maya bercanda.

Zena tertawa.

Nyata.

Tapi—

Tawanya berhenti lebih dulu.

Matanya kosong sesaat.

Ia melihat ke kursi kosong di sudut.

Seolah seseorang seharusnya ada di sana.

Tidak ada.


106. EXT. JALAN PERUMAHAN – SORE

Mereka berjalan bersama.

Langkah santai.

Cahaya sore hangat.

Maya berbicara heboh.

Vina menimpali.

Anya tertawa.

Zena ikut tersenyum.

Lalu—

Langkahnya melambat.

Berhenti.

POV ZENA

Mbo Ijah duduk di halte.

Tas belanja di sampingnya.

Wajah lelah.

Diam.

KEMBALI KE SCENE

Zena menatap.

Matanya berubah.

Degup jantungnya terdengar.

Lebih cepat.

ANYA

(heran)

Zen?

Zena tidak menjawab.

Masih menatap wanita itu.

Kenangan seperti menyelinap masuk.

Cepat.

Sunyi.

CLOSE ON ZENA

Matanya berkaca.

Bukan tangis.

Lebih ke... sesuatu yang bangkit lagi.


107. EXT. HALTE – SORE (JARAK)

Wanita itu bangkit perlahan.

Mengangkat tas.

Pergi.

Zena tetap diam.

Tidak memanggil.

Tidak bergerak.


108. INT. KAMAR ZENA – MALAM

Gelap.

Lampu mati.

Zena duduk di tepi ranjang.

Tidak menyalakan lampu.

Hanya cahaya bulan masuk dari jendela.

Ia menatap kosong.

FLASH CUTS (CEPAT, FRAGMEN INGATAN)

— Senyum Bintang

— Tangan menggenggam

— Tawa

— Suara samar

KEMBALI

Zena menutup mata.

Menahan sesuatu.

Gagal.

Air mata jatuh.

ZENA

(pelan)

Kenapa...

Beat.

ZENA (CONT’D)

Kenapa masih kamu...

Ia mengusap air matanya cepat.

Seolah marah pada dirinya sendiri.


109. INT. KAMAR ZENA – LANJUT

Zena berdiri.

Berjalan bolak-balik.

Gelisah.

ZENA (V.O.)

Dia yang pergi.

Beat.

ZENA (V.O.) (CONT’D)

Dia yang ninggalin aku.

Langkahnya berhenti.

CLOSE ON ZENA

Tatapannya berubah.

Bukan sedih lagi.

Tapi—

butuh jawaban.


110. EXT. RUMAH ZENA – MALAM

Pintu terbuka.

Zena keluar.

Langkah cepat.

Tanpa ragu lagi.


111. EXT. DEPAN RUMAH BINTANG – MALAM

Rumah gelap.

Sepi.

Cat mulai kusam.

Halaman tak terurus.

Zena berdiri di depan pintu.

Diam.

Lama.

Napasnya berat.

CLOSE ON TANGAN ZENA

Terangkat.

Ragu.

Lalu—

MENGETUK.

Tidak ada jawaban.

Ia menunggu.

Sunyi.


112. INT. RUMAH BINTANG – MALAM

Pintu terbuka perlahan.

Berderit.

Gelap.

Debu.

Kosong.

Langkah Zena masuk.

Pelan.

POV ZENA

Ruangan sunyi.

Beberapa perabot ditutup kain putih.

Tidak ada jejak kehidupan.

Hanya foto keluarga yang tergantung di dinding.

KEMBALI KE SCENE

Langkah Zena terhenti.

Matanya menyisir ruangan.

Kosong.

Benar-benar kosong.

CLOSE ON ZENA

Matanya berkaca.

Bukan karena sedih saja—

tapi karena realita akhirnya menampar.

ZENA

(sangat pelan)

Kamu... beneran pergi...

Suaranya hampir tidak ada.

CUT TO BLACK.


MONTAGE – HARI-HARI MENCARI

— Pagi:

Zena berdiri di depan pagar rumah Bintang.

Sunyi.

— Sore:

Lampu rumah tetap mati.

Tak ada siapa-siapa.

— Malam:

Zena duduk di dalam mobil.

Menatap rumah itu lama.

— Hujan tipis turun.

Zena tetap berdiri di luar pagar.

— Tangannya mencoba menghubungi nomor Bintang.

Tidak tersambung.

— Rumah itu tetap gelap.

Tetap kosong.

END MONTAGE


FA

---


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)