Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BAB 9 – DUNIA TANPA CAHAYA
FADE IN:
80. INT. RUMAH BINTANG – MALAM
Sunyi.
BINTANG berdiri kaku. Ponsel masih menempel di telinga.
HARTAWAN (V.O.)
Zena di rumah sakit. Cepat ke sini.
Panggilan terputus.
Hening.
Bintang tidak bergerak.
Matanya kosong.
BINTANG (V.O.)
Seharusnya aku nggak biarkan dia pergi sendirian...
Tangannya gemetar.
81. EXT. JALAN – MALAM
Mobil melaju cepat.
Lampu jalan memanjang seperti garis.
Napas Bintang berat.
BINTANG (V.O.)
Tolong... jangan ada apa-apa...
82. INT. RUMAH SAKIT – MALAM
Lorong panjang. Dingin.
Langkah Bintang tergesa.
Ia hampir berlari.
83. INT. ICU – MALAM
ZENA terbaring.
Pucat. Diam.
Alat medis berbunyi pelan.
Hartawan berdiri di sampingnya.
Bintang mendekat perlahan.
Duduk.
Menggenggam tangan Zena.
BINTANG
(hampir tak terdengar)
Zen...
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Aku di sini...
Matanya berkaca.
BINTANG (CONT’D)
Maaf...
Beat.
84. INT. RUANG DOKTER – SORE
Dokter duduk serius.
Bintang, Hartawan, Puspa di depannya.
DOKTER
Secara fisik stabil.
Beat.
DOKTER (CONT’D)
Tapi...
Semua menegang.
DOKTER (CONT’D)
Ada cedera pada saraf optik.
Hening.
DOKTER (CONT’D)
Kemungkinan besar... Zena tidak bisa melihat.
Dunia seolah berhenti.
Suara mendengung.
PUSPA
(pecah)
Nggak...
HARTAWAN
Ada harapan?
Dokter menggeleng pelan.
DOKTER
Kita hanya bisa menunggu.
MONTAGE – HARI BERLALU
— Kursi tunggu rumah sakit
— Bintang tertidur duduk
— Puspa berdoa
— Hartawan menatap kosong
— Zena tetap tak bergerak
Kembali ke realita: sunyi.
85. INT. LORONG RUMAH SAKIT – MALAM
Bintang bersandar di dinding.
Matanya kosong.
BINTANG (V.O.)
Kalau dia nggak bisa lihat...
SERANGKAIAN SHOT – BINTANG SENDIRI
— Bintang duduk di motor malam hari. Diam.
— Tangannya gemetar memegang hasil pemeriksaan.
— Ia melihat foto Zena di ponsel.
— Flash singkat:
Zena tertawa.
Zena memanggil namanya.
— Bintang menunduk.
Menahan tangis.
Beat.
BINTANG (V.O.) (CONT’D)
Maka aku yang akan jadi matanya.
— Bintang menghapus air mata cepat.
— Ia berdiri.
— Berjalan menuju ruangan dokter.
86. INT. RUANG DOKTER – MALAM
Lampu putih.
Terlalu terang.
BINTANG duduk. Tegak tapi tidak stabil.
Tangannya gemetar kecil di atas lutut.
Dokter membaca berkas.
Tidak langsung menatap.
Hening panjang.
BINTANG
Dok, saya mau donor.
Dokter berhenti.
Pelan mengangkat kepala.
Tatapannya langsung tajam.
DOKTER
Tidak bisa.
Sunyi.
Bintang tidak langsung bereaksi.
Seolah kalimat itu belum masuk.
Lalu—
napasnya pecah sedikit.
BINTANG
(suara serak)
Kenapa?
Dokter menghela napas kecil.
DOKTER
Karena ini bukan permintaan biasa. Selain itu, hal tersebut menyalahi aturan medis.
Beat.
Bintang menunduk sebentar.
Lalu mengangkat kepala lagi.
Matanya mulai merah.
BINTANG
Dia kehilangan segalanya, dok.
(suara naik sedikit)
Dan saya masih harus mikir prosedur?
Dokter diam.
Tegas tapi tidak dingin.
DOKTER
Kamu tidak dalam kondisi mengambil keputusan ini secara emosional.
Bintang tertawa kecil—pahit.
Tidak ada humor di dalamnya.
BINTANG
Saya justru terlalu sadar.
Beat.
Ia menelan ludah.
Tangannya mengepal.
BINTANG (CONT’D)
Dia nggak bisa lihat dunia.
(pelan, retak)
Karena saya gagal jaga dia.
Hening.
Ruangan jadi berat.
BINTANG (CONT’D)
(suara pecah)
Jadi ambil saja
Diam.
Bintang mendadak berdiri setengah.
BINTANG (CONT’D)
Ambil kornea saya. Sekarang.
Dokter langsung tegas.
DOKTER
Duduk.
Bintang berhenti.
Tegang.
Napasnya tidak stabil.
DOKTER (CONT’D)
Ini bukan pengorbanan emosional sesaat, Bintang.
Beat.
DOKTER (CONT’D)
Ini tubuhmu.
Sunyi.
Kata itu menghantam.
Bintang terdiam.
Untuk pertama kalinya—
dia goyah.
BINTANG
(lebih pelan)
Kalau dia nggak bisa lihat...
Ia berhenti.
Menutup mata.
Air mata jatuh tanpa suara.
BINTANG (CONT’D)
...buat apa saya masih lihat dunia?
Hening panjang.
Dokter terdiam.
Tidak langsung menjawab.
DOKTER
(lebih pelan dari sebelumnya)
Kalau kamu lakukan ini...
Beat.
DOKTER (CONT’D)
Kamu mungkin tidak bisa melihat lagi dengan normal.
Bintang menatap dokter.
Untuk pertama kalinya —
tidak langsung menjawab.
Beat.
BINTANG
(pelan)
Saya tahu...
Sunyi.
Matanya goyah.
Napasnya berubah.
Dokter menatapnya.
Lama.
BINTANG
...ya sudah.
Ia menunduk. Menghapus air matanya cepat.
BINTANG (CONT’D)
Ambil saja.
Hening panjang
Tidak ada suara. Tidak ada gerakan. Dokter akhirnya menghela napas panjang.
Bukan setuju. Tapi menyerah pada keputusan itu.
DOKTER
(Berat)
Kalau ini keputusanmu... baiklah...
Bahu Bintang turun perlahan. Seperti beban baru saja jatuh.
BINTANG
(pelan)
Satu hal lagi... Dok!
Dokter menatap.
BINTANG (CONT’D)
Tolong jangan beri tahu siapa pun.
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Termasuk dia.
Hening.
Dokter tidak langsung menjawab.
Lalu mengangguk pelan.
CUT TO BLACK.
87. INT. RUANG TUNGGU – PAGI
Ruangan rumah sakit. Lampu putih dingin. Hartawan duduk diam. Kaki bergerak gelisah. Puspa memegang tas erat. Mata lelah. Hening panjang.
Pintu terbuka. BINTANG masuk. Membawa makanan. Langkahnya pelan. Terlalu pelan. Seperti sedang menuju sesuatu yang tidak ingin ia lakukan.
Ia meletakkan makanan di meja. Tidak ada yang langsung menyentuh.
BINTANG
Ini sarapan.
Sunyi. Tidak ada respons. Hartawan hanya menatap. Puspa tidak tersenyum.
Bintang duduk. Tapi tidak nyaman. Menunduk. Tangannya saling menggenggam. Kuat... terlalu kuat.
BINTANG
(pelan)
Pah, Mah. Saya mau bicara.
Beat.
Hartawan langsung waspada.
Puspa menahan napas.
BINTANG (CONT’D)
Saya sudah pikirkan.
Hening mendadak berubah tegang.
BINTANG (CONT’D)
Saya... harus mundur.
Sunyi. Bukan hening biasa. Tapi hening yang “jatuh”.
PUSPA
(suara kecil, tidak percaya)
Mundur...?
Bintang mengangguk. Tapi kepalanya tidak tegak. Seperti menanggung beban.
BINTANG
Saya nggak bisa melanjutkan pernikahan.
Beat.
Ia berhenti. Menelan ludah. Seperti kata berikutnya berat sekali keluar.
BINTANG (CONT’D)
Saya nggak bisa hidup... (patah)
dengan seseorang yang... nggak bisa melihat.
Kalimat itu jatuh.
Tidak keras.
Tapi menghancurkan.
Hartawan langsung berdiri
Kursi bergeser keras.
HARTAWAN
(kasar, meledak)
Apa?!
HARTAWAN (CONT’D)
Kamu bilang apa?! Dia butuh kamu sekarang!
Puspa ikut berdiri.
Mata mulai merah.
PUSPA
(sakit + marah)
Kami percaya sama kamu...
Beat.
PUSPA (CONT’D)
...ternyata kamu cuma pengecut.
Bintang tidak melawan. Tidak membela diri. Itu yang paling aneh. Dia diam. Seperti menerima hukuman.
BINTANG
(pelan, hancur)
Saya tahu.
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Saya memang... nggak cukup.
Matanya berkaca. Tapi dia tidak menangis keras. Dia menahan.
Itu lebih sakit.
BINTANG (CONT’D)
Kalau saya tetap di sini...
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Saya cuma akan jadi beban.
Hartawan ingin bicara lagi. Tapi berhenti. Karena melihat sesuatu di wajah Bintang: bukan dingin. Tapi runtuh.
Hening
Tidak ada yang bicara. Tidak ada yang bergerak.
Bintang berdiri perlahan.
Kursi berdecit pelan.
BINTANG
(suara sangat pelan)
Maafkan saya. Pah, Mah.
Ia membungkuk sedikit. Bukan formal. Tapi seperti seseorang yang sudah kehilangan dirinya sendiri.
Ia berbalik sejenak sebelum pintu keluar. Menatap Zena.
BINTANG (V.O.)
Maafin aku, Zen...
CUT TO:
Bintang berjalan keluar. Langkahnya tidak mantap. Tapi tidak berhenti.
88. INT. RUANG RAWAT – SIANG
Sunyi.
Alat medis pelan.
Zena terbaring
Tiba-tiba—
Jarinya bergerak menggenggam udara.
ZENA
(pelan)
...Pah... Mah...
Puspa langsung berdiri.
Air matanya jatuh bahkan sebelum mendekat.
PUSPA
Zena... akhirnya kamu bangun, sayang!
Hartawan cepat mendekat. Tidak panik. Tapi takut.
HARTAWAN
Kami di sini, Nak!
Zena mencoba membuka mata.
Pelan.
CUT TO: ZENA POV
Gelap.
Tidak ada bentuk.
Tidak ada cahaya.
Hanya kosong.
ZENA
(pelan)
Mah, Pah... kenapa gelap?
Beat.
Dia berkedip lagi.
Tetap gelap.
ZENA (CONT’D)
(suara mulai naik)
Mah... Pah... Mataku kenapa? Aku... nggak bisa lihat apa-apa!
Sunyi.
Tidak ada jawaban cepat.
Itu yang membuatnya mulai takut.
Puspa hanya bisa menitikan air mata tanpa suara.
Hartawan merasa hancur.
ZENA (CONT’D)
(panik kecil)
Mah... Pah... ?
Tangannya mencari.
ZENA (CONT’D)
Kalian di mana?
Puspa meraih tangan Zena.
PUSPA
Mamah di sini, sayang!
HARTAWAN
Papah juga di samping kamu, sayang!
Zena menggenggam tangan Puspa. Erat. Tatapan matanya kosong.
ZENA
Mata Zena kenapa, Mah? Kenapa semuanya gelap!
Hening kembali.
Air mata Puspa jatuh deras.
ZENA (CONT’D)
Mah... jawab Zena. Mata Zena kenapa, Mah?
Puspa menarik napas. Sempat ragu.
Lalu—
PUSPA
Kata dokter, Ini hanya sementara, sayang!
Hartawan menutup mulut. Menahan tangisnya.
ZENA
Aku nggak mau buta, Mah. Aku... nggak mau...
Puspa memeluk Zena.
Mereka menangis.
Tangisan yang lirih. Bukan keras. Tapi runtuh.
89. INT. RUANG RAWAT – LANJUT
Zena gemetar.
Napas tidak stabil.
ZENA
(pelan, putus-putus)
Bintang...
Beat.
ZENA (CONT’D)
Dia di mana?
Hartawan dan Puspa saling pandang.
Kebenaran ini akan kembali menghancurkan Zena.
Tidak siap.
Tapi harus.
HARTAWAN
(pelan)
Dia... sudah pergi.
Tidak ada musik. Tidak ada efek. Hanya kata itu.
“Pergi.”
Zena membeku. Seperti waktu berhenti.
ZENA
...nggak
Air matanya jatuh lagi.
Lebih banyak.
HARTAWAN
Dia pergi, Zena. Dia nggak sanggup nerusin semuanya.
Itu bukan penjelasan.
Itu pukulan.
ZENA
(suara pecah)
Nggak... Nggak mungkin. Dia janji... Dan kita akan menikah. Papah bohong sama Zena.
Napasnya makin kacau.
Puspa kembali memeluknya. Tapi pelukan itu tidak bisa menutup semuanya.
Hartawan menatap ke bawah.
Tidak sanggup melihat anaknya hancur.
90. EXT. LUAR JENDELA RS – SORE
Sunyi.
Hujan tipis (atau angin pelan).
BINTANG berdiri.
Tidak masuk.
Tidak pergi.
Hanya di sana.
Melihat ke dalam.
Zena menangis.
Tapi dia tidak bisa masuk ke dunia itu lagi.
Tangannya mengepal.
Diam.
BINTANG (V.O.)
Aku di sini...
Beat.
BINTANG (V.O.) (CONT’D)
Maafkan aku, Zen. Ini satu-satunya cara.
Bintang menutup matanya.
Air mata jatuh tanpa suara.
BINTANG (V.O.) (CONT’D)
Kalau harus jadi orang jahat...
Beat panjang.
BINTANG (V.O.) (CONT’D)
...biar aku saja.
Dari balik kaca—samar terdengar tangis Zena.
BINTANG menunduk. Rahangnya menegang. Tapi ia tetap melangkah pergi.
FADE OUT.