Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BAB 4: PENILAIAN YANG SALAH
FADE IN:
31. EXT. JALAN SEPI – MALAM
Lampu jalan redup. Angin malam berembus pelan.
ZENA masih berdiri dengan gemetar.
PEMUDA BERMASKER itu terus mendekat.
Langkahnya tenang. Pasti.
Ia berhenti.
Perlahan melepas maskernya.
Terungkap—BINTANG (23).
Zena membeku.
ZENA
(hampir berbisik)
...Bintang?
Rasa takutnya perlahan mereda.
Bintang tidak menjawab.
Tatapannya tajam ke arah Dava.
BINTANG
Zena. Menjauh dari dia. Sekarang.
Nada suaranya tegas. Tidak bisa dibantah.
Dava terkekeh.
DAVA
Wah... Bintang. Jadi pahlawan sekarang?
Bintang tetap fokus ke Zena.
BINTANG
Aku serius. Dia nggak aman buat kamu.
Zena menatap Dava, bingung.
ZENA
Kalian... saling kenal?
DAVA
(cepat)
Teman SMA. Dan dia cuma drama. Jadi kamu jangan percaya dia, Zen. Aku nggak ada niat buruk sama kamu.
BINTANG
Kalau nggak ada niat buruk... kenapa bawa dia ke tempat kayak gini?
Dava menyeringai.
DAVA
Lo pikir gue takut?
Bintang melangkah satu langkah.
BINTANG
Gue tahu siapa lo. Gue lihat langsung di persidangan.
Hening.
Zena langsung menatap Bintang.
ZENA
Apa maksudnya...?
DAVA
Jangan percaya dia, Zen! Dia iri!
BINTANG
(memotong)
Lo pernah kena kasus. Kasus perempuan.
Dunia seakan berhenti.
Wajah Zena pucat.
ZENA
(gemetar)
...apa?
Dava mulai kehilangan kontrol.
DAVA
Dia bohong, Zen. Jangan dengerin omongan dia! Aku peduli sama kamu!
BINTANG
Gue memperhatikan lo dari sejak di kafe. Makanya diam-diam gue ikutin lo.
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Dan ternyata firasat gue bener.
Zena mundur.
Lalu—ia berlari ke arah Bintang.
Berlindung di belakangnya.
DAVA
Zena, tunggu—
BINTANG
(keras)
Jangan pernah berani sentuh dia!
Bintang berdiri melindungi.
Tatapannya semakin dingin ke arah Dava.
BINTANG (CONT’D)
Gue nggak peduli lo keluar dengan cara apa. Tapi jangan pernah dekati dia lagi.
Hening tegang.
Dava mengepalkan tangan.
Marah. Tapi kalah.
Ia mundur.
Masuk ke mobil.
Mobil melaju pergi.
Meninggalkan mereka dalam sunyi.
32. EXT. JALAN SEPI – MALAM
Zena terengah. Tubuhnya gemetar.
ZENA
Terima kasih...
Bintang menoleh. Tatapannya melunak.
BINTANG
Kamu nggak apa-apa?
Zena menggeleng.
ZENA
Aku... nggak apa-apa.
Beat.
Close up wajah Zena.
Sisa-sisa ketegangannya masih terasa.
ZENA (CONT'D)
Aku nggak nyangka. Dava... orang seperti itu.
BINTANG
Aku udah curiga dari awal. Tapi syukur, aku datang tepat waktu.
Beat.
ZENA
Aku selalu pikir kamu nyebelin... ternyata aku salah tentang kamu.
Zena menatap Bintang. Tatapannya kembali tenang.
Bintang tersenyum tipis.
BINTANG
Aku cuma nggak tahan lihat orang baik mau disakitin.
Bintang melepas jaketnya.
Menyampirkannya ke Zena.
BINTANG (CONT’D)
Pake ini, cuacanya dingin.
Zena terdiam.
BINTANG (CONT’D)
Lain kali, hati-hati. Apalagi kenal di media sosial. Dunia nggak sesederhana itu, Zen.
Zena mengangguk.
ZENA
...makasih.
33. EXT. PARKIR JALAN – MALAM
Motor Bintang.
Ia mengambil helm cadangan.
BINTANG
Ayo. Aku antar kamu.
Zena naik.
34. EXT. JALAN YOGYAKARTA – MALAM
Motor melaju.
Lampu kota berkelebat.
Zena berpegangan ragu ke Bintang.
Sesekali tubuh mereka bersentuhan.
INSERT – SPION
Mata Bintang melihat Zena.
BINTANG
Ngapain ngelihatin terus?
Zena kaget.
ZENA
Nggak... siapa yang ngelihatin.
Bintang tertawa kecil.
BINTANG
Dari tadi kelihatan.
Zena menunduk malu.
35. EXT. DEPAN RUMAH ZENA – MALAM
Motor berhenti.
Zena turun sambil melepas jaket punya Bintang.
Bintang melepas helmnya.
Menatap Zena.
BINTANG
Ceritain ke orang tua kamu, ya!
Zena mengangguk.
Memberikan jaket dan helm punya Bintang.
ZENA
Makasih, ya! Kalau nggak ada kamu...
BINTANG
(memotong)
Santai aja.
Beat.
Bintang kembali memakai jaketnya.
Menyampirkan helm cadangannya di stang motor.
BINTANG (CONT’D)
Anggap aja aku kebetulan lewat.
Zena tersenyum kecil.
BINTANG (CONT’D)
Kalau gitu, aku pamit pulang. Jangan lupa kasih tahu orang tua kamu soal kejadian malam ini.
Zena mengangguk.
Mesin motor menyala.
Bintang hendak pergi.
ZENA
Bintang!
Bintang menoleh.
BINTANG
Ya?
Zena ragu, lalu—
ZENA
Aku salah tentang kamu.
Beat.
ZENA (CONT’D)
Kamu... nggak seperti yang aku pikir.
Bintang tersenyum ringan.
BINTANG
Syukurlah.
Ia pergi.
Zena berdiri menatapnya sampai hilang.
36. INT. KAMAR ZENA – MALAM
Zena berbaring.
Matanya terbuka.
Bayangan Dava—Sekilas muncul.
Zena gelisah.
Lalu—Bayangan Bintang berdiri melindunginya.
Zena memeluk bantal.
Sedikit lebih tenang.
37. INT. KELAS – SIANG
Vina menepuk bahu Zena.
VINA
Zen, kok bengong?
ZENA
Nggak...
Zena diam-diam melirik—
Bintang duduk di sudut, membaca buku.
38. EXT. TAMAN KAMPUS – SORE
Zena menulis catatan.
Bintang datang. Duduk di sebelahnya.
Menyodorkan botol minum.
BINTANG
Minum dulu. Nanti dehidrasi.
ZENA
Kamu bawa dua?
BINTANG
Aku sekalian beliin.
Zena menerima.
Degup jantungnya berubah.
MONTAGE – KEBERSAMAAN
— Jalan bareng di kampus
— Belajar bersama
— Duduk diam tapi nyaman
— Tertawa kecil
39. EXT. KORIDOR KAMPUS – SIANG
Mereka berjalan berdampingan.
ZENA
Kenapa kamu baik banget sama aku? Padahal aku udah salah menilai kamu.
Bintang tersenyum tipis.
BINTANG
Karena aku tahu kamu orang baik.
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Dan orang baik... pantas diperlakukan baik.
Zena terdiam.
40. INT. KAMAR ZENA – MALAM
Zena menutup mata perlahan.
Senyum kecil masih tertinggal di wajahnya.
FADE OUT.
---