Username/Email
Kata Sandi
Alamat Email
Kata Sandi
Jenis Kelamin
BAB 5 – TAK MAU MENJILAT LUDAH SENDIRI
FADE IN:
41. INT. RUMAH BINTANG – MALAM
Rumah besar. Sunyi.
Lampu redup.
BINTANG duduk sendiri di ruang tamu.
Di depannya—foto keluarga.
Ayah, ibu, tante Mila, dan dirinya kecil.
Hening.
Ia menatap lama.
FLASH CUT:
42. EXT. JALAN TOL – MALAM (MASA LALU)
Lampu kendaraan melintas.
Suara REM. TABRAKAN.
GELAP.
KEMBALI KE:
43. INT. RUMAH BINTANG – MALAM
Bintang memejamkan mata.
Menarik napas panjang.
Dari dapur—MBO IJAH (50) muncul.
MBO IJAH
Belum tidur, Den?
BINTANG
Nanti, Mbo.
Mbo Ijah menatap Bintang beberapa saat.
Ia tahu, selama ini kesepian menjerat hidup Bintang.
MBO IJAH
Oh, ya! Mbo hampir lupa ngasih tahu den Bintang.
Bintang menatap Mbo Ijah. Menunggu hal apa yang hendak disampaikan.
MBO IJAH (CONT’D)
Siang tadi tante Mila telepon. Katanya, kalau den Bintang mau balik tinggal di Bandung, tante Mila sama suaminya bakal jemput ke sini.
Bintang mengalihkan pandangan—menatap foto keluarga di dinding.
Beat.
BINTANG
Aku mau tetap di sini. Ngejagain rumah bareng si Mbo.
Mbo Ijah hanya mengangguk.
Tatapannya prihatin.
Luka yang disembunyikan Bintang tak pernah benar-benar hilang.
44. EXT. RUMAH BINTANG – PAGI
Motor Bintang terparkir.
Suasana rumah yang sepi.
45. INT. KAMAR ZENA – MALAM
ZENA duduk di kasur.
ZENA menatap layar ponselnya yang sepi.
Tidak ada chat.
Ia menghela napas.
ZENA
(pelan)
Aku kenapa sih...
Ia merebahkan diri.
Menutup mata—
FLASH CUT:
— Bintang menyampirkan jaket
— Bintang melindunginya
— Tatapan Bintang
KEMBALI—
Zena membuka mata cepat.
Jantungnya berdebar.
ZENA (CONT’D)
Ini cuma... efek malam itu.
Ia menatap langit-langit.
Tidak yakin.
46. INT. KAMPUS – SIANG
Zena berjalan di koridor.
Bintang lewat di arah berlawanan.
Tatapan mereka bertemu sesaat.
Zena langsung salah tingkah.
Bintang tetap tenang.
Lewat begitu saja.
Zena menoleh diam-diam.
47. EXT. TAMAN KAMPUS – SORE
Zena duduk sendiri.
Memegang pulpen.
Tidak menulis.
Bintang datang.
Duduk di sampingnya.
Menyodorkan botol minum.
BINTANG
Minum.
Zena menerimanya.
ZENA
Makasih...
Canggung.
Sunyi.
MONTAGE – KEBERSAMAAN MEREKA
— Jalan berdua
— Belajar bersama
— Duduk diam, sesekali tertawa
— Bintang memainkan gitar, Zena mendengarkan
48. INT. KAFE – MALAM
Suasana hangat.
Zena dan Bintang duduk berhadapan.
Namun kali ini—
Zena gelisah.
BINTANG
Zen... kamu kenapa?
ZENA
Nggak apa-apa.
BINTANG
Jangan bohong.
Beat.
Zena menunduk.
Menarik napas.
ZENA
Bin... Aku rasa... sebaiknya kita jangan ketemu lagi.
Bintang terdiam.
BINTANG
Kenapa?
ZENA
Aku nggak mau ada salah paham.
Bintang tertawa kecil. Getir.
BINTANG
Salah paham?
Beat.
BINTANG (CONT’D)
Kita berdua teman kan, Zen. Kalau memang kamu ada masalah, bilang.
Zena bingung menjelaskan alasannya.
Ia menatap Bintang penuh arti.
ZENA (V.O.)
Aku cuma takut... jadi orang yang menjilat ludah sendiri.
Zena menarik napas. Berusaha menahan air mata.
ZENA
Aku rasa... kita cukup sampai sini saja.
Hening.
Suara musik kafe seperti menjauh.
BINTANG
(pelan, terluka)
Kamu sadar nggak apa yang kamu bilang?
Zena menunduk.
Air matanya hampir tumpah.
Tapi tetap diam tak menjawab.
Beat.
Bintang mengeluarkan ponselnya.
Menunjukkan kontak: ZENA.
Ia menatap Zena.
Tatapan penuh kecewa.
Lalu—
DELETE.
BINTANG
Ini yang kamu mau, kan?
Zena membeku.
BINTANG (CONT’D)
Mulai sekarang... aku nggak akan ganggu kamu.
Bintang berdiri.
Menatap Zena terakhir kali.
Zena masih saja diam.
Tapi... matanya kini berkaca-kaca.
BINTANG (CONT’D)
Jaga diri kamu baik-baik, Zen.
Bintang pergi.
Zena menatap punggung Bintang.
Air matanya benar-benar jatuh.
49. EXT. KAFE – MALAM
Bintang keluar. Wajahnya dingin. Namun matanya menahan sesuatu.
Ia berhenti sejenak.
Menarik napas dalam.
Lalu pergi.
50. INT. KAMAR ZENA – MALAM
Zena duduk di lantai.
Memeluk lutut.
Menangis.
51. INT. KAMPUS – SIANG
Zena berjalan.
Bintang lewat.
Tanpa melihat.
Tanpa berhenti.
Seolah Zena tidak ada.
Zena menoleh.
Terluka.
52. EXT. TAMAN KAMPUS – SIANG
Zena duduk bersama MAYA, VINA, ANYA.
Mereka menatap Zena khawatir.
MAYA
Kamu kenapa, Zen?
Kamu sakit?
Beat.
ZENA
Nggak apa-apa kok!
Zena menoleh sesaat ke arah taman di samping. Menatap mahasiswa lain yang asyik bercanda ria dengan teman-temannya.
VINA menimpali
VINA
Gak papa apanya! Dari tadi tuh kamu melamun terus, Zena!
ANYA menyaut.
ANYA
Bener. Kayak patah hati tahu nggak! Ngelamun. Tatapannya kosong.
Zena mencoba tersenyum.
Gagal.
Akhirnya—
ZENA
Aku mau jujur sama kalian.
Hening sesaat.
VINA
Soal apa?
Zena menatap VINA/ANYA/MAYA sekilas.
Ragu.
ZENA
Selama ini, aku... sering jalan sama Bintang.
Mereka langsung kaget.
MAYA
Hah?!
VINA
Sejak kapan?
ANYA
Serius? Kalian deket?
FLASH CUT
MONTAGE
-Pertemuan di kafe dengan Dava.
-Kejadian di jalan sepi
-Bintang datang menyelamatkan
MONTAGE BERAKHIR
VINA
Ya ampun, Zen. Kenapa baru cerita sekarang?
MAYA/ANYA menggeser duduknya, merangkul Zena.
ANYA
Tapi kamu nggak di apa-apain kan sama si Dava?
Zena menggeleng.
MAYA
Gila... kalau Bintang nggak datang waktu itu...
Diam beberapa saat.
VINA
Jadi, alasan kamu jauhin Bintang tuh karena apa? Bukannya dia udah selamatin kamu, Zen.
ZENA
Aku... malu sama ucapanku yang dulu.
Diam sesaat.
ZENA (CONT’D)
Aku... suka sama Bintang. Dan aku takut... kalian bakal ngejekin aku.
Hening.
Lalu—
Maya menggenggam tangan Zena.
Lembut.
MAYA
Itu wajar, Zen. Dan kamu nggak perlu malu mengakui, kalau sekarang, kamu jadi suka sama Bintang.
ANYA
Jangan lari dari perasaan kamu, Zen. Kamu harus hadapi.
VINA
Dan kalau kamu sayang... kamu harus jujur.
Zena menatap mereka.
Rasa hangat mulai menjalar di dada.
53. INT. KAMAR ZENA – MALAM
Zena berbaring.
Menatap kosong.
ZENA (V.O.)
(sangat pelan)
Aku jatuh cinta...
Beat.
ZENA (V.O.)
...dan aku yang menghancurkannya.
Mata Zena berkaca.
FADE OUT.
---