Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
LINGKARAN SETAN
Suka
Favorit
Bagikan
7. PART 7

56. INT. KAMAR HOTEL — DAY


Ranti dan Beni duduk di atas ranjang dengan tubuh setengah telanjang. Mereka baru selesai bercinta. Keduanya menghisap rokok bergantian. Pandangan mereka kosong ke depan. Beni menoleh ke Ranti yang tampak murung.


BENI

Kenapa kamu?


RANTI

Nggak apa-apa. 


BENI

Nggak apa-apa kok murung?


Ranti tarik nafas sebentar. Terlihat wajahnya diliputi gundah.


RANTI

Kamu gimana dengan pacar kamu itu?


Ganti Beni yang tarik nafas dalam. Seperti ada beban dirasakan.


BENI

Nggak tahu.


RANTI

Kamu mencintainya?


BENI

Entahlah.


RANTI

Jangan suka mempermainkan perasaan perempuan. Sekali kamu menyakiti hatinya nggak akan pernah dia lupakan seumur hidupnya. 


Beni tercenung kelu.


BENI

Kamu sendiri? 


RANTI

Perempuan macam aku nggak kenal cinta. Karena cinta butuh kesetiaan. Aku perempuan kotor yang tidak pantas dicintai. Aku juga nggak percaya cinta.


BENI

Kenapa?


RANTI

Orang tuaku menikah karena cinta. Tapi setelah hidup bersama mereka justru sering berantem. Bapakku pemabok dan tukang judi. Ibuku akhirnya lari sama pria lain. Ninggalin aku sama adikku. Bapakku lalu jual aku sama pria hidung belang. Aku dan adikku kabur dari rumah... 


Ranti berhenti sejenak. Menghirup rokoknya.


RANTI (CONT'D)

Jadi apa itu cinta? Kalau benar cinta itu ada, orang tuaku nggak akan pisah. Ibuku nggak akan ninggalin aku. Bapakku nggak akan jual diriku... cinta itu cuma omong kosong di cerita fiksi.


BENI

Bagaimana kalau ada orang cinta kamu... tulus... Nggak pandang siapa kamu...


Ranti tertawa sengau cenderung geli. Sampai air matanya menetes. Ranti mengusapnya.


RANTI

Kamu itu lucu... emang ada orang cinta sama perempuan kayak aku? Kamu...? (beat) Sudahlah. Jangan bikin aku dibuai harapan. Aku sudah cukup hidup begini... sendiri... 


Beni memandang Ranti iba. Ranti tak menyadarinya.


Ranti lalu bangkit dari tempatnya dan berpakaian.


BENI

Ranti...


RANTI

Ya.


BENI

(agak ragu)

Aku mau nikah sama Fatia. 


Ranti sejenak tertegun. Suasana berubah canggung dan kaku. Ranti berusaha tersenyum.


RANTI

Oke, selamat kalau gitu.


BENI

Tapi, Ran...?


RANTI

Aku tahu. Mulai sekarang kita nggak usah berhubungan lagi. Semoga kamu bahagia dengan kehidupan barumu. Bye...


Ranti lalu berbalik dan pergi. Diam-diam Ranti menahan perasaannya. Matanya berkaca-kaca. 


DISSOLVE TO:

57. EXT. ESTABLISHED — NIGHT


Pemandangan kota Jakarta di malam hari dengan gedung gedung tinggi berhias lampu warna warna. (Drone shot/high angle)


CUT TO:

58. INT. RUMAH RESTU — NIGHT


Fatia baru pulang hendak menuju kamarnya di lantai atas. Restu yang duduk di ruang tengah memanggilnya.


RESTU

Fatia. 


Fatia berhenti melangkah dan berbalik. Wajahnya tampak masam karena masih menyimpan marah pada ayahnya. Restu bangkit dan menghampirinya. 


RESTU

Papa minta maaf. Papa nggak maksud kasar sama kamu. Papa sayang kamu...


Fatia masih diam.


RESTU

Rasanya baru kemarin Papa lihat kamu masih bermain ayunan dan lari ngejar kupu-kupu di halaman belakang... merengek minta dibeliin es krim... (beat/hela nafas panjang) ternyata sekarang kamu sudah dewasa. Bukan masanya lagi papa khawatirin kamu...


Fatia masih diam tapi dengan ekspresi sendu.


RESTU

Papa hanya punya anak dua, kamu dan Roni. Kalau selama ini papa bersikap over protektif sama kalian, itu karena papa nggak ingin kalian salah jalan. Papa ingin kalian jalanin kehidupan yang baik. Papa nggak mau kalian ngerasain susah dan beratnya hidup seperti papa dulu. Keluarga papa bukan orang berada. Papa nggak mau kalian mengalami semua itu.


FATIA

Fatia tahu, Pa. Tapi papa nggak bisa nyamain kehidupan papa dulu dengan kehidupan kami sekarang. Kami punya jalan hidup sendiri.


RESTU

Ya, Papa ngerti. Papa janji nggak akan maksain apa-apa lagi sama kamu. Papa akan restuin apa pun pilihan kamu selama itu baik buat kamu.


Fatia pun tersenyum. Dia lalu memeluk Restu senang.


FATIA

Makasih, Pa.


Restu mengangguk. Rosa yang berdiri di sana ikut tersenyum senang.


CUT TO:

59. INT. RUMAH KONTRAKAN RANTI — NIGHT


Ranti pulang dan mendapati Ardan sudah ada di rumah. Ardan tampak ceria. 


RANTI

Tumben kamu sudah ada di rumah.


ARDAN

Kakak sendiri jam segini sudah pulang.


RANTI

Nggak tahu kenapa malam ini aku mau di rumah aja. 


Ranti meletakkan tasnya dan duduk di sofa. Ardan ikut duduk di sebelah Ranti.


ARDAN

Kak, aku mau kakak malam ini istirahat di rumah. Kakak udah terlalu banyak kerja keras. Kalau bisa seterusnya kakak nggak usah kerja. 


RANTI

Kalau aku nggak kerja, dari mana buat makan, buat bayar kontrakan, bayar utang... aya aya wae kamu...


ARDAN

Aku yang cukupin, Kak.


RANTI

(heran)

Kamu?


ARDAN

Iya.


Ranti menatap adiknya seksama.


RANTI

Duit dari mana? Kerjaanmu aja nggak jelas. (beat/curiga) Jangan bilang kalau kamu mau ngerampok. Nyuri atau... sudahlah, Dan. Nggak usah macam-macam. Aku nggak mau kamu terlibat yang nggak bener. Kamu jadi pengedar aja kakak nggak setuju. Aku mau kamu berhenti ikut gengnya bang Johni. Biar kata dia pernah nolong kita, tapi apa yang nggak bener dari dia jangan diikutin.


Ardan tertunduk sedih. 


ARDAN

(lirih)

Tuhan beneran ada nggak sih, Kak?


RANTI

Kamu kok ngomongnya gitu.


ARDAN

Kalau Tuhan ada kenapa hidup kita dibikin kayak gini... 


RANTI

Udah, Dan. Kamu nggak usah mikir gitu. Kita jalanin aja. Kakak akan berusaha agar nasib kita berubah. Kamu percaya sama kakak...


Ardan tak bicara lagi. Ranti merangkul adiknya. Matanya berkaca-kaca. 


FADE OUT:

60. EXT. JALANAN — NEXT NIGHT


Kita lihat Ardan berjalan sendirian di trotoar. Ardan memakai jaket tebal. Tanpa dia sadari dua anak buah Johni mengikuti dari jarak jauh.


DISSOLVE TO FLASHBACK:

61. INT. MARKAS JOHNI — NIGHT


Sebelumnya di markas Johni...


Johni berdiri di hadapan Ardan yang sedang dipersiapkan mengantarkan paket sabu sebanyak satu kilogram. Dua anak buah Johni membantu memasangkan paket shabu dalam bungkus plastik dililitkan pada badan Ardan. Setelah itu Ardan dipakaikan jaket. 


JOHNI

Gue percayain lo. Kalo ada tanda-tanda nggak beres sama mereka, lo cepet kabur.


ARDAN

Siap, Bos.


JOHNI

Ingat, kalau sampai lo ketangkap jangan pernah sebut nama gue. Lo tahu konsekuensinya kan.


Ardan mengangguk sambil meneguk ludah. Johni menepuk pundak Ardan. 


ARDAN

Saya berangkat, Bos.


Johni mengangguk. Ardan lalu pergi. Setelah Ardan pergi, Johni menoleh ke dua anak buahnya sambil memberi isyarat dengan gerakan kepala untuk menyusul Ardan. Keduanya mengangguk lalu pergi. 


CUT TO:

62. EXT. JALAN SEPI — NIGHT


Roni ditemani Gery dan Iyan menunggu dengan gelisah di dekat mobil. Roni melihat ke ujung jalan. Tapi Ardan yang ditunggu belum juga muncul.


CUT TO:

63. EXT. JALANAN — NIGHT


Ardan masih terus berjalan menuju ke tempat pertemuan dengan Roni Cs. Ardan melewati jalanan yang ramai.


CUT TO:

64. INT. KLAB MALAM — NIGHT


Suasana klab malam yang ramai oleh pengunjung. Suara musik yang menghentak hentak. Orang-orang menari mengikuti irama musik dinamis. Terlihat Ranti menghampiri meja bar menemui seorang laki-laki setengah baya. Mereka bersalaman dan ngobrol. (mute)


CUT TO:

65. INT. RESTORAN MEWAH — NIGHT


Restu, Rosa, Fatia dan Beni duduk di salah satu meja sedang makan malam. Suasana tampak akrab dan ceria. Restu tampaknya sudah merestui hubungan Fatia dengan Beni. Tampak wajah Fatia berseri-seri. Tangannya memegang tangan Beni yang duduk di sampingnya. Sementara Beni berusaha tersenyum senang meskipun matanya sesekali melirik ke Restu dengan sorot penasaran. Restu tidak sadar diperhatikan Beni. Wajahnya memperlihatkan rasa senang yang tulus. Mereka bercakap cakap. (Suara disamarkan/mute).


CUT TO:

66. EXT. JALANAN SISI LAIN — NIGHT


Ardan masih terus berjalan. Kali ini melewati jalan sepi. Tanpa dia sadari ada seseorang mengawasi dari kegelapan. POV SESEORANG: Ardan berjalan di sisi lain dan tiba-tiba berhenti.


Ardan merasa ada seseorang mengikutinya. Ardan menengok ke sekitar. Tidak ada siapa-siapa. Ardan meneruskan jalan. Tiba-tiba ada seseorang memukulnya dari belakang dengan sepotong kayu. Ardan tersungkur. Ardan sempat menggeliat membalikkan badan. Tapi pandangan matanya kabur.


POV ARDAN: Seorang pria tidak jelas sosoknya berdiri di hadapannya sebelum kemudian berubah gelap.


DISSOLVE TO:





Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)