Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
LINGKARAN SETAN
Suka
Favorit
Bagikan
6. PART 6

45. EXT. RUMAH KONTRAKAN RANTI — DAY

ESTABLISHED: Pemandangan langit pagi di atas kota Jakarta.


Ranti sudah rapi sambil bawa tas cangklong keluar dari kontrakan. Siap pergi. Tapi langkahnya tertahan karena di hadapannya berdiri sosok laki-laki berumur dan rambut sudah ubanan. Jarot berdiri di sana menatap Ranti dengan sorot mata sayu.


JAROT

(lirih)

Ranti.


Ranti mengatupkan geraham geram. Matanya menatap penuh rasa kebencian pada ayahnya.


RANTI

Mau apa bapak ke sini?


JAROT

Bapak ke sini mau minta maaf sama kamu, sama Ardan. Bapak sadar sudah banyak salah sama kalian.


RANTI

Pergi! Kami tidak butuh bapak! 


JAROT

Bapak sudah tobat. Bapak menyesal. Bapak janji akan perbaiki kesalahan bapak dan nggak akan mengulanginya. Bapak ingin kalian kembali... 


RANTI

Tidak! Hidup kami sudah tenang. Kami nggak mau kembali. Sebaiknya bapak pergi dan jangan ganggu kami.


JAROT

Ranti...?


RANTI

PERGI! PERGIIII...!!!


Jarot tertunduk sedih. Hela napas berat. Lalu melangkah pergi dengan lesu.


Ranti masih berdiri terpaku di tempatnya. Berusaha menahan air matanya jatuh.


CUT TO:

46. INT. RUMAH RESTU — DAY


Fatia sudah rapi keluar dari kamarnya hendak pergi. Tapi Restu yang juga sudah rapi dengan kemeja kantor menahannya.


RESTU

Mau ke mana kamu?


FATIA

Ada jadwal syuting, Pa.


RESTU

Papa minta kamu jangan berhubungan lagi dengan polisi itu. Dia nggak cocok buat kamu.


FATIA

Fatia cinta Beni, Pa. Lagian apa kekurangan Beni sampai Papa nggak menyukainya? Dia polisi yang baik. Karirnya juga bagus.


RESTU

Kamu jangan dibutakan oleh cinta. Kamu belum tahu dia yang sebenarnya. 


FATIA

Memang dia seperti apa, Pa? 


Perdebatan antara Fatia dan Restu memancing Rosa mendekat.


ROSA

Ada apa ini pagi-pagi sudah ribut?


RESTU

Aku peringatkan Fatia agar jangan berhubungan lagi dengan polisi itu.


ROSA

Memang apa alasannya, Pa? Mama lihat anaknya baik kok.


RESTU

Kamu nggak tahu aja, macam apa anak itu? Aku ini kenal betul model polisi muda seperti dia. 


FATIA

Memang dia model polisi yang gimana, Pa? Apa karena dia dari kampung? Keluarganya miskin? Papa nggak fair. Papa sendiri seleranya juga orang kampung. 


RESTU

Kurang ajar!


Restu marah dan mau menampar Fatia, tapi Rosa menahannya.


ROSA

Pa! 


Restu menurunkan tangannya sambil narik nafas dalam. 


FATIA

Papa mau mukul Fatia? Pukul aja, Pa... 

(teriak histeris)

Pukuuullll...!


ROSA

Udah, Fatia. Udah...


Fatia menatap Restu dan Rosa bergantian dengan ekspresi benci.


FATIA

Fatia akan tetap pada pilihan Fatia. Kalau papa nggak setuju, Fatia akan keluar dari rumah ini!


Fatia lalu bergegas pergi. Restu dan Rosa hanya terdiam tak berusaha mencegah.


CUT TO:

47. EXT. JALAN GANG — DAY

Ardan berjalan menyusuri jalan gang kampung yang padat perumahan. Suasana gang ramai lalu lalang orang dan pedagang makanan. Kaum ibu asyik ngobrol dan anak-anak kecil bermain di tengah gang. 


CUT TO:

48. EXT. JALAN RAYA — DAY


Ranti menyeberang jalan raya menuju shelter bus. Setiba di tujuan Ranti berdiri di shelter bersama beberapa orang yang menunggu bus.


Mobil Restu lewat dan Ranti melihatnya. Saat itu Restu bersama Rosa duduk di jok belakang. Tapi Ranti tidak melihat jelas Rosa, hanya sekilas rambutnya karena Rosa pas menengok ke arah lain. Restu tidak melihat Ranti. 


Bus akhirnya datang dan Ranti naik ke dalam bus. 


CUT TO:

49. EXT/INT. JALAN RAYA. MOBIL RESTU — DAY


Di dalam mobil, jok belakang, Restu dan Rosa duduk berdampingan. Wajah Restu tampak masam.


RESTU

Mama, kenapa masih ngasih Roni uang. Tahu kalau dia nggak bisa dipercaya. Mana mobil mama dibawa lagi. Papa nggak yakin dia ke kampus. 


ROSA

Papa kenapa sih akhir-akhir ini bawaannya marah terus. Roni, Fatia, semua yang mereka lakuin nggak ada benernya di mata Papa. 


RESTU

Aku cuma nggak mau mereka menempuh jalan yang salah. Mama tahu sendiri gimana kelakuan Roni selama ini. Kecanduan narkoba, kuliah nggak beres. Terus Fatia hampir celaka gara-gara ditipu pacarnya. Aku nggak mau kecolongan lagi. 


ROSA

Setiap anak pernah berbuat khilaf dan salah. Tapi bukan berarti kita harus bersikap keras dan menekan mereka. Kasih mereka kepercayaan. Mereka sedang dalam proses pendewasaan. Kayak papa nggak pernah muda aja...


Restu hela napas berat. 


ROSA

Dan soal Fatia... aku tahu dia bukan anak kandungku dan aku sadar nggak akan pernah bisa menggantikan posisi mama kandungnya. Tapi paling nggak aku ingin dia mau mendengar dan bisa menerima aku. Jadi aku berharap papa jangan melarang dia menentukan pilihan hidupnya. Karena dengan sikap papa yang keras justru bikin dia makin benci sama aku. Papa ngerti kan?


Suara Rosa bergetar dan matanya berkaca-kaca. Restu merasa bersalah dan akhirnya mengangguk.


CUT TO:

50. EXT. JALANAN — DAY


Ardan baru saja menjual paket shabu ke dua orang prmuda di sudut jalan. Selesai bertransaksi, Ardan bergegas pergi. Saat menyeberang jalan, tiba-tiba sebuah mobil hampir menabraknya. Ardan masih berdiri di depan mobil itu dengan wajah pucat dan badan gemetar. Kepalanya bergerak-gerak.


Di dalam mobil terlihat Roni dan dua temannya. Roni yang pegang kemudi tertawa melihat ekspresi Ardan yang ketakutan.


RONI

Idiot, masuk!


Ardan tampak ragu-ragu. Roni menongolkan kepalanya di jendela mobil.


RONI

Ayo, masuk! Apa gue tabrak sekalian. Biar lo mati. Dasar, dongo, oon! 


Ardan akhirnya menurut. Masuk ke mobil di jok belakang. Roni langsung tancap gas. Mobil milik ibunya melaju kencang.


CUT TO:

51. EXT/INT. JALANAN. MOBIL RESTU — DAY


Kembali ke Rosa dan Restu di dalam mobil. 


ROSA

Soal Roni, papa harus percaya dia bakal jadi baik. Anak adalah cerminan orang tua. Selama kita bersikap dan berlaku baik, niscaya anak-anak akan berlaku sama.


Restu tampak jengah.


RESTU

Mama mau langsung dianterin ke tempat Ela atau mau ke mana dulu?


ROSA

Mama drop aja di toko bakery teh Rina, Pa. Mau beli parcel dulu.


RESTU

(ke sopir)

Mang Dul, mampir dulu di toko bakery di depan.


SOPIR

Baik, Pak.


CUT TO:

52. EXT. JALANAN. MOBIL RONI — DAY


Sementara itu mobil Ardan melaju di jalan sisi lain. Ardan dan kedua temannya mempengaruhi Ardan.


RONI

Hei, idiot. Lo udah berapa lama jadi pengedar? 


ARDAN

Udah lama. Emang kenapa?


RONI

Berarti lo dipercaya banget sama bos lo? 


Ardan tidak menjawab. Roni lalu mengedipkan mata ke Gery yang duduk di sampingnya.


GERY

Kita juga mau ikut jualin. Bisa kan? 


ARDAN

Gue mesti omong dulu sama bos.


RONI

Kita mau ambil satu kilo. Bisa kan?


ARDAN

Banyak banget.


RONI

Ya entar lo juga ikut dapat untung. Gue kasih lo 20 persen dari keuntungan. Gimana?


ARDAN

Tapi kalau segitu bos mana mau ngasih.


RONI

Pasti maulah. Emang lo nggak percaya ama gue. Bokap gue tajir. 


YANDI

Udah lo nggak usah ragu. Lo kan jadi pemasok kita. Lo udah lama kenal kita. Circle kita juga luas. Kita jamin dalam tempo seminggu tuh barang laku.


Ardan diam tercenung. Roni dan kedua temannya saling senyum.


CUT TO:

53. EXT. HOTEL — DAY


Ranti berjalan memasuki halaman hotel bintang lima. Ranti langsung masuk ke dalam bangunan hotel.


CUT TO:

54. INT. MARKAS JOHNI — DAY


Johni duduk di balik meja. Di dekatnya dua anak buahnya berdiri. Ardan masuk menemui Johni.


JOHNI

Ada apa, Dan?


ARDAN

Ada yang mau ikutan jual paket sebanyak satu kilo, Bos.


JOHNI

Jangan percaya. Dia pasti intel. Lo jangan bodoh.


ARDAN

Dia pelanggan kita udah lama. Anak orang kaya.


JOHNI

Siapa namanya?


ARDAN

Roni. Dia mau bicara langsung sama bos. 


JOHNI

Ya udah. Lo telpon dia.


Ardan lalu ambil hape dan menelepon Roni. 


ARDAN

Halo, Ron. Ini Bos gue mau omong.


Ardan lalu serahkan hapenya ke Johni. 


Selanjutnya adegan percakapan lewat telepon bergantian. (CUT TO CUT)


PARALEL/INTERCUT TO:

55. EXT. PARKIRAN KAMPUS — DAY


Mobil Roni parkir di areal kampus. Gery dan Iyan berdiri bersandar pada badan mobil. Sementara Roni sedang berteleponan dengan Johni.


RONI

Halo, Bos. Kenalin gue Roni. Gue pelanggan lama. 


JOHNI

Roni siapa? Gue nggak kenal lo. Jangan coba nipu gue. 


RONI

Gue nggak nipu. Percaya sama gue. Dalam waktu nggak sampai seminggu barangnya bakal sold out. Gue punya circle luas. Percaya sama gue.


JOHNI

Lo tahu berapa nilai paket sebanyak itu? Satu milyar! Gue nggak mau rugi. Gue butuh jaminan.


RONI

Tenang, Bos. Gue bisa kasih jaminan.


Selanjutnya percakapan tidak diperdengarkan. (Mute)


Roni selesai berteleponan. Wajahnya tampak sumringah. 


RONI

Beres!


Roni lalu bertos dengan kedua temannya. 


CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)