39. INT. KAFE — NIGHT
Di salah satu meja Beni dan Fatia sedang dinner. Suasana romantis dengan lilin di atas meja.
FATIA
Kita udah lama pacaran. Kapan kamu mau lamar aku?
BENI
Gimana mau ngelamar kalau papa kamu nggak suka sama aku.
FATIA
Nggak usah peduliin papaku. Kan yang mau nikah kita.
BENI
Tapi kita butuh restunya.
FATIA
Kalau nggak direstui ya udah... kita jalan aja.
BENI
Nggak bisa gitu, Fatia...
Fatia mulai kesal.
FATIA
Terus gimana? Kamu menyerah? Kamu nggak cinta aku? Kamu mau ninggalin aku?
BENI
Bukan begitu. Aku...
FATIA
(motong kesal)
Kamu kok nggak punya keberanian sih, Ben. Kamu kan polisi. Tunjukin nyali kamu... (beat/lirih) Jangan-jangan kamu nggak serius cinta aku.
Fatia pasang wajah cemberut.
Beni hela napas.
CUT TO:
40. EXT. RUMAH KONTRAKAN RANTI — NIGHT
ESTABLISH SHOT : Pemandangan kampung pinggiran kota. (Drone shot/high angle)
Ranti pulang ke kontrakannya. Saat dia akan buka pintu, Damar (35) muncul dengan gaya flamboyan menagih hutang.
DAMAR
Ranti...
Ranti menyambut dengan muram. Dia ambil uang dari tasnya dan serahin ke Damar.
RANTI
Nih.
DAMAR
Tahu aja gue ke sini mau nagih utang.
(menghitung uang sebentar)
Cuma sejuta. Kurang...
RANTI
Buat nyicil.
DAMAR
Utang lo masih 35 juta. Masak nyicil cuma sejeti.
RANTI
Perasaan gue udah nyicil beberapa kali, masak nggak berkurang sih.
DAMAR
Time is money, biar gak terus beranak lunasin dong.
RANTI
Gue belum ada uang.
Damar menatap Ranti sambil senyum-senyum nakal.
DAMAR
Ya udah. Gimana kalo gue minta bayar bunganya dengan ngesex... short time juga nggak apa.
Ranti hela napas. Dia lalu membuka resleting celana panjang yang dipakainya. Damar sempat bersemangat. Ranti merogoh celana dalamnya lalu menarik pembalut yang sudah ternoda darah dan menunjukkan ke muka Damar.
RANTI
Nih, mau?
Damar langsung mual dan mau muntah.
DAMAR
Brengsek lo!
Damar jijik dan lalu pergi. Ranti buka pintu dan masuk ke dalam rumah.
CUT TO:
41. INT. RUMAH KONTRAKAN RANTI — NIGHT
Ranti sudah berganti gaun sedang menyiapkan makan malam di atas meja. Ardan baru pulang masuk rumah dengan wajah lesu.
RANTI
Ardan, kamu udah makan? Ayo, makan. Kakak udah siapin nih. Ayam goreng kesukaan kamu.
Ardan malah duduk di sofa. Ranti mendekatinya dan duduk di sampingnya. Ranti mengelus kepala adiknya.
RANTI
Kamu kurusan. Kamu masih kelayapan di jalan?
Ardan tak menjawab.
RANTI
Kakak udah bilang berulangkali, jangan ikut ikutan jadi pengedar. Hidup di jalanan itu keras. Kakak nggak mau kamu kenapa-napa...
ARDAN
Aku ingin bantu kakak. Aku nggak bisa kerja yang lain.
RANTI
Biar kakak yang kerja buat nyukupin kebutuhan kamu.
ARDAN
Tapi kakak jadi banyak utang. Aku nggak mau bebani kakak. Aku bisa nyari uang sendiri...
Ranti hela napas berat. Wajahnya berubah muram.
RANTI
Kakak janji, kalau nanti punya uang banyak dan bisa lunasin hutang, kakak akan bawa kamu pergi jauh. Kita bisa hidup damai dan tenang.
ARDAN
(lirih)
Kenapa ibu dulu ninggalin kita, Kak? Apa salah kita.
RANTI
Sudah, kamu nggak usah mikirin ibu sama bapak lagi, mereka bukan orangtua yang bertanggung jawab.
Ardan lalu menumpangkan kepalanya di pangkuan kakaknya. Ranti mengelus kepala adiknya lembut. Matanya berkaca-kaca. Diiringi musik melankolik.
CUT TO:
42. EXT. RUMAH RESTU — NIGHT
Pintu depan dibuka. Rosa yang membuka pintu tersenyum menyambut dua orang yang datang. Mereka adalah Fatia dan Beni. Tapi sikap Fatia dingin pada Rosa. Sementara Rosa ramah pada Beni.
BENI
Malam, tante.
ROSA
Mari masuk, nak Beni.
FATIA
Ayo, Ben. Kita ketemu papa.
Fatia menarik tangan Beni masuk ke dalam tanpa mempedulikan Rosa. Mereka langsung menuju ke ruang dalam. Rosa menutup pintu.
CUT TO:
43. INT. RUMAH RESTU. RUANG MAKAN — NIGHT
Restu, Rosa, Beni, dan Fatia sedang makan malam. Restu dan Rosa duduk berdampingan berhadapan dengan Beni dan Fatia. Wajah Fatia tampak ceria sedang Beni tenang tapi waspada. Rosa kalem. Restu dingin. Matanya menatap Beni penuh curiga. Rosa mencoba mencairkan suasana.
ROSA
Omong-omong gimana ceritanya nak Beni bisa jadi polisi?
BENI
Cita-cita dari kecil, Tante. Yaa... seperti anak kecil pada umumnya, rasanya bangga bisa nangkep penjahat.
Beni melirik sekilas ke Restu sambil senyum penuh arti.
ROSA
Tante suka kalau ada orang yang berhasil meraih cita-citanya. Itu artinya dia sungguh memperjuangkan keinginannya.
RESTU
Keluarga kamu ada yang jadi polisi?
BENI
Nggak ada, Om. Orang tua saya tinggal di kampung. Mereka petani.
RESTU
Oh, orang miskin.
FATIA
Pa!
Fatia menatap Restu tajam tak suka.
RESTU
Kalau ya, akuin aja. Kita nggak bisa mengingkari latar belakang kehidupan kita. Menutupinya sama saja kebohongan.
BENI
Dibilang miskin nggak juga sih, Om. Nyatanya orang tua saya masih sanggup membiayai kuliah saya sampai saya bisa jadi polisi juga.
RESTU
Asal pakai jalur yang bener aja. Banyak sekarang orang mencapai sesuatu dengan jalan menyuap. Yaaah, nggak mudah buat orang bisa dapat jabatan tanpa KKN.
FATIA
Beni ini beda sama orang yang papa sebutkan itu. Beni orang yang lurus dan jujur. Dia bukan orang oportunis dan matre. Beni udah mapan, Pa. Dia bukan polisi miskin. Dia mau ngelamar Fatia bukan dengan tangan kosong. Dia udah ada rumah, mobil, dan semuanya...
(melirik ke Rosa)
Beda sama orang yang mau nikah nggak bawa apa-apa. Tujuannya cuma nebeng kaya.
Rosa yang disindir jadi tidak nyaman. Restu terlihat geram. Beni tersenyum tipis. Suasana sejenak jadi canggung.
ROSA
Makannya udah ya. Papa sama nak Beni lanjutin ngobrolnya di depan. Fatia, bantu mama beres beres.
Restu berdiri dari duduknya dan melangkah ke ruang tamu. Diikuti Beni. Sementara Rosa membawa piring kotor ke dapur. Fatia membantu beresin meja dengan agak malas.
CUT TO:
44. INT. RUMAH RESTU. RUANG TAMU — NIGHT
Restu duduk di ruang tamu berhadapan dengan Beni. Mereka ngobrol serius.
RESTU
Saya tahu maksud kamu deketin anakku. Tapi jangan harap kamu bisa nikahin dia. Fatia tidak pantas dapat suami polisi rendahan. Saya sudah siapkan calon suami yang pas buat dia. Jadi saya minta kamu jauhin Fatia...
Beni tersenyum kecil dan tetap tenang.
BENI
Fatia mencintai saya. Sangat mencintai saya... bagaimana perasaannya kalau tahu ayahnya berusaha memisahkannya dengan orang yang dicintai. Saya tidak bertanggung jawab kalau sampai...
Beni tak meneruskan kalimatnya karena keburu dipotong Restu.
RESTU
(dengan nada geram penuh tekanan)
Kamu jangan coba menggunakan kelemahan Fatia buat menekan saya. Dia akan patuh sama saya selama kamu tidak mempengaruhinya. Saya nggak segan menghancurkan karir kamu jika berani macam-macam sama keluarga saya.
BENI
(tenang)
Saya tidak akan macam-macam selama om juga tidak macam-macam sama saya. (beat) Saya punya kartu as yang bisa saya gunakan untuk menghancurkan karir om. Saya menyimpan data kasus Roni, anak om. Roni ada dalam radar polisi terkait narkoba. Kapan pun mudah buat saya jeblosin dia ke penjara. Jadi kita saling mengerti saja.
RESTU
(marah)
Bajingan!
Restu hendak beranjak memukul Beni, tapi tak jadi karena muncul Rosa dan Fatia
ROSA
Wah, ngobrolin apa nih kayaknya seru banget.
BENI
Obrolan ringan aja, Tante.
ROSA
Tante senang kalian sudah akrab.
Restu terdiam tapi sikapnya agak kurang nyaman. Fatia menatap ayahnya dan Beni bergantian dengan sorot tak percaya.
DISSOLVE TO: