Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
LINGKARAN SETAN
Suka
Favorit
Bagikan
4. PART 4


29. INT. KAFE — DAY

Ranti sendirian duduk di salah satu meja asyik main ponsel. Tiba-tiba panggilan masuk dari Restu. 


RANTI

Halo, om.

 


PARALEL CUT:

30. INT. KANTOR RESTU — DAY


Restu berdiri di dekat meja kerjanya menelepon Ranti.

 

RESTU

Sayang, kamu di mana?

 

Selanjutnya cut to cut antara Ranti dan Restu. 


RANTI

Biasa. Di kafe.

 

RESTU

Om kangen nih. Kamu available kan sekarang?

 

RANTI

Iya, om.

 

RESTU

Seperti biasa ya. Aku sudah reservasi. Kamu langsung ke sana aja.


RANTI

Oke.

 

Ranti mematikan ponselnya. 

INTERCUT TO:

31. INT. KAFE — DAY 

Dari pintu kafe masuk Fatia bersama Beni. Sambil berjalan tangan Fatia menggelayut manja di lengan Beni. Bersamaan Ranti hendak berjalan keluar. Ranti bertabrakan dengan Fatia. 

 

RANTI

Maaf.

Fatia melotot marah ke Ranti. 

FATIA 

Kalau jalan pake mata dong. Seenaknya nabrak orang. Lo pikir ini jalanan.

 

Ranti melirik ke Beni, tapi Beni membuang muka pura-pura tak kenal.

 

RANTI

Saya udah minta maaf. Lagian gak ada yang luka kan?

 

FATIA

Jadi kalau nggak luka lo anggap biasa aja. Songong lo. Dasar cewek pereks.

 

RANTI

(Tersinggung)

Apa lo bilang?

 

FATIA

Pereks! Lo kira gue nggak tahu model cewek macam lo. Berlagak nongkrong di kafe. Modus. Open BO.

 

Ranti gusar mau nampar mulut Fatia tapi ditahannya.  

Beni coba menenangkan Fatia dengan menarik tangan Fatia agar pergi. Tapi Fatia bertahan.

 

BENI

Udah, udah, Fatia. Jangan bikin keributan. Malu diliat orang.

 

FATIA

Biarin aja. Biar semua tahu siapa dia.

 

Beni memohon ke Ranti dengan isyarat matanya.

 

BENI

Lo baiknya pergi.

 

Ranti mendengus pendek. Dia lalu mendekat ke Fatia dan bicara setengah berbisik.

 

RANTI

Jangan sombong. Gue bisa rebut semua yang lo miliki!

 

Ranti lalu melenggang pergi. Fatia kesal dan mau membalas, tapi keburu ditarik Beni pergi.

 

BENI

Udah, Fatia. Nggak usah dilayanin. Kita jadi makan gak?

 

Fatia akhirnya mengikuti Beni. Tapi sesekali matanya menengok ke arah kepergian Ranti dengan ekspresi kesal.


CUT TO:

32. INT. KAMAR HOTE — DAY 


Sebuah kamar hotel kelas mewah. Restu dengan pakai piyama berdiri di depan jendela kaca memandang ke luar. Tangan kanannya memegang segelas wine. 

Masuk Ranti dengan pakaian casual sambil bawa tas ransel kecil. Restu berbalik. 

 

RESTU 

Lama amat?

 

RANTI 

Tadi di kafe ketemu cewek sombong dan songong. Mulutnya kayak comberan.

 

RESTU

Aku nggak mau denger omong kosong. Saat ini aku lagi stress. Aku cuma ingin bercinta.

 

Restu menarik tangan Ranti dan hendak menciumnya, tapi Ranti mengelak.

 

RANTI

Bentar sayang, aku taruh barangku dulu.

 

Restu melepaskan dan membaringkan tubuh di ranjang.

Ranti meletakkan tas di atas meja. Diam-diam dia meletakkan ponselnya dalam posisi tegak bersandar di tas. Ranti menyalakan video kamera. Ranti lalu berjalan perlahan menghampiri Restu.

 

INSERT LAYAR HP RANTI: Terlihat Ranti berdiri di depan Restu yang terbaring di ranjang. Ranti mulai melepas bajunya satu persatu hingga telanjang. Restu tersenyum melihat Ranti.

Selanjutnya adegan bercinta mereka disamarkan. (BLUR)


CUT TO

33. INT. KANTOR JOHNI — DAY 


Johni duduk di belakang meja kerjanya sedang merokok cerutu. Masuk karyawan pria membawa surat dan menyerahkan ke Johni.

 

KARYAWAN 

Pak, ini surat dari petugas pajak yang kemarin datang memeriksa laporan keuangan perusahaan. Mereka bilang kalau laporan pajak kita ada kejanggalan. Jika tidak segera diperbaiki akan dikenai sanksi. 

 

Johni menerima surat itu dan membacanya sejenak. Wajahnya berubah gusar. 

 

JOHNI

Brengsek! Mereka mau main-main sama saya. 

 

KARYAWAN 

Apa yang harus kita lakukan, Pak?

 

JOHNI

Biar saya yang tangani. Kamu kembali ke tempatmu.

 

Si Karyawan mengangguk lalu berjalan keluar.

Johni mengangkat ponselnya dan mendial sebuah nomer. (Selanjutnya percakapan telpon dua arah/cut to cut)


PARALEL CUT:

34. INT. KAMAR HOTEL — DAY 


Ponsel Restu yang tergeletak di atas meja samping ranjang berdering. Restu yang sedang asyik bercinta dengan Ranti mendesah kesal. Restu turun dan meraih ponselnya. Ranti duduk baring ambil rokok dan menyulutnya.

 

RESTU

Halo. Ada apa John?

 

JOHNI

(kesal)

Kenapa ini ada surat dari kantor pajak? Saya nggak mau bisnis saya diganggu. Saya sudah bayar banyak buat kamu.

 

RESTU

Tenang, John. Itu cuma prosedural aja. Ada anak baru di kantor. Biasalah mereka mau cari perhatian. Nanti semuanya aku yang atur. 

 

JOHNI

Pokoknya saya mau ini segera clear. Jangan sampai ke ekspos keluar.

 

RESTU

Siap. Nanti aku kabarin.

 

Restu menutup telpon sambil mendesah berat.

 

RANTI

Ada masalah apa?

 

RESTU

Biasalah. Ada pegawai baru yang nyari gara-gara. 

 

Restu ambil rokok dari tangan Ranti dan menghisapnya. 

 

RANTI

Siapa yang tadi nelpon?

 

RESTU

Johni. Pengusaha hotel dan restoran. Tapi itu cuma kedok dia buat nutupin bisnis haramnya. Narkoba... 

(menghembuskan asap rokok) 

Ada pegawaiku yang datang mengusik dia dengan surat pemeriksaan pajak. Anak baru ini kayaknya minta dimutasi ke pelosok biar gak macem-macem.

 

Ranti bangkit dari ranjang mengenakan baju.

 

RANTI

Om Restu sama aku kok mau terbuka gini. Nggak takut aku bocorin?

 

RESTU

Aku percaya kamu. Aku tahu siapa kamu. Lagian aku butuh teman buat curhat. Di rumah dan kantor aku sudah terlalu stres mikirin semuanya. Hanya sama kamu aku ngerasa nyaman.


RANTI

Emang om nggak nyaman sama istri om? 

 

RESTU

Dia nggak pernah tahu apa saja yang aku lakuin di luar dan dia juga nggak pernah mau tahu. Jadi biarin aja tetap seperti itu. Perempuan kalau ingin banyak tahu akan semakin merepotkan.

 

RANTI

Kayaknya dia perempuan yang baik dan polos banget. Jadi pengen kenal...

 

RESTU

Nggak usah. Kamu nggak perlu kenal dia, nggak perlu tahu seperti apa dirinya. Kamu juga nggak perlu tahu anggota keluargaku. Aku ingin kita tetap saling jaga rahasia. Jaga privacy. Kalau sampai hubungan kita terekspos keluar, maka aku tahu siapa tahu orangnya. Kamu ngerti kan?

 

Restu menekankan kalimatnya terakhir bernada ancaman. 

 

Ranti pura-pura mengangguk menyembunyikan keresahan.

 

RANTI

Ya udah, om. Aku keluar dulu.


RESTU

Okey. Sudah aku transfer.

 

RANTI

Thanks. Daaahhh...

 

Ranti beranjak keluar. Restu masih duduk di atas ranjang menghabiskan rokoknya.


CUT TO:

35. INT. RUMAH RESTU. KAMAR RONI — DAY 


Roni rebahan di kasur sedang main judi slot di ponselnya. Dia mengumpat kesal karena kalah lagi.

 

RONI

Brengsek! Boncos lagi.

 

Roni hendak deposit dana tapi mbanking miliknya saldo minim. INSERT LAYAR HP: Saldo rekening tinggal 50 ribu rupiah. Lalu cek kartu kredit terblokir. 

 

RONI

(mendesah kesal)

Damn.

 

Roni bangkit dan melangkah keluar kamar.


INTERCUT TO:

36. INT. RUMAH RESTU — DAY 


Roni keluar dari kamarnya sambil teriak memanggil ibunya.

 

RONI

Mama! Mamaaa...!

 

Rosa muncul dari kamarnya.

 

ROSA

Ada apa, sayang? Bisa nggak sih nggak teriak. Ini rumah bukan jalanan.

 

RONI

(bete kesal)

Kenapa kartu kredit aku diblokir, Ma? Di rekening juga gak ada saldo. 

 

ROSA

Mama nggak tahu, sayang. Coba mama tanya papa.

 

RONI

Aku lagi butuh banget ini. 

 

Rosa lalu angkat ponselnya menelpon Restu. Telpon satu arah.

 

ROSA

Halo, Pa. Ini kartu kredit Roni keblokir. Tolong bantuin. Di rekeningnya juga gak ada saldo. Papa belum transfer ya buat Roni. 

 

RESTU (O.S.)

Biarin aja, Ma. Papa sengaja blokir. Dia udah kelewatan. Masak satu bulan udah ada tagihan satu M. Yang bener aja. Udah, mama nggak usah urusin dia lagi.

 

ROSA

Tapi, Pa...

 

Telpon dimatikan Restu sepihak. Rosa hela napas. 

 

ROSA

Kamu butuh berapa, Ron?

 

RONI

50 juta.

 

ROSA

Banyak amat. Buat apa?

 

RONI

Mama nggak tahu aja kebutuhan anak muda sekarang. Kebutuhan kuliah aku juga banyak. Kalau mama nggak mau ngasih ya udah. Roni nyari aja keluar.

 

ROSA

Ya, ya, nanti mama transfer. Tapi kamu jangan buat macam-macam ya. Mama nggak mau kamu kejeblos lagi. Mama nggak mau kamu kenapa napa...

 

RONI

Tenang, Ma. Aku udah insyaf kok.

 

Roni tersenyum penuh arti. 


DISSOLVE TO:

37. ESTABLISHED — NIGHT 


Pemandangan kota Jakarta di malam hari dengan gedung gedung tinggi dan jalanan dihiasi lampu menyala di tiap sudut.


CUT TO:

38. INT. APARTEMEN — NIGHT 


Roni dan dua temannya sedang duduk santai di sofa. Di atas meja dipenuhi makanan dan minuman. Terdengar suara ketukan pintu.

 

RONI

Ger, coba lihat siapa? 

 

Geri beranjak dan berjalan menuju pintu. Sejenak dia mengintip lewat lubang kaca di pintu. BIG CLOSE UP: Tampak Ardan berdiri di depan pintu. 

 

GERI

Paket datang.

 

RONI

Suruh masuk.

 

Geri membuka pintu. Geri memberi gesture agar Ardan masuk. Ardan melangkah masuk dengan agak ragu. Geri menutup pintu. Mereka berjalan menemui Roni. 

 

RONI

Mana barangnya?

 

ARDAN

Bayar dulu.

 

Roni menoleh ke teman-temannya lalu tertawa terbahak-bahak. Ardan terdiam sambil menggerak gerakan kepalanya.

Roni bangkit dan merangkul Ardan.

 

RONI

Lo kayak nggak kenal gue aja. Gue jadi costumer lo udah setahun lebih. Lo nggak percaya gue?

 

Roni lalu menekan tangannya ke leher Ardan seperti orang mencekik. Ardan sesak nafas dan mencoba melepaskan pitingan Roni. Sementara kedua teman Roni malah tertawa.

 

ARDAN

(tergagap)

Gu... gue bu... kan nggak percaya... tapi... bos gue... nggak mau kecolongan lagi...

 

Roni melepaskan tangannya lalu melemparkan lembaran uang kertas ratusan ribu ke muka Ardan hingga jatuh berserakan di lantai.

Ardan merogoh saku celananya lalu serahkan plastik kecil berisi shabu. Roni menghempaskan badannya di sofa, mulai membuka bungkusan itu. 

Sementara Ardan memunguti uang yang berserakan di lantai. Roni iseng melempari Ardan dengan kulit kacang.

 

RONI

Idiot... lo emang pantas jadi anjing.

 

Roni tertawa diikuti teman-temannya. Ardan tak peduli dan buru-buru pergi.


CUT TO:


Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)