Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
KOMPLEKSITAS
Suka
Favorit
Bagikan
14. Dhoni dan Rasa Takut

-SAAT INI-

Dhoni masih berada di ruangan yang sama. Dian dan Tiara berada di sampingnya saat Dhoni tersadar.

[TIARA] (Memberikan air) Sudah sadar? Kamu baik-baik saja?

Dhoni bangun menerima dan meminum air tersebut.

[DIAN] Kamu kenapa? Abis ngelihat dua orang tadi, kamu.. (Tak melanjutkan) 

[TIARA] (Diam sebentar kemudian melanjutkan) Tadi kami dengar kamu bilang ’ayah, ibu’. Mereka berdua orang tuamu? Orang tua kandungmu?

Dhoni mengambil posisi duduk. Dhoni melihat mereka berdua dengan tatapan sedih dan menyesal. Dhoni menarik napas dan memberanikan diri.

[DHONI] Mungkin sudah saatnya aku cerita. Cerita tentang masa laluku.

[DHONI] Cerita tentang kenapa aku bisa jadi anti-sosial, tidak peka, dan tak mengerti emosi.

Dian dan Tiara pun mengambil posisi duduk mendengarkan dengan seksama cerita masa lalu Dhoni. Dari balik pintu ruangan, Paman dan Papa Tiara berdiri mendengar. Dhoni pun menceritakan masa lalunya yang memilukan. 

Sang Ibu yang hanya memperlakukannya sebagai penyetor uang. Sang Ayah yang memperlakukannya sebagai tempat pelampiasan kemarahan. Anak-anak seumurannya yang selalu mem-bully-nya. Orang-orang di lingkungan lamanya yang tidak peduli sama sekali. 

Tanpa disadari air mata menetes dari mata Dian dan Tiara. Dhoni pun ikut menangis mengingat masa lalunya. Sekarang mereka tahu kenapa Dhoni anti-sosial. Mereka tahu kenapa Dhoni tak suka berteman. Mereka tahu kenapa Dhoni tak mengerti emosi manusia. Dan, mereka juga tahu kenapa Dhoni tak mengetahui cinta.

Papa Tiara yang mendengar dari balik pintu, hanya memegang pundak Paman. Seolah berkata ’langkah bagus membawanya pergi dari sana’.

[DHONI] (Suara tersedu-sedu) Sampai sekarang, aku masih takut apakah aku akan mendapat perlakuan yang sama jika aku bertemu orang baru. 

[DHONI] Sampai sekarang juga, aku masih takut apakah aku tidak akan dipedulikan lagi. 

[DHONI] Sampai sekararang juga, aku takut apakah aku layak untuk dicintai. 

Kemudian, Papa Tiara masuk ke ruangan. 

[PAPA TIARA] Sudah. Sudah. Cerita lebih jauh lagi pun itu hanya akan melukai mentalmu.

[PAPA TIARA Lalu, untuk Tiara dan Dian. Kalian sebaiknya juga cepat istrihat kembali pulang. Saya yang ngaterin kalian berdua. 

[TIARA] (Mengusap air matanya) Terima kasih, Dhoni. Terima kasih sudah bercerita. Itulah yang kutunggu-tunggu dari dulu. 

[DIAN] Jangan takut lagi, Dhoni. Sekarang kamu punya kami di sini.

Dian dan Tiara diantar pulang oleh Papa Tiara. Sedang Dhoni ditinggal bersama Paman di kantor polisi.

[PAMAN] Setelah mendengar ada mereka di sini, Paman langsung meninggalkan lokasi syuting buat datang ke sini. 

[PAMAN] Mereka berdua masih belum dipindahkan ke pusat.

[PAMAN] Karena papanya Tiara dengar apa yang kamu bilang sebelum pingsan. Mereka masih ada di sini belum dipindahkajn ke pusat.

Dhoni nampak ketakutan mendengar hal tersebut.

[PAMAN] (Melihat Dhoni dengan tatapan serius) Bukankah sudah saatnya kamu meninggalkan masa lalu dan hadapi rasa takutmu?

Dhoni hanya melihat Paman tanpa berkata apa-apa. 

[PAMAN] Jika kamu masih terjerat masa lalu, kamu tidak akan pernah merasakan cinta. Dan, sampai kapan pun kamu takkan bisa menyempurnakan lagumu.

Dhoni tersentak dengan perkataan Paman. Tatapan Dhoni berubah. Memang sudah saatnya dia melupakan masa lalu dan menghadapi rasa takutnya.

[PAMAN] (Tersenyum) Itu baru semangat. Kita akan menemui mereka berdua.

Paman dan Dhoni menemui mereka berdua yang masih ditahan di kantor polisi tersebut. Ruang tempat mereka berdua ditahan tampak diawasi oleh petugas.

[AYAH] Katanya kami bakal dipindah malam ini. Kok malah masih di sini? 

[IBU] Kami mau ditanyai apa lagi, hah!? Bukannya kami udah cerita sampe mulut ini berbusa! 

[PETUGAS] Pesan dari kapten, kalian masih ditahan di sini karena ada orang yang mau nemuin kalian. 

[AYAH] Hah!? Siapa? Petugas interogasi lagi? Bukannya udah dibilangin kalo kamu udah cerita semua! Mau disuruh ngapain lagi, hah!?

Kemudian pintu diketuk. Petugas tersebut tampak mengecek, kemudian keluar. Lalu, Dhoni pun masuk. Tak seperti yang dipikirkan Dhoni, ia tak berani memandang mereka berdua. 

Ketakutan menguasai dirinya lagi. Dhoni bahkan tak bergerak dari pintu masuk.

[IBU] Keknya lu bukan anggota polisi, ya. Gemeteran gitu. (Tertawa) 

[AYAH] (Tertawa juga) Lu ketakutan ngeliat kita? Cemen amat. Jadi lu yang katanya mau nemuin kita? Siapa lu? Gue ga pernah ingat ketemu sama lu.

Ibu terhenti sejenak melihat Dhoni. Ibu melihat mata Dhoni dan menyadari sesuatu.

[IBU] Tunggu sebentar. Mata itu. Jangan-jangan lu- (Tak sempat menyelesaikan) 

[PAMAN] (Langsung masuk dan memotong omongan Ibu) Ya. Benar.

Ayah dan Ibu kaget bukan kepalang melihat Paman setelah sekian lama.

[AYAH] (Menunjuk Dhoni) Berarti.. Lu itu.. 

[PAMAN] Ini anak kalian. Dhoni. Anak yang kalian perlakukan secara kejam 12 tahun lalu.

Ekpresi Ayah dan Ibu bercampur aduk melihat Dhoni. Namun yang pasti ekspresi kebencian masih terlihat jelas di mata mereka berdua.

[IBU] Heh! Buat apa lu datang ke sini, hah!? Hidup lu udah enak kan sekarang! 

[AYAH] Kalian datang ke sini cuman buat menghina kami, hah!? Dasar ga punya perasaan!

Paman naik pitam mendengar omongan tersebut. 

[PAMAN] (Berjalan mendekat ke wajah Ayah) Lu bilang apa barusan? Justru lu yang ga punya perasaan, orang tua brengsek! 

[PAMAN] 12 tahun yang lalu, kalo gue ga bawa pergi Dhoni. Gue ga bisa bayangin apa yang bakal lu berdua lakuin sama dia. 

[PAMAN] Ini anak lu! Darah daging lu berdua! Dan, lu perlakuin dia udah kek bukan manusia. Bahkan lu ga peduli sama sekali sama anak lu. 

[PAMAN] Dan, sekarang lihat. Bahkan kelakuan kalian menjadi lebih biadab. Pengedar barang terlarang. Jauh di dalam diri lu berdua, lu berdua emang berengsek! 

[AYAH] Justru karena dia anak gue! Gue bebas ngelakuin apa saja! 

[PAMAN] Lu cuman pengen ngelampiasin apa yang dulu lu rasain ke anak ini, kan hah!? Hati lu emang udah busuk! Gue yakin Emak juga bakal nangis kalo tahu lu jadi orang berengsek kek gini! 

[PAMAN] (Melihat Ibu) Lu juga sebagai seorang ibu kenapa ga cegah suami lu. Harusnya lu ngelarang suami lu, bukannya ikut-ikutan!

[IBU] Emang kenapa, hah!? Gue juga ga ngarepin dia lahir. Kalo pun dia lahir, dia itu milik gue! Suka-suka gue dong mau ngapain dia! 

[PAMAN] Kalian emang pasangan yang cocok! Sama-sama berengsek! 

[IBU] Lagian bagus juga anak kurang ajar itu dibawa pergi. Semenjak anak itu ga ada, kehidupan kami jadi lebih baik.

[IBU] Kami jd banyak duit. Duit kami ngalir lancar. Seharusnya dari dulu gue ga ngelahirin anak kek lu! (Nunjuk Dhoni)

Paman yang dari tadi menahan amarah tak bisa menahan lebih lama lagi. Paman menampar Ibu dan memukul Ayah hingga mereka terjatuh.

[PAMAN] (Berteriak) Kalian memang iblis berwujud manusia. Dasar berengsek!

Dhoni hanya bisa terduduk di dekat pintu sambil menangis. Omongan mereka berdua sangat menyakitkan bagi Dhoni. Petugas polisi yang mendengar kegaduhan segera masuk dan menghentikan Paman. 

Paman dan Dhoni pun dibawa keluar untuk mencegah keributan lebih lanjut. Sebelum keluar, Paman meminta Dhoni untuk mengatakan sesuatu pada Ayah dan Ibu.

[PAMAN] Dhoni. Ga mau ngomong sesuatu sama orang tua berengsekmu itu? 

[DHONI] (Mengusap air mata dan menarik nafas) Aku beruntung dibawa pergi Paman. Aku beruntung dibesarkan Paman.

[DHONI] Aku beruntung bisa lepas dari kalian berdua. Kalian adalah orang tua paling buruk di dunia! 

[DHONI] Mulai sekarang aku tidak akan lagi hidup dengan rasa takut. Aku akan hidup dengan jalanku sendiri.

[DHONI] Aku tidak akan lagi terbelenggu masa lalu. Aku tidak takut lagi pada kalian berdua. Orang tuaku yang brengsek!

Paman pun tersenyum mendengar perkataan Dhoni. Paman dan Dhoni ditempatkan di ruangan yang lain.

Dhoni yang mendengar percakapan tadi, kembali menangis sesenggukan. Terjongkok. Paman pun hanya bisa mengelus-elus punggung Dhoni.

[DHONI] (Dengan suara tersedu-sedu) Aku tak pernah berpikir bahwa mereka benar-benar tak menginginkan aku, Paman. 

[PAMAN] (Memeluk Dhoni) Mungkin Paman yang salah. Seharusnya Paman tidak memaksamu menemui mereka.

[PAMAN] Tapi, Paman bangga dengan kamu. Kamu sudah bisa melawan rasa takutmu dan melepas masa lalumu. 

[PAMAN] (Menarik dan memegang wajah Dhoni) Jika kamu bilang tak ada yang menginginkanmu. Itu salah besar. Salah besar. 

[PAMAN] (Kembali memeluk Dhoni) Bukankah sudah Paman bilang. paman mencintaimu. Sampai kapan pun. Dan, pasti ada juga yang mencintaimu. Kamu hanya perlu menyadarinya.

Paman dan Dhoni berpelukan seperti saat di pasar malam. Dhoni pun merasakan cinta untuk pertama kalinya. Dia sadar bahwa selama ini Paman memang benar-benar mencintainya. 

Semua kenangan indah yang selama ini Dhoni rasakan, tiba-tiba muncul. Pikirannya dipenuhi oleh banyak kenangan indah yang tampaknya ia lupakan. Dari semua kenangan indah tersebut, Dhoni menyadari sesuatu.

[DHONI] (Melepas pelukan Paman) Aku tahu, Paman! Aku tahu! Aku bisa menyempurnakan laguku. Aku juga tahu... (Tak melanjutkan, langsung berdiri)

Paman tak bertanya apa kelanjutan kalimat Dhoni. Paman hanya tersenyum melihat Dhoni berhasil menemukan kepingan musiknya.

[PAMAN] Kalau begitu, cepatlah sempurnakan lagumu.

Dhoni akhirnya bisa menemukan apa yang kurang dari lagunya. Beberapa hari kemudian, Dhoni berhasil menyempurnakan lagunya. Seminggu sebelum kontes berlangsung.

Bagikan
Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Tidak ada komentar