Halaman Author
Kontrol semua karyamu pada halaman author, kamu bisa memublikasikan karya baru atau mengatur karyamu dengan mudah dalam satu tempat.
Buih Pikiran
Suka
Favorit
Bagikan
10. Musim 1 Episode 8: Mimpi

TITLE CARD:

Mimpi.

Text:

Seluruh scene bergaya film bisu dengan visualisasi seperti di alam mimpi.

FADE IN:

EXT. JALAN RAYA PERKOTAAN YANG RAMAI - SIANG

Lukman menggendong tas, berseragam SMA, bersama dua temannya, A (15 tahun) seseorang berambut spike memakai pakaian kasual dan bercela pendek, ia melahap batagor dalam wadah plastik, B (17 tahun) teman satunya juga bercelana pendek, memakai kaos putih, membawa kantong kresek berisi keyboard pc, B menggoyangkan kantong kresek berisi keyboard pc ke kiri dan ke kanan dengan gesture santai. Mereka bertiga berjalan di trotoar jalan raya yang ramai oleh kendaraan.

Lukman dan A memperingatkan B supaya tidak menggoyang-goyangkan keyboard.

Lukman dan A berhenti, B yang berjalan di depan mereka juga berhenti dan melihat ke belakang, ia ikut berhenti karena Lukman dan A berhenti.

Lukman menunjuk keyboard, A berkacak pinggang sambil melotot.

Title Card:

Jangan digoyangin keyboad pc nya.

B mengangguk, mereka lanjut jalan. Kendaraan berhenti karena lampu merah, Lukman, A dan B menyebrang di zebra cross, Lukman, A dan B menyebrang jalan dengan sangat sanntai.

Sekitar 3 menit mereka berjalan di jalan raya yang ramai dengan kendaraan.

Lukman, A dan B melewati pasar pinggir jalan, seorang bapak-bapak menutupi dagangan makanannya, bapak-bapak tersebut duduk sambil mengipas-ngipas dirinya. Seorang pemuda sedang merapikan buku-buku dan majalah-majalah bekas yang ia jual, seorang nenek-nenek tua bengong, ia menunggui dagangan kue lupis yang ia tutup dengan daun pisang besar.

Mereka terus berjalan, mereka melewati mall yang dari luar terlihat sangat ramai, satpam mall tersebut sedang mengatur lalu lalang kendaraan yang akan masuk ke mall.

Lukman, A dan B berhenti di depan sebuah rumah kuno bergaya belanda, Diman (32 tahun) mendekati dan menyapa mereka dengan gestur bicara sambil tersenyum dan ramah.

Title Card:

Sudah ditunggu. Ayo, pada masuk.

Lukman, A dan B masuk ke rumah kuno dengan gaya belanda dipandu oleh Diman.

INT. RUMAH BERGAYA BELANDA - RUANG TAMU - SIANG

Lukman dan A duduk-duduk santai, tingkah mereka seperti anak kecil yang melihat suasana rumah. B sibuk melihat-lihat dan memegang barang-barang yang ada di dalam rumah.

Sebuah kereta-keretaan yang tergeletak di lantai ia mainkan, A memanggil-manggil B, B menengok, Lukman menunjukkan gesture meletakkan jari di bibirnya, B terdiam dan meletakkan mainan kereta-keretaan di tempat semula.

Title Card 1:

Hei! Hei! Jangan dimainin sama kamu!

Title Card 2:

Mainan mahal itu.

Paijo (28 tahun), asisten rumah tangga datang, ia menyambut Lukman, A dan B dengan ramah dan gesture tanda jempol, Lukman kemudian bertanya,

Title Card:

Apakah sekarang mainannya boleh dimainin?

B dengan wajah sumringah bertanya,

Title Card:

Juga kereta-keretaannya?

Paijo menggangguk sambil tersenyum kemudian berlalu pergi dari ruang tamu.

Lukman, A dan B pun memainkan banyak mainan yang ada di ruang tamu, gaya dan tingkah mereka seperti anak kecil, Lukman menunjukkan gestur mengadu mainan binatang buaya dan macan dengan kedua tangannya, A memainkan mobil-mobilan mini sedang berjalan di lantai dengan tangannya, B sibuk memainkan kereta-keretaan, dari gaya mulutnya penonton bisa melihat ia berkata:

Title Card:

Tut...Tut...Tut.

SPLIT SCENE: MEREKA TERUS BERMAIN, RANGKAIAN SHOT KETIKA MEREKA BERMAIN DAPAT PENONTON LIHAT DENGAN JAM YANG BERPIUTAR DENGAN CEPAT DARI JAM 2 SIANG SAMPAI JAM 4 SORE.

JUMP CUT TO:

Lina (59 tahun) dan Wong (62 tahun) memanggil Lukman, A dan B yang sedang sibuk bermain, mereka memanggil di pintu masuk ruang tamu, Albert (44 tahun) berdiri di belakang mereka.

Lina menuntun Elis (85 tahun), nenek gemuk dengan dandanan glamor. Ia membawa kipas.

Lina kemudian berlalu sambil menuntun Elis.

Sambil menuntun ia berkata,

Title Card:

Ayo, ibu. Istirahat di kamar. Nanti saya suruh Paijo buatin Cokelat hangat buat ibu

Elis berhenti kemudian duduk di kursi ruang tengah, kursinya terbuat dari kayu mahoni. Elis mengipasi diri dengan kipas yang dibawanya.

Lina terlihat memprotes aksi ibunya. Ia mengomel,

Title Card:

Mama Elis istirahatnya jangan disini. Di kamar.

B menyerahkan tas kresek berisi keyboard PC pada Albert, Lukman menyerahkan tas yang ia gendong pada Wong. Wong menepuk-nepuk pundak Lukman, dengan gestur ramah dan tertawa ia berkata,

Title Card:

Tunggu sebentar.

Wong nampak memerintahkan sesuatu pada Albert, Albert masuk ke dalam kemudian menyerahkan uang masing-masing 500 ribu rupiah dan uangnya uang mainan pada Lukman, A dan B.

Toni (92 tahun), terlihat muda tapi menggunakan tongkat membuka pintu, ia masuk, berjalan dan menghampiri Elis.

Lina mengadu pada Toni,

Title Card:

Papa Toni. Mama Elis gak mau istirahat di kamar.

Toni terlihat membujuk Elis, kemudian Elis berkata,

Title Card:

Badan ku pegel-pegel, pih. Pengen ada yang mijetin.

Toni terdiam, ia nampak berpikir dengan menaruh tangan di dagunya.

Title Card:

Wah. Pak Andre, tukang pijet lagi mudik ke kampungnya.

Dengan gestur seperti mendapatkan ide Lina berkata,

Title Card:

Biar anak-anak aja yang pijetin, Pa.

Dengan gestur setuju Toni berkata,

Title Card:

Aku ceritain dongeng ke mereka pas mijet. Supaya mereka gak bosen.

JUMP CUT TO:

Lukman dan A serta B memijati Elis yang duduk bersandar dengan rileks di sofa hitam besar. Toni duduk di kursi kayu kecil. Dengan semangat ia mendongeng.

Title Card:

Dan anak perempuan kecil itu masuk ke rumah, didapati ia tak mendapati neneknya, tapi seekor serigala...

CUT TO:

EXT. JALAN RAYA PERKOTAAN YANG RAMAI - SORE

Lukman, A serta B berjalan santai, mereka bercakap-cakap dan wajah mereka ceria, mereka sampai di persimpangan, mereka berhenti sejenak lalu saling melambaikan tangan, Lukman ke arah barat daya, A ke arah utara dan B ke arah timur. Lukman lanjut jalan dengan gestur ceria, kamera menshotnya dari belakang. Lama-lama gambar memudar, hanya frame hitam dan Lukman yang berjalan yang dilihat oleh penonton, kemudian gambar seluruhnya gelap.

DISSOLVE:

EXT. DI DEPAN RUMAH BEBAS - SORE

Gambar layar yang gelap kemudian perlahan-lahan mulai terang, Andi (25 tahun) pemuda jamet sedang menghitung uang, ia juga memegang tiket, dua orang anak mencoleknya kemudian memberi Andi uang 100 ribu rupiah, dan uangnya uang mainan.

Lukman ikut mendekat, memberi uang yang merupakan uang mainan sebesar 200 ribu rupiah pada Andi. Lukman kemudian diberi tiket masuk oleh Andi.

Total shot pada rumah bebas, rumah tersebut selayaknya rumah kosong yang bobrok dengan jendela dimana-mana dan jendelanya pecah, rumah tersebut juga berdebu dan terdapat jaring laba-laba dimana-mana, terlihat pula di pojokan seekor tokek yang sedang mengunyah anak laba-laba hitam.

Fokus pada Lukman yang meregangkan otot-ototnya yang berniat masuk ke rumah bebas, dan beberapa remaja putri yang membayar pada Andi dan mendapat tiket kemudian mengantri di belakang Lukman.

Lukman pun masuk ke dalam melalui salah satu jendela yang pecah.

INT. RUMAH BEBAS - SORE

Saat sudah di dalam, ketika setengah badan Lukman sudah masuk dengan raut ceria Lukman berkata,

Title Card:

Sudah bayar mahal ke Bang Andi. Semoga memuaskan.

Di dalam banyak remaja yang sedang bermain, ada yang bermain kartu remi, ada yang bermain keyboard, ada yang sedang bermain skate, ada juga dua gadis yang saling berpegangan tangan bermain sepatu roda. mereka bersepeda roda seperti atlet sepatu roda yang sudah ahli.

Dua gadis berusia sekitar 12 dan 13 tahun sedang bermain congklak, teman-teman mereka terlihat menyemangati serta menyoraki.

Kemudian terdengar suara memanggil-manggil Lukman.

Title Card 1:

Lukman! Lukman!

Title Card 2:

Uhuk Uhuk... Lukman! Lukman!

Lukman menengok ke kanan dan kiri serta atas dan bawah, kemudian Lukman melihat sebuah pohon dimana diatasnya ada sebuah rumah-rumahan dari kayu.

Lukman menatap ke rumah-rumahan tersebut kemudian beberapa pemuda menyorakinya dan memintanya masuk.

Title Card 1:

Masuk! Masuk!

Title Card 2:

Kamu bisa masuk! Masuk ke rumah! Masuk ke rumah!

Title Card 3:

Ayo masuk ke dalam dan naiki tangganya dulu. Kamu bisa, Bang Lukman!

Lukman pun mendekat, ia menaiki tangga, Lukman terus menaiki tangga tersebut dan,

EXT. LANGIT - SORE

Lukman terus menaiki tangga, Lukman melihat ke bawah, ia tidak sampai-sampai, ia sudah ada di langit yang tinggi, Lukman gemetaran. Dari bawah teman-temannya menyemangati dari bawah sambil melihat ke arah langit,

Title Card 1:

Ayo Bang Lukman kamu bisa ke atas!

Title Card 2:

Kami dukung kamu selalu, Bang Lukman!

Kemudian Lukman melihat Lubang dari kayu di langit yang agak tertutupi oleh awan, Lukman pun masuk ke lubang tersebut, dan,

INT. RUMAH-RUMAHAN DI LANGIT - SORE

Lukman muncul dari sebuah lubang, seorang pria (49 tahun) sedang mengipasi dirinya dan rebahan di lantai dengan kain sarung sebagai alasnya, pria tersebut bertelanjang dada, tubuhnya gemuk, perutnya buncit.

Title Card:

Sudah datang kamu, Man.

Lukman membalas ia berkata,

Title Card:

Iya, pah.

Sambil berusaha duduk pria tersebut berkata,

Title Card:

Ambilkan minyak urut di tempat biasa, Man.

Lukman mengambil minyak urut lalu memijat-mijat pria tersebut.

Kemudian sambil meregangkan otot kepalanya yang tegang pria tersebut berkata,

Title Card 1:

Pemborong Tionghoa itu ngotot banget tanah yang sekarang rumah kita bakal ikut jadi wilayah mall nya, Man.

Title Card 2:

Kita bakal digusur.

Title Card 3:

Apa temen kamu serius jadi beli rumah ini, Man?

Title Card 4:

Padahal rumah mau digusur, lho.

Seorang wanita ramping tinggi dengan potogan rambut bondol (44 tahun) dan seorang gadis kecil yang memakai seragam pramuka (9 tahun) muncul. Lukman meledek dan mengajak gadis kecil tersebut bercanda, tapi gadis kecil tersebut diam saja.

Lalu dengan raut yang tiba-tiba serius berkata,

Title Card 1:

Kamu di kantor polisi sama ibu berjam-jam, ya?

Title Card 2:

Gak takut sama polisinya? Kamu ditanya apa aja?

Gadis kecil itu masih diam.

Lalu wanita tinggi ramping dengan potongan rambut bondol berkata pada Lukman,

Title Card 1:

Dia anteng di kantor polisi, duduk tenang.

Title card 2:

Gak kayak kamu, di kantor polisi nangis, minta pulang.

Lukman cengengesan sambil garuk-garuk kepala.

Hape Lukman menyala, sebuah pesan Wa masuk, nampak Lila (19 tahun) yang chat, wajahnya sama persis seperti Laila Jkt48 hanya saja Lila adalah pria. Lukman membuka pesan whatsapp yang merupakan pesan suara, dan intertitles menunjukkan pesan bahasa jawa:

Title Card:

Kyeh aku minat umahmu, tapi umahmu dibeneri disit atape, wong tuaku khawatir lagi turu ambruk.

Lalu muncul intertitles susulan dimana intertitle sebelumnya memudar dan digantikan dengan intertitles baru,

Title Card:

Yang artinya:

Nih, aku minat rumahmu, tapi rumahmu atapnya dibenerin dulu, orang tuaku khawatir lagi tidur atapnya ambruk.

Tiba-tiba telepon berdering. Nampak Lila yang menelepon via whatsapp.

Title Card:

"Kring Kring"

Kamera Zoom-In perlahan foto profil Lila di whatsapp. Dan,

INT. PUSAT KOTA - SORE

Saat Zoom-Out foto Lila ada di televisi kuno era 80an, di beberapa televisi LED, di beberapa laptop. Barang-barang tersebut terdapat di sebuah toko elektronik.

Kamera menyorot seluruh pusat kota, foto Lila ada dimana-mana dimana toko elektronik terlihat jelas berada dimana-mana, Lukman berjalan di pusat kota. Lukman berjalan diiringi foto Lila yang ada dimana-mana.

Perlahan-lahan foto Lila berubah menjadi foto Laila Jkt48 ketika Lukman melewati sebuah toko elektronik.

Semua toko elektronik yang memperlihatkan wajah Lila langsung berubah menjadi foto Laila Jkt48 ketika Lukman melewatinya.

Lukman berjalan penuh percaya diri dengan langkah yang ceria. Saat berjalan Lukman diikuti seekor kucing hitam yang berbulu amat lebat dan agak abu-abu, dua ekor anak kucing berwarna abu-abu dan berwarna putih serta satu ekor kucing oren.

Lalu terdengar suara lagu Happy Xmas (War is Over) dari John Lennon dan Yoko Ono, kamera makin memperluas pandangannya dan kita bisa melihat video klip John Lennon dan Yoko Ono yang membawakan lagu Happy Xmas (War is Over) di sebuah papan klip raksasa.

Kemudian sampai bagian Yoko Ono dan Choir bernyanyi kredit title pun muncul.

Anda harus login atau daftar untuk mengirimkan komentar
Komentar (0)